KANISIUS

KANISIUS
Gedung Baru Kolese Kanisius

Selasa, 11 Maret 2014

Minggu, 02 Maret 2014

SERBA SERBI



Mengidentifikasi Ide Pokok Paragraf

Ide pokok adalah pikiran utama dari suatu pemahaman/penjelasan yang bersifat konkret yang dinyatakan secara ringkas yang menjadi isi dari suatu topik yang dibahas.

Merangkum Isi Bacaan dengan Kalimat yang Efektif

            Pada saat berdebat, berdiskusi, dan lain sebagainya, terkadang kita membutuhkan referensi untuk mendukung argument atau uraian pikiran yang disampaikan. Referensi atau rujukan informasi itu bisa berupa berita, laporan, surat, makalah dan tulisan lainnya. Pada saat menyampaikan rujukan itu, kita cukup menyampaikan rangkuman dari naskah asli. Untuk itu, kita harus mampu membuat rangkuman untuk menunjang kegiatan diskusi yang akan kita lakukan.
            Rangkuman merupakan tulisan ringkas yang isinya mencakup seluruh unsur – unsure penting / pokok dari teks sumber rangkuman, Berbeda dengan ringkasan dan synopsis rangkuman ditulis dengan dengan menggunakan kata-kata perangkum
            Beberapa hal penting untuk diperhatikan dalam merangkum adalah sebagai berikut :
1.      Mencakup seluruh gagasan pokok/penting yang terdapat dalam naskah asli
2.      tidak menuliskan kembali ilustrasi, contoh, dan rincian penjelas
3.      Menggunakan sudut pandang dan kata-kata perangkum
4.      Tidak mengubah sistematika isi karangan asli
5.      Tidak melebihi sepertiga dari panjang karangan yang dirangkum.

Cara membuat rangkuman dapat dilakukan dengan menggunakan kata-kata tanya
panduan, yaitu 5W+1H, atau dengan bertolak dari kata-kata kunci yang terdapat dalam naskah.

Diskusi

Proses diskusi akan berjalan secara efektif jika peserta menyadari haikat diskusi dan memegang teguh prinsip-prinsip pelaksanaan diskusi.Berikut ini beberapa prinsip berdiskusi  yang harus diperhatikan.
1.      Diskusi merupakan forum ilmiah untuk bertukar pikiran dan wawasan dalam menyikapi suatu permasalahan yang dihadapi bersama. Diskusi bukan forum untuk berbagi pengalaman, perasaan, kepentingan , atau ilmu kepintaran.
2.      Dalam diskusi, harus terjadi dialog atau komunikasi intelektual dan ilmiah. Dalam hal ini, harus dijauhkan unsure emosional dan mengabaikan kedekatan hubungan personal sehingga terlahir pemikiran-pemikiran yang rasional dan obyektif.
3.      Diskusi merupakan forum resmi, formal, dan terbuka. Oleh karena itu, proses komunikasi menggunakan bahasa nasional yang baku sehingga dapat dipahami semua kalangan dengan baik. Diskusi bukan forum kekeluargaan yang ditujukan pada kelompok terbatas.
4.      Diskusi berlangsung dalam situasi yang tertib, teratur, dan terarah serta bertujuan jelas. Oleh karena itu, diperlukan adanya perangkat dan instrument pendukung seperti ketua.moderator, notulis, dan tata tertib.

Proses diskusi dikatakan hidup dan sehat jika seluruh peserta terlibah secara aktif dengan mengikuti tatanan yang ada. Sebaliknya, akan dikatakan tidak sehat jika proses bertukar pikiran didominasi oleh satu atau dua pikiran saja. Inti dari kegiatan diskusi adalah terjadi proses bertukar pikiran antar peserta diskusi.

Cerpen

Aliran dalam cerpen :
1.      Realisme yang menggunakan keadaan yang sesungguhnya
2.      Romantisme yang menggunakan perasaan/intuisi untuk menggunakan rahasia alam
3.      Naturalisme yang melukiskan kehidupan manusia secara gamblang blak-blakan
4.      Absurdisme yang menyajikan kisah hidup yang tak terpahami atau nisbi
5.      Impresionisme yang melukiskan suatu kejadian dan spontan sehingga banyak hal tak terduga

Langkah-langkah menulis cerpen :
1.      Menentukan tema cerpen
2.      Mengumpulkan data-data, keterangan, informasi, dokumen yang terkait dengan peristiwa/pengalaman yang menjadi sumber inspirasi cerita
3.      Menentukan garis besar alur atau plot cerita. Secara bersamaan dengan tahap ini, menciptakan tokoh dan menentukan latar cerita.
4.      Menetapkan titik pusat kisahan atau sudut pandang pengarang.
5.      Mengembangkan garis besar cerita menjadi cerita utuh
6.      Memeriksa ejaan, diksi, dan unsur-unsur kebahasaan lain serta memperbaikinya jika terdapat kekeliruan.

Puisi

Ada 3 hal penting yang harus selalu diperhatikan pada saat membacakan puisi, yaitu lafal, intonasi dan ekspresi.
1.      Lafal (artikulasi) berkaitan dengan pengucapan kata-kata. Pengucapan kata-kata bahasa Indonesia selama ini kerap dipengaruhi oleh pengucapan bahasa daerah. Hal ini harus dihindari karena akan merusak keindahan puisi yang dibacakan. Pengucapan kata-kata harus tepat dan dijaga kemurniannya dari aksen atau logat daerah tertentu. Artikulasi atau cara pengucapan ini erat kaitannya dengan intonasi atau lagu kalimat
2.      Intonasi atau lagu kalimat berkaitan dengan ketepatan dalam menentukan keras-lemahnya pengucapan suatu kata. Intonasi dan artikulasi sangat berkaitan dengan irama. Irama merupakan unsure sangat penting dan jiwa dari sebuah puisi. Irama adalah totalitas dari tinggi rendah, keras lembut, dan panjang pendek suara. Irama puisi tercipta dengan melakukan intonasi. Ada 3 jenis intonasi dalam pembacaan puisi yaitu sebagai berikut :
·         Intonasi dinamik, yaitu tekanan pada kata-kata yang dianggap penting
·         Intonasi nada, yaitu tekanan tinggi rendahnya suara. Suara tinggi menggambarkan keriangan, marah, takjub dan lain sebagainya. Sementara, suara rendah mengungkapkan kesedihan, pasrah, ragu, putus asa dan lain sebagainya
·         Intonasi tempo, yaitu cepat lambat pengucapakn suku kata atau kata
3.      Ekspresi ialah pernyataan perasaan hasil penjiwaan isi puisi. Penjiwaan puisi dapat dilakukan jika pembaca mampu menginterpretasikan makna puisi secara tepat. Apabila penafsiran maknanya keliru, penjiwaannya pasti juga akan tidak mengena. Penjiwaan isi puisi terungkat lewat mimik serta kinesik. Ekspresi yang baik harus dilakukan dengan wajar dan tidak berlebihan.

Surat Dinas

Jenis-jenis surat dinas :
1.      Surat Permohonan
Surat permohonan berisi permohonan atau permintaan sesuatu kepada pihak lain. Pokok-pokok surat :
·         Identitas pemohon
·         Isi permohonan
·         Tujuan dan alasan memohon
·         Batas waktu maksimal untuk menjawab permohonan
·         Pernyataan kesungguhan dalam memohon
2.      Surat Pemberitahuan
Surat pemberitahuan berisi suatu pengumuman atau sosialisasi informasi baru yang perlu diketahui oleh pihak lain yang terikat. Surat ini sifatnya hanya mengabarkan suatu berita sehingga tidak perlu untuk ditanggapi dalam bentuk surat. Sistematika adalah :
·         Bagian pembuka, berisi masalah pokok surat.
·         Bagian isi, berisi rincian, uraian, keterangan, atau penjelasan dari masalah pokok yang akan diberitahukan
·         Bagian penutup, berisi harapan agar pihak yang dituju memaklumi hal yang disampaikan

3.      Surat Keterangan
Surat keterangan berisi keterangan resmi tentang status/kondisi seseorang atau abrang yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang. Dalam surat ini, harus disebutkan :
·         Data pribadi dan jabatan pihak yang membuat keterangan
·         Data pribadi pihak yang diterangkan
·         Isi keterangan
·         Keterangan tanggal berlakunya surat
·         Pernyataan bahwa keterangan yang dibuat adalah benar

4.       Memo dan Nota Dinas
Memo merupakan singkatan dari kata memorandum yang berasal dari kata memory yang berarti ingatan. Istilah nota berasal dari kata note yang berarti catatan. Memo atau nota dinas adalah surat khusus yang dipakai antar pejabat di lingkungan suatu lembaga. Pemakaian memo tersebut berbeda dengan memo pribadi.
      Memo pribadi dipakai oleh perseorangan dan dapat dikirim kepada siapa saja asal orang yang dituju sudah kenal baik dengan pengirim memo pribadi itu.

Kemahiran  Berbahasa
Yang dimaksud dengan kemahiran berbahasa disini ialah kesanggupan seseorang menggunakan bahasa dalam berkominikasi. Jika seseorang mempunyai kemampuan menggunakan bahan untuk menyampaikan pikiran dan perasaannya secara efektif dan efisien kepada orang lain, dan dia sanggup pula memahami amanat yang disampaikan oleh orang lain kepadanya melalui bahasa, berarti orang tersebut mempunyai kemahiran berbahasa.
Kemahiran berbahasa meliputi kemahiran berbicara, mendengar, menulis, dan membaca. Sehubungan dengan hal tersebut, dalam bab ini akan kita bicarakan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kalimat efektif, alinea atau paragraf, ragam karangan ilmiah, diskusi dengan segala ragamnya, serta tipe pemimpin dan peserta diskusi yang dianggap baik.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis, serta sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis.
Kalimat efektif mudah ditangkap dan mudah dipahami, dan mempunyai potensi untuk tampil lebih hidup dan lebih segar.
Syarat kalimat efektif :
  1. Dilihat dari segi pembicara atau penulis, kalimat efektif menghendaki syarat berupa penguasaan kaidah sintaksis (tata kalimat) dan beberapa aspek kebahasaan esensial lainnya, antara lain penguasaan secara aktif sejumlah besar kosa kata (perbendaharaan kata) dan kemampuan menemukan gaya yang paling cocok untuk mengungkapkan atau menyampaikan gagasan.
  2. Dilihat dari segi kalimat itu sendiri, kalimat efektif menghendaki syarat sebagai berikut:
    1. kesatuan gagasan yang jelas (kesatuan)
    2. koherensi yang baik dan kompak (kepaduan)
    3. penekanan yang wajar
    4. paralelisme (kesejajaran)
    5. logika (penalaran)
    6. variasi (keanekaragaman)
Kesatuan gagasan sebuah kalimat akan terwujud dengan baik apabila fungsi-fungsi ( jabatan-jabatan ) kalimat jelas. Untuk mewujudkan fungsi-fungsi kalimat yang jelas diperlukan:
  1. kecermatan penggunaan kata tugas,
  2. ketetapan pemakaian kata,
  3. kecermatan penggabungan dua buah konstruksi atau lebih guna menghindari kontaminasi (kerancuan),dan
  4. Ketepatan makna kalimat dengan menghindari kemungkinan penafsiran ganda.
Perhatikan contoh berikut!
(1.a)
Di desa-desa sudah banyak memiliki posyandu. (salah)
(1.b)
Desa-desa sudah banyak memiliki posyandu. (benar)
(2.a)
Bagi yang berminat mengikuti lomba ini diharap segera menghubungi panitia. (salah)
(2.b)
Yang berminat mengikuti lomba ini harap segera menghubungi panitia. (benar)
(3.a)
Jalan layang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan. (salah)
(3.b)
Jalan layang mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraan. (benar)
(3.c)
Jalan layang dibuat untuk mengatasi kemacetan lalu lintas kendaraaan. (benar)
Koherensi atau perpautan adalah hubungan timbal balik antar unsur yang membangun kalimat. Koherensi dapat terwujud dengan tata urutan kata atau kelompok kata yang tepat dalam sebuah kalimat.

Perhatikan contoh berikut!
(7.a)
Tarmudi meninggalkan Surabaya bersama anak dan istrinya. (salah)
(7.b)
Tarmudi bersama anak dan istrinya meninggalkan Surabaya. (benar)
(8.a)
Kakek saya menikmati dengan sepuas-puasnya tadi pagi teh manis buatan ibu saya. (salah)
(8.b)
Tadi pagi kakek saya menikmati teh manis buatan ibu saya dengan sepuas-puasnya. (benar)
Koherensi akan rusak oleh kesalahan penggunam kata tugas, pemakaian kata yang maknanya tumpang-tindih, pemakaian kata-kata yang maknanya kontradiktif, dan kesalahan penempatan keterangan aspek.

Perhatikan contoh berikut!
(9.a)
Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan bagi nama baik keluarga dan dirinya. (salah)
(9.b)
Perbuatannya itu hanya akan mencemarkan nama baik keluarga dan dirinya sendiri. (benar)
(10.a)
Banyak para pengamat berpendapat bahwa meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik guna menyukseskan pemilu mendatang. (salah)
(10.b)
Banyak pengamat berpendapat bahwa meliburkan anak sekolah bukan cara terbaik guna menyukseskan pemilu mendatang. (benar)
(11.a)
Sering kita membuat suatu kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. (salah)
(11.b)
Kita sering membuat kesalahan-kesalahan yang tidak kita sadari. (benar)
Penekanan yang wajar dapat dilakukan dengan jalan membubuhkan partikel penekan, mempergunakan repetisi, membuat pertentangan, dan menambahkan kata yang maknanya menyangatkan.

Perhatikan contoh berikut!
(14.a)
Pergi dia mengikuti kehendak hatinya.
(14.b)
Pergilah dia mengikuti kehendak hatinya.
(15.a)
Kamu suka kepadanya, aku suka kepadanya.
(15.b)
Kamu suka kepadanya, aku pun suka kepadanya.
(16.a)
Harapan kita begitu.
(16.b)
Harapanmu begitu, harapanku juga begitu, harapan kita memang begitu.

Paralelisme atau kesejajaran sangat penting artinya bagi kejelasan kalimat. Paralelisme diperlukan dalam kalimat-kalimat yang mengandung rincian. Untuk mewujudkan adanya kesejajaran, kata-kata yang merupakan rincian atas salah satu fungsi kalimat hendaknya dinyatakan dalam bentuk yang sama atau sejajar.

Perhatikan contoh berikut!
(19.a)
Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian, penambahan partikel, menggarisbawahi kata tersebut, atau mengulang kata yang sama. (salah)
(19.b)
Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah pemutasian, penambahan partikel, penggarisbawahan kata tersebut, atau pengulangan kata yang sama. (benar)
(19.c)
Cara menegaskan atau mementingkan sebuah kata dalam kalimat ialah menggarisbawahi kata tersebut, mengulang kata yang sama, memutasikan, atau menambahkan partikel penekan. (benar)
(20.a)
Proyek raksasa itu membutuhkan dana yang besar, waktu yang lama, dan keterampilan para pekerjanya. (salah)
(20.b)
Proyek raksasa itu membutuhkan dana yang besar, waktu yang lama, dan para pekerja yang terampil. (benar)

Kalimat yang efektif adalah kalimat yang memperlihatkan logika yang balk. Logika atau penalaran adalah proses berpikir yang baik dan teratur. Sebuah kalimat yang tidak menunjukkan keteraturan berpikir penuturnya adalah kalimat yang tidak efektif
Perhatikan contoh berikut!
(21.a)
Tina memang pandai menari, tetapi mendung yang hitam itu membuat orang ragu-ragu untuk bepergian. (salah)
(21.b)
Tina memang pandai menari, tetapi ia tidak menjadi sombong karena kepandaiannya itu. (benar)
(21.c)
Biasanya pada hari libur banyak orang bepergian, tetapi mendung yang hitam ini membuat orang ragu-ragu untuk bepergian. (benar)
(22.a)
Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu orang lebih. (salah)
(22.b)
Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa hampir mencapai seratus dua puluh ribu orang. (benar)
(22.c)
Pengunjung pergelaran musik Kantata Takwa mencapai seratus dua puluh ribu orang lebih. (benar)

Variasi sangat penting artinya dalam karangan yang panjang. Sebuah karangan yang monoton akan membosankan pembaca. Bila pembaca menjadi bosan dengan kalimat-kalimat yang kurang variatif, berarti secara keseluruhan karangan tersebut tidak efektif.
Variasi dalam sebuah karangan dapat berupa variasi panjang-pendek kalimat, variasi bentuk kalimat, variasi bentuk predikat, variasi pilihan kata, dan sebagainya.

Perhatikan contoh berikut!
(23.a)
Selesai mengerjakan PR, lalu Andi membaca majalah, lain menggunting artikel yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada sehelai kain. (salah)
(23.b)
Setelah selesai mengerjakan PR, Andi membaca majalah, kemudian menggunting artikel yang menarik, lalu menempelkan guntingan itu pada sehelai kertas. (benar)
Biasanya karangan dibedakan atas karangan fiktif dan karangan faktual. Yang pertama disebut fiksi, sedang yang kedua dinamakan nonfiksi. Fiksi umumnya hanya mengetengahkan hasil rekaan atau imajinasi atau khayal pengarang. Imajinasi tersebut sering pula didasarkan pada peristiwa sehari-hari sehingga ada kemungkinan dapat terjadi. Sebaliknya karangan nonfiksi menyajikan peristiwa secara apa adanya atau secara objektif. Bahasa fiksi biasanya bersifat konotatif dan subjektif, bahasa nonfiksi cenderung objektif dan denotatif.
Termasuk karangan fiktif ialah roman, novel, cerpen, kisah perjalanan, legenda, fabel, mite, dan hikayat. Sedang contoh karangan nonfiktif dapat kita kemukakan misalnya, resensi, skripsi, tesis, desertasi, laporan, paper atau makalah, yang semuanya termasuk karangan ilmiah
Yang dimaksud karangan ilmiah ialah karangan yang mengungkapkan buah pikiran hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu, dan yang isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan.
Cirt-ciri Karangan Ilmiah:
(1)
logis, maksudnya semua keterangan yang diketengahkan mempunyai alasan yang dapat diterima akal
(2)
sistematis, yaitu semua yang dipaparkan disusun dalam urutan yang berkesinambungan
(3)
objektif atau faktual, artinya keterangan yang dikemukakan didasarkan pada apa yang benar-benar ada atau sesuai dengan fakta
(4)
teruji, artinya keterangan yang diberikan dapat diuji kebenarannya, dan ;
(5)
bahasanya bersifat lugas atau denotatif.
Syarat-syarat Karangan Ilmiah:
(1)
mengandung masalah serta pemecahannya
(2)
masalah harus merangsang atau menarik perhatian pembaca
(3)
lengkap dan tuntas, artinya membeberkan semua segi yang berkaitan dengan masalahnya
(4)
disusun menurut sistem tertentu dan metode tertentu sehingga mudah dimengerti dan dipahami.
Yang tergolong karangan ilmiah antara lain:
(1)
Laporan ialah bentuk karangan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Laporan ini disampaikan dengan cara seobjektif mungkin.
(2)
Makalah ditulis oleh siswa atau mahasiswa sehubungan dengan tugas dalam bidang studi tertentu. Makalah dapat berupa hasil pembahasan buku atau hasil suatu pengamatan.
(3)
Kertas kerja adalah karangan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar, simposium, dan sebagainya.
(4)
Skripsi, karya tulis yang diajukan untuk mencapai gelar sarjana atau sarjana muda. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan sebagai prasyarat akademis yang harus ditempuh, dipertahankan dan dipertanggungjawabkan oleh penyusun dalam sidang ujian.
(5)
Tesis mempunyai tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Pernyataan-pernyataan dan teori dalam tesis didukung oleh argumen-argumen yang lebih kuat, jika dibandingkan dengan skripsi. Tesis ditulis dengan bimbingan seorang dosen senior yang bertanngungjawab dalam bidang studi tertentu.
(6)
Desertasi ialah karangan yang diajukan untuk mencapai gelar doktor. yaitu gelar tertinggi yang diberikan oleh suatu univesitas. Penulisan desertasi ini di bawah bimbingan promotor atau dosen yang berpangkat profesor, dan isinya pembahasan masalah yang lebih kompleks dan lebih mendalam daripada persoalan dalam tesis.
(7)
Resensi ialah karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. Resensi yang disebut juga timbangan buku atau book review sering disampaikan kepada sidang pembaca melalui surat kabar atau majalah. Tujuan resensi ialah memberi pertimbangan den penilaian secara objektif, sehingga masyrakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca ataukah tidak.
Contoh kutipan sebuah resensi
"Buku ini tidak mudah dibaca. Susunan yang kronologis, rangkaian kutipan, dan dokumen otentik membuatnya tergolong bacaan berat. Maksud penulis memang hanya, menyuguhkan fakta-fakta yang tercecer dalam kumpulan dokumen Amerika dan Belanda serta dalam, arsip-arsip Inggris dan Belanda."
(8)
Kritik dari bahasa Yunani kritikos yang berarti `hakim'. Kritik sebagai bentuk karangan berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya.
(9)
Esai adalah semacam kritik yang lebih bersifat subjektif. Maksudnya apa yang dikemukakan dalam esai lebih merupakan pendapat pribadi penulisnya.

Alinea, atau paragraf adalah seperangkat kalimat yang berkaitan satu sama lain, membentuk satu kesatuan untuk mengungkapkan atau mengemukakan satu gagasan pokok. Alinea mempunyai satu kesatuan pikiran yang lebih luas dari kalimat.
Sebuah alinea hanya memuat satu gagasan utama atau satu pikiran pokok. Jika kita hendak mengemukakan dua gagasan utama, kita harus menuangkannya dalam dua alinea yang berbeda. Gagasan utama biasanya didukung oleh beberapa gagasan bawahan, yang disebut juga pikiran penjelas.
Gagasan utama lazimnya dituang dalam sebuah kalimat topik, sedang pikiran penjelas dituang dalam kalimat-kalimat penjelas. Jadi, kalimat topik ialah kalimat yang memuat gagasan utama sebuah alinea, sedang kalimat penjelas ialah kalimat yang mengandung pikiran penjelas alinea itu.
Sebuah alinea yang kalimat topiknya terletak di bagian awal dinamakan alinea deduktif, sedang yang terletak di bagian akhir kalimat disebut alinea induktif. Jika kalimat topik sebuah alinea diletakkan di bagian awal kemudian diulang lagi di bagian akhir, alinea demikian dinamakan alinea campuran atau alinea induktif-deduktif
1. Contoh alinea deduktif:
Komunikasi umumnya tampil dalam bentuknya yang informatif, edukatif dan persuasif maksudnya, komunikasi biasa digunakan orang untuk menyampaikan pesan, mendidik, atau mempengaruhi persepsi lawan bicara, sehingga terbentuk sikap dan bahkan opini baru.
2. Contoh alinea induktif:
Orang tua, siapa pun dia, janganlah menjajah anak. Sebaliknya anak patutlah selalu ingat hahwa sejahat-jahatnya orang tua, dia tidak akan sampai hati membunuh anak hanya karena haknya tidak dipenuhi oleh anak. Namun perlu sekali menyadari, bahwa orang tua selamanya menghendaki yang baik bagi anaknya, sekalipun harus diakui bahwa yang menurutnya baik itu, tidak selalu demikian menurut ukuran umum. Dengan demikian, yang perlu ialah bagaimana menciptakan cara terbaik untuk mencapai saling pengertian.
3. Contoh alinea campuran:
Mencari dasar baru yang kekal, aman, dan pasti, bukan perkara kecil Satu, langkah ke depan dalam hal ini sulit sekali. Sebaliknya, satu langkah ke belakang yang tanpa kita sadari mudah sekali terjadi Karena itu sering kita terjebak langkah mundur, dari sekarang itulah yang sedang kita alami.
Selain ketiga jenis alinea di atas, ada alinea yang tidak mempunyai kalimat topik. Gagasan nama alinea tersebut terdapat pada seluruh kalimat yang ada, yang satu sama lain menggambarkan keadaan tertentu. Alinea demikian lazimnya dinamakan alinea deskriptif.
Contoh alinea deskriptif :

Hamparan sawah membentang luas. Padi menguning menunduk berayun-ayun, meliuk-liuk ditiup angin lembah, beromba-ombak bagai samudra. Dangau-dangau berpencaran. Bocah-bocah bertepuk sorak dengan suara nyaring, mengusir kawanan-kawanan parkit yang berpesta pora memakarn bulir-bulir padi. Bukit yang membujur bagaikan raksasa tidur, membatas di kejauhan, berselimut mega seputih kapas, menambah asri pemandangan.



Menulis Resensi
Menulis resensi buku merupakan gambaran sekaligus evaluasi terhadap suatu buku. Sebuah ulasan harus berfokus pada tujuan, kandungan, dan otoritas buku.
Pemindaian (Scanning) Halaman Awal Buku
Sebelum mulai membaca, perhatikan hal-hal berikut:
  1. Judul - Apa yang tersirat dari judul buku itu?
  2. Kata Pengantar - Memberikan informasi penting tentang tujuan pengarang menulis buku tersebut dan membantu Anda menakar keberhasilan karyanya itu.
  3. Daftar Isi - Memberi tahu Anda tentang pengorganisasian buku tersebut yang akan membantu kita dalam melihat gagasan utama pengarang dan bagaimana alur pengembangannya secara kronologis, berdasarkan topik, dan sebagainya.
Membaca Isi
Mencatat kesan-kesan yang didapatkan saat membaca buku yang akan
diulas, dan perhatikan bagian-bagian yang patut dikutip.
Pertimbangkan juga pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
  1. Apa bidang kajian dan bagaimana buku itu bisa dikelompokkan ke dalamnya? (Jika perlu, gunakan sumber lain agar Anda lebih akrab dengan bidang kajian tersebut.)
  2. Dari sudut pandang mana buku itu ditulis?
  3. Bagaimana gaya penulisan si pengarang? Formal atau informal? Sesuaikah dengan target pembaca? Jika ini karya fiksi, teknik menulis apa yang dipakai pengarang?
  4. Apakah konsepnya didefinisikan secara jelas? Bagaimana penulis mengembangkan gagasannya? Bidang apa yang tercakup/tidak tercakup di dalamnya? Kenapa demikian? Hal-hal seperti inilah yang akan membantu dalam membangun otoritas sebuah buku.
  5. Jika buku tersebut adalah karya fiksi, buat catatan mengenai unsur-unsur seperti penokohan, plot, setting, dan bagaimana keterkaitan semua unsur tersebut dengan tema buku. Bagaimana cara pengarang menggambarkan tokoh-tokohnya? Bagaimana pengembangannya? Bagaimana struktur plotnya?
  6. Seberapa akurat informasi dalam buku itu? Bandingkan dengan sumber lain, jika perlu.
  7. Jika relevan, buat catatan mengenai format buku, tata letak, penjilidan, tipografi, dan lain-lain. Apakah ada peta, ilustrasi? Apakah gambar-gambar itu dapat membantu pemahaman pembaca?
  8. Periksa halaman-halaman belakang. Apakah indeksnya akurat? Sumber apa yang dipergunakan? primer atau sekunder? Bagaimana pemanfaatannya? Catat jika ada kelalaian-kelalaian yang bisa mengganggu.
  9. Terakhir, sejauh mana prestasi buku itu? Apakah masih diperlukan karya selanjutnya? Bandingkan buku itu dengan buku lain dari pengarang yang sama atau berbeda. (Gunakan daftar pustaka.)
Rujukan kepada Sumber Tambahan
Berusahalah menemukan informasi lebih jauh tentang si pengarang; reputasi, kualifikasi, pengaruh, dan informasi apa pun yang relevan dengan buku yang sedang Anda bahas dan yang akan membantu dalam membangun otoritas si pengarang. Pengetahuan tentang periode kesusasteraan dan teori-teori kritik sastra juga sangat berguna bagi ulasan itu. Mintalah saran mengenai sumber yang bisa dipergunakan kepada orang yang menguasai tema buku itu dan/atau pustakawan rujukan.
Persiapkan Kerangka Tulisan
Berusahalah untuk menyatukan kesan-kesan menjadi sebuah pernyataan atau rangkuman yang dapat menggambarkan tujuan dari ulasan yang sedang dibuat. Kemudian, buat kerangka argumen yang mendukung rangkuman tersebut. Argumen tersebut berguna untuk mengembangkan dan membuat supaya resensi menjadi logis.
Buat Draft Tulisan Resensi
Amati kembali catatan tersebut. Kemudian, dengan menggunakan kerangka tadi sebagai panduan sambil merujuk kepada catatan lain jika perlu, mulailah menulis. Ulasan buku harus meliputi:
  1. Informasi Awal - Kutipan bibliografis lengkap dari buku tersebut, yaitu judul lengkap, nama penulis, tempat terbit, penerbit, tahun terbit, edisi, jumlah halaman, tambahan khusus (peta, gambar/halaman berwarna, dan sebagainya), harga, dan ISBN.
    Contoh: Rory Maclean
    Under the Dragon
    Travels in a betrayed land
    London: Harper Collins, 1998
    224 hh. $37,50
    0 00 257013 0
  2. Pembukaan - Berusahalah memikat perhatian pembaca dengan kalimat pembuka Anda. Pembukaan ini harus menyatakan tesis utama, dan menentukan nada ulasan Anda.
  3. Pengembangan - Kembangkan resensi dengan menggunakan argumen pendukung sebagaimana yang tersusun pada kerangka tulisan. Gunakan deskripsi, evaluasi, dan jika mungkin penjelasan tentang alasan pengarang menulis buku itu. Cantumkan kutipan untuk menggambarkan poin-poin penting atau sesuatu yang ganjil.
  4. Kesimpulan - Apabila resensi telah dikemukakan dengan baik, suatu kesimpulan akan mengikuti dengan sendirinya. Kesimpulan ini dapat berisi pernyataan terakhir atau sekadar mengulang atas resensi itu. Jangan mengedepankan hal baru di sini.
Perbaiki Draft
  1. Beri jeda waktu yang cukup sebelum memeriksa ulang ulasan, untuk memberi kesempatan bagi perspektif baru.
  2. Dengan hati-hati bacalah naskah itu secara menyeluruh, periksa kejelasan dan pertalian antarbagian.
  3. Perbaiki tata bahasa dan ejaan.
  4. Cek kutipan dan ketepatan referensi catatan kaki.
Struktur Cerpen

Secara tradisional, unsur-unsur dalam cerpen bisa digolongkan menjadi dua bagian. Pertama adalah unsur intrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur intrinsik ini meliputi tema, latar, penokohan, sudut pandang, alur, amanat, dan gaya bahasa. Unsur inilah yang secara faktual akan dijumpai dalam membaca karya sastra. Kedua adalah unsur ekstrinsik. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ini antara lain meliputi pandangan hidup pengarang, situasi politik, ekonomi, dan sosial.

Stanton (Nurgiyantoro, 2000: 25) membagi unsur sebuah cerita rekaan kepada tema, fakta, dan sarana cerita. Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita. Ia selalu berkaitan dengan berbagai pengalaman kehidupan, seperti masalah cinta, kasih, rindu, takut, maut, religius, kemanusiaan, dan sebagainya. Dalam hal tertentu, sering, tema dapat disinonimkan dengan ide dan tujuan utama cerita.
Fakta (facts) dalam sebuah cerita meliputi karakter (tokoh cerita), plot, dan setting. Ketiganya merupakan unsur fiksi yang secara faktual dapat dibayangkan peristiwanya, eksistensinya, dalam sebuah novel. Oleh karena itu, ketiganya dapat pula disebut sebagai struktur faktual (factual structure) atau derajat faktual (factual level) sebuah cerita. Ketiga unsur tersebut harus dipandang sebagai satu kesatuan dalam rangkaian keseluruhan cerita, bukan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri dan terpisah satu dengan yang lain.
Sarana pengucapan sastra, sarana kesastraan (literary devices), adalah teknik yang dipergunakan oleh pengarang untuk memilih dan menyusun detil-detil cerita (peristiwa dan kejadian) menjadi pola yang bermakna. Tujuan penggunaannya sarana kesastraan adalah untuk memungkinkan pembaca melihat fakta sebagaimana yang dilihat pengarang, menafsirkan makna fakta sebagaimana yang ditafsirkan pengarang, dan merasakan pengalaman seperti yang dirasakan pengarang. Macam sarana kesastraan yang dimaksud antara lain berupa sudut pandang penceritaan, gaya (bahasa) dan nada, simbolisme, dan ironi.
Berdasarkan tuntutan ekonomis serta efek pada pembacanya, biasanya penulis cerpen akan mementingkan salah satu unsur dalam cepennya (Sumardjo & Saini K.M., 1997: 37). Dalam hal ini, penekanan salah satu unsur cerpen tidak berarti meniadakan unsur-unsur lainnya. Sebuah cerpen mesti lengkap, bulat, dan utuh. Artinya, harus memenuhi unsur-unsur bentuk yang sudah disebutkan tadi. Hanya pengarang dapat memusatkan (fokus) pada salah satu unsurnya saja yang mendominasi cerpennya, seperti aspek tema.

Pantun

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.
Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.
Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata. Seringkali bercampur dengan bahasa-bahasa lain. Berikut contoh pantun (sebetulnya adalah karmina) dari kalangan pemuda:
Mawar merah tumbuh di dinding
Jangan marah, just kidding
Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur Pantun

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.
Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi terkadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun ini:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh
Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.
Drama
Drama adalah karangan dengan bentuk dialog sebagai alurnya. Unsur-unsur drama meliputi :
  1. Plot
    1. Pemaparan/eksposisi, babak yang mengantarkan situasi awal
    2. Munculnya pertikaian (konflik)
    3. Klimaks. Babak pundak krisis
    4. Peleraian/antiklimaks, babak adanya peleraian
    5. Penyelesaian, babak akhir.
  2. Penokohan
  3. Dialog.
Dialog ini merupakan bentuk komunikasi tokoh-tokoh yang diatur oleh sutradara dan penulis scenario.

Tata urutan pementasan drama
  1. Menyusun naskah drama
  2. Lakukan pembedahan secara bersama-sama terhadap isi naskah yang akan dipentaskan.
  3. Reading (Calon pemain membaca kesuluruhan naskah sehingga mengenal masing-masing peran.
  4. Casting (Melakukan pemilihan peran)
  5. Mendalami peran yang akan dimainkan.
  6. Blocking (Pengaturan teknis pementraan oleh sutradara)
  7. Running (pemain menjalani latihan secara lengkap, mulai dari dialog sampai pengaturan pentas)
  8. Gladi bersih (latihan terakhir sebelum pentas)
  9. Pementasan


Pidato
Pengertian pidato adalah penyajian lisan kepada sekelompok massa.
Metode pidato adalah :
  1. Metode serta-merta (impromptu)
Metode berpidato berdasarkan kebutuhan sesaat tanpa persiapan yang memadai sehingga sangat dituntu improvisasi dari orang yang berpidato.
  1. Metode menghafal
Metode berpidato yang dilakukan dengan persiapan. Naskah yang akan dipidatokan dipersiapkan dan dihafalkan kata demi kata.
  1. Metode naskah
Metode berpidato yang dilakukan dengan cara membacakan secara langsung atau naskah yang telah dipersiapkan
  1. Metode Ekstemporan
Metode berpidato dengan cara menuliskan pokok-pokok pikiran yang akan disampaikan, kemudian menyampaikan pokok-pokok pikiran tersebut dengan kata-kata sendiri.

Tujuan berpidato
  1. Untuk menyampaikan informasi
  2. Untuk menghibur/menyenangkan hati pendengar.
  3. Untuk menyajikan sesuatu
  4. Untuk membujuk/mempengaruhi pendengar.

Aspek-aspek penilaian berpidato
  1. Penggunaan bahasa (intonasi, artikulasi/kejelasan, pilihan kata, dan susunan kalimat)
  2. Struktur penyajian (kesatuan/unity), pertautan (coherence), penciptaan klimaks, dan penguasaan materi.
  3. Bobot materi (pemilihan tema, keakuratan dan kelengkapan data, relevansi contoh/ilustrasi, kelogisan analisis, dan penguasaan materi)
  4. Penampilan (ekspresi, kontak dengan khalayak, kesantunan, penguasaan panggung, dan kepercayaan diri.)

Paragraf dan Perkembangannya

Pengertian Paragraf

Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan. Dalam sebuah paragraf terkandung satu unit buah pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam paragraf tersebut; mulai dari kalimat pengenal, kalimat topik, kalimat-kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup. Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam satu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan.
Paragraf dapat juga dikatakan sebagai sebuah karangan yang paling pendek (singkat). Dengan adanya paragraf, kita dapat membedakan di mana suatu gagasan mulai dan berakhir. Kita akan kepayahan membaca tulisan atau buku, kalau tidak ada paragraf, karena kita seolah-olah dicambuk untuk membaca terus menerus sampai selesai. Kitapun susah memusatkan pikiran pada satu gagasan ke gagasan lain. Dengan adanya paragraf kita dapat berhenti sebentar sehingga kita dapat memusatkan pikiran tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu.
Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut ini.
Sesuai dengan asas praduga tak bersalah, tersangka pada hakikatnya secara psikologis sudah dicap terpidana, karena adanya pemberitaan pers yang mengutip tuduhan jaksa penuntut umum dalam proses pemeriksaan. Memang jaksa adalah satu-satunya aparat penegak hukum yang mempunyai wewenang menuduh tersangka melakukan tindak pidana seperti yang dirumuskan dalam surat tuduhan berdasarkan pemeriksaan pendahuluan yang dilakukan polisi. Bagaimanapun tuduhan jaksa dengan pasal-pasal dan bukti-bukti yang meyakinkan bahwa tersangka pantas dijatuhi pidana, namum majelis hakim sesuai dengan kebebasannya yang mendasari keyakinan dan kebenaran hukum, tidak boleh begitu saja terpengaruh. Hakim harus mampu memberikan keputusan yang seadil-adilnya. Dalam hal ini dituntut keberanian dan keyakinan yang tinggi dan tanggung jawab yang besar terhadap Tuhan Yang Maha Esa

Gagasan tentang tersangka yang sudah dicap terpidana, tentang wewenang jaksa menuduh tersangka, tentang hakim yang tidak boleh terpengaruh oleh tuntutan jaksa, tentang kemampuan hakim, tetang tanggung jawab hakim; dijalin sedemikian rupa dalam kalimat-kalimat yang membentuk sebuah kesatuan. Inilah yang dinamakan paragraf.

Macam-Macam Paragraf
Berdasarkan tujuannya, paragraf dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: paragraf pembuka, paragraf penghubung dan paragraf penutup.

Paragraf pembuka memiliki peran sebagai pengantar bagi pembaca untuk sampai pada masalah yang akan diuraikan oleh penulis. Untuk itu, paragraf pembuka harus dapat menarik minat dan perhatian pembaca, serta sanggup mempersiapkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan diuraikan. Usahakan paragraf pembuka ini tidak terlalu panjang agar pembaca tidak merasa bosan. Di samping untuk menarik perhatian pembaca, paragraf pembuka juga berfungsi untuk menjelaskan tujuan dari penulisan itu.

Paragraf penghubung berfungsi menguraikan masalah yang akan dibahas oleh seorang penulis. Semua inti persoalan yang akan dibahas oleh penulis diuraikan dalam paragraf ini. Oleh sebab itu, secara kuantitatif paragraf ini merupakan paragraf yang paling panjang dalam keseluruhan karangan/tulisan. Uraian dalam paragraf penghubung ini, antar kalimat maupun antar paragraf harus saling berhubungan secara logis.

Paragraf penutup bertujuan untuk mengakhiri sebuah karangan/tulisan. Paragraf ini bisa berisi tentang kesimppulan masalah yang telah dibahas dalam paragraf penghubung, atau bisa juga berupa penegasan kembali hal-hal yang dianggap penting dalam uraian-uraian sebelumnya

Pengembangan Paragraf.
Salah satu cara berlatih mengembangkan paragraf dapat dilakukan dengan membuat kerangka paragraf dahulu sebelum menulis paragraf itu. Sebagai contoh dapat dilihat paparan di bawah ini
Kerangka paragraph
Gagasan pokok : Keindahan alam di Tawangmangu makin surut
Gagasan pununjang :
à manusia telah mengubah segala-galanya
à hutan, sawah, dan ladang tergusur
à pohon-pohon tidak ada lagi
à pagar bunga sudah diganti
à gedung-gedung mewah dibangun




Contoh pengembangan paragraf:
Bernostalgia tentang indahnya alam di Tawangmangu hanya akan menimbulkan kekecewaan saja. Dalam kurun waktu 25 tahun, dinamika kehidupan manusia telah mengubah segala-galanya. Hutan, sawah, dan ladang telah tergusur oleh berbagai bentuk bangunan. Ranting dan cabang pohon telah berganti dengan jeruji besi. Pagar tanaman dan bunga yang dulu bermekaran dengan indahnya telah diterjang tembok beton yang kokoh. Batu-batu gunung telah menghadirkan gedung plaza megah yang menelan biaya trilyunan rupiah. Arus modernisasi dengan angkuhnya telah menelan kemesraan dan indahnya alam ini.
Secara ringkas, pengembangan paragraf dapat dilakukan dengan memperhatikan hal-hal berikut. Pertama, susunlah kalimat topik dengan baik dan layak (jangan terlalu spesifik sehingga sulit dikembangkan, jangan pula terlalu luas sehingga memerlukan penjelasan yang panjang lebar). Kedua, tempatkanlah kalimat topik tersebut dalam posisi yang menyolok dan jelas dalam sebuah paragraf. Ketiga, dukunglah kalimat topik tersebut dengan detail-detail/ perincian-perincian yang tepat. Keempat gunakan kata-kata transisi, frase, dan alat lain di dalam dan di antara paragraf.
Ada beberapa teknik (cara) mengembangkan paragraf yang dapat dilakukan. Teknik-teknik tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut.

I. Secara Alamiah

Dalam teknik ini penulis sekedar menggunakan pola yang sudah ada pada objek/kejadian yang dibicarakan. Susunan logis ini mengenal dua macam urutan, yaitu: (a) urutan ruang (spasial) yang membawa pembaca dari satu titik ke titik berikutnya yang berdekatan dalam sebuah ruang. Misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar ke dalam, dari bawah ke atas, dari kanan ke kiri dan sebagainya; (b) urutan waktu (kronologis) yang menggambarkan urutan terjadinya peristiwa, perbuatan, atau tindakan.

Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini.
(a) urutan ruang

Bangunan itu terbagi dalam empat ruang. Pada ruang pertama yang sering disebut dengan bangsal srimanganti, terdapat dua pasang kursi kayu ukiran Jepara. Ruangan ini sering digunakan Adipati Sindungriwut untuk menerima tamu kadipaten. Di sebelah kiri bangsal srimanganti, terdapat ruangan khusus untuk menyimpan benda-benda pusaka kadipaten dan cendera mata dari kadipaten-kadipaten lain. Ruangan ini tertutup rapat dan selalu dijaga oleh kesatria-kesatria terpilih Kadipaten Ranggenah. Ruangan tempat menyimpan benda-benda pusaka dan cendera mata ini sering disebut kundalini mesem. Agak jauh di sebelah kanan ruang kundalini mesem terdapat sebuah ruangan yang senantiasa menebarkan aroma dupa. Ruang ini disebut ruang pamujan karena di tempat inilah Sang Adipati selalu mengadakan upacara dan kebaktian. Beberapa meter dari ruang pamujan terdapat ruangan kecil dengan sebuah tempayan besar di tengahnya. Ruangan ini sering disebut dengan ruang reresik, karena ruangan ini sering digunakan untuk membersihkan diri Sang Adipati sebelum masuk ke ruang pamujan


(b) urutan waktu

Menendang bola dengan sepatu baru dikenalnya sekitar tahun 1977, saat ia baru lulus dari STM Negeri 3 jurusan teknik elektro. Yang pertama kali melatihnya adalah klub Halilintar. Dari sini pretasinya terus menanjak hingga kemudian ia dapat bergabung dengan klub Pelita Jaya sampai sekarang. Tahun 1984 ia pernah dipanggil untuk memperkuat PSSI ke Merdeka Games di Malaysia. Waktu ia dipanggil lagi untuk turnamen di Brunei tahun 1985, ia gagal memenuhinya karena kakinya cedera.

II. Klimaks dan Antiklimaks

Gagasan utama mula-mula dirinci dengan sebuah gagasan bawahan yang dianggap paling rendah kedudukannya. Kemudian berangsur-angsur dengan gagasan lain hingga gagasan yang paling tinggi kedudukan/kepentingannya. Contoh berikut kiranya dapat memperjelas uraian ini.
Bentuk traktor mengalami perkembangan dari jaman ke jaman seiring dengan kemajuan tehnologi yang dicapai umat manusia. Pada waktu mesin uap baru jaya-jayanya, ada traktor yang dijalankan dengan mesin uap. Pada waktu tank menjadi pusat perhatian orang, traktor pun ikut-ikutan diberi model seperti tank. Keturunan traktor model tank ini sampai sekarang masih dipergunakan orang, yaitu traktor yang memakai roda rantai. Traktor semacam ini adalah hasil perusahaan Carterpillar. Di samping Carterpillar, Ford pun tidak ketinggalan dalam pembuatan traktor dan alat-alat pertanian lainnya. Jepang pun tidak mau kalah bersaing dalam bidang ini. Produk Jepang yang khas di Indonesia terkenal dengan nama padi traktor yang bentuknya sudah mengalami perubahan dari model-model sebelumnya.

Pikiran utama dari paragraf di atas adalah bentuk traktor mengalami perkembangan dari zaman ke zaman. Pikiran utama itu kemudian dirinci dengan gagasan-gagasan : traktor yang dijalankan dengan mesin uap, traktor yang memakai roda rantai, traktor buatan Ford, dan traktor buatan Jepang.
Variasi dari klimaks ialah antiklimaks. Pengembangan dengan antiklimaks dilakukan dengan cara menguraikan gagasan dari yang paling tinggi kedudukannya, kemudian perlahan-lahan menurun ke gagasan lain yang lebih rendah.

III. Umum - Khusus &  Khusus - Umum (deduktif &  induktif)

Cara pengungkapan paragraf yang paling banyak digunakan adalah cara deduktif dan induktif. Berikut ini secara urut akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara deduktif dan induktif.
Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan ini dimiliki sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedudukan ini mungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu yang mendasari bahasa Indonesia telah menjadi lingua franca selama berabad-abad di seluruh tanah air kita. Hal ini ditunjang lagi oleh faktor tidak terjadinya persaingan bahasa, maksudnya persaingan bahasa daerah yang satu dengan bahasa daerah yang lain untuk mencapai kedudukannya sebagai bahasa nasional.
Dokumen-dokumen dan keputusan-keputusan serta surat menyurat yang dikeluarkan pemerintah dan badan-badan kenegaraan lainnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Pidato-pidato, terutama pidato kenegaraan, ditulis dan diucapkan dengan bahasa Indonesia. Hanya dalam keadaan tertentu , demi kepentingan antarbangsa kadang-kadang pidato resmi ditulis dan diucapkan dalam bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Demikian juga pemakaian bahasa Indoensia oleh masyarakat dalam upacara, peristiwa, dan kegiatan kenegaraan . Dengan kata lain, komunikasi timbal balik antara pemerintah dengan masyarakat berlangsung dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Bentuk pengembangan paragraf juga ditentukan oleh fungsi paragraf tersebut dalam sebuah karangan atau wacana. Ada paragraf yang berfungsi untuk menjelaskan, membandingkan, mempertentangkan, menggambarkan, atau memperdebatkan. Berikut ini akan dipaparkan bentuk-bentuk pengembangan paragraf berdasarkan fungsinya dalam suatu karangan.

IV. Perbandingan dan Pertentangan

Untuk menambah kejelasan sebuah paparan, kadang-kadang penulis berusaha membandingkan atau mempertentangkan. Dalam hal ini penulis berusaha menunjukkan persamaan dan berbedaan antara dua hal. Syarat perbandingan/pertentangan adalah dua hal yang tingkatannya sama dan kedua hal itu mempunyai persamaan sekaligus perbedaan. Contoh berikut ini kiranya dapat memperjelas uraian di atas.

Ratu Elizabeth tidak begitu tertarik dengan mode, tetapi selalu berusaha tampil di muka umum seperti apa yang diharapkan rakyatnya. Ke luar kota paling senang mengenakan pakaian yang praktis. Ia menyenangi topi dan scraf. Lain halnya dengan Margareth Thacher. Sejak menjadi pemimpin partai konservatif, ia melembutkan gaya berpakaian dan rambutnya. Ia membeli pakaian sekaligus dua kali setahun. Ia lebih cenderung berbelanja ke tempat yang agak murah. Ia hanya memakai topi ke pernikahan , ke pemakaman, ke upacara resmi misalnya ke parlemen.

V. Analogi

Analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah dikenal umum dengan hal yang belum dikenal. Analogi ini dimaksudkan untuk menjelaskan hal yang kurang dikenal tersebut. Berikut ini akan disajikan contoh paragraf yang dikembangkan dengan cara analogi. Di dalam contoh berikut ini penulis ingin menjelaskan perbedaan filsafat dengan ilmu.

Filsafat dapat diibaratkan sebagai pasukan marinir yang merebut pantai untuk mendaratkan pasukan infantri. Pasukan infasntri ini diibaratkan sebagai ilmu pengetahuan yang diantaranya terdapat ilmu. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmulah yang membelah gunung dan merambah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat diandalkan. Filsafat menyerahkan daerah yang sudah dimenangkan itu kepada pengetahuan-pengetahuan lainnya. Setelah penyerahan dilakukan, maka filsafat pun pergiu kembali menjelajah laut lepas, berspekulasi dan meneratas.

VI. Contoh-contoh

Sebuah generalisasi yang terlalu umum sifatnya agar dapat memberikan penjelasan kepada pembaca, kadang-kadang memerlukan contoh-contoh yang konkrit. Berikut ini akan disajikan contoh sebuah paragraf yang dikembangkan dengan contoh-contoh. Kalimat topik contoh berikut ini mengandung gagasan pokok tentang usaha pemerintah dalam mengejar ketertinggalan desa., dijelaskan dengan beberapa contoh, yaitu: ABRI masuk desa, mahasiswa ber-KKN, koran masuk desa, dan kemungkinan-kemungkinan lain.
 Dalam rangka mengejar ketertinggalan desa baik dalam bidang pembangunan maupun dalam bidang pengetahuan, berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah. ABRI masuk desa sudah lama kita kenal. Hasilnya pun tidak mengecewakan, seperti: perbaikan jalan, pembuatan jembatan, pemugaran kampung, dan lain sebagainya. Contoh lain adalah KKN yang dilaksanakan oleh mahasiswa. Hasil-hasil yang positif telah pula dinikmati oleh desa yang bersangkutan, misalnya: peningkatan pengetahuan masyarakat, pemberantasan buta aksara, perbaikan dalam bidang kesehatan dan gizi, dan lain-lain. Akhir-akhir ini surat kabar juga diusahakan masuk desa, walaupun hasilnya masih belum kelihatan. Barangkali perlu pula dipikirkan program selanjutnya, misalnya bahasa Indonesia masuk desa, jaksa masuk desa, listrik masuk desa, dan sebagainya.

VII. Sebab – Akibat

Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berbentuk sebab akibat. Dalam hal ini sebab dapat berfungsi sebagai pikiran utama, dan akibat sebagai pikiran penjelas; atau sebaliknya. Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh berikut
Jalan Jendral Sudirman akhir-akhir ini kembali macet dan semrawut. Lebih dari separuh jalan kendaraan kembali tersita oleh kegiatan pedagang kaki lima. Untuk mengatasinya, pemerintah daerah akan memasang pagar pemisah antara jalan kendaraan dengan trotoar. Pagar ini juga berfungsi sebagai batas pemasangan tenda pedagang kaki lima tempat mereka diizinkan berdagang. Pemasangan pagar ini terpaksa dilakukan mengingat pelanggaran pedagang kaki lima di lokasi itu sudah sangat keterlaluan, sehingga menimbulkan kemacetan lalu lintas.

VIII. Definisi Luas

Untuk memberikan batasan tentang sesuatu, kadang-kadang penulis terpaksa menguraikan dengan beberapa kalimat atau bahkan beberapa paragraf. Berikut ini akan disajikan contoh pengembangan paragraf yang berfungsi menjelaskan apa yang dimaksud dengan pompa hidran, bagaimana cara kerjanya, dan bagian-bagian dari pompa tersebut.
Pompa hidran (Hydraulicran) ialah sejelis pompa yang dapat bekerja secara kontinue tanpa menggunakan bahan bakar atau energi tambahan dari luar. Pompa ini bekerja dengan memanfaatkan tenaga aliran air yang berasal dari sumber air, dan mengalirkan sebagian air tersebut ke tempat yang lebih tinggi. Bagian utama sistem ini ialah pompa pemasukan, katub limbah, katub pengantar, katup udara, ruang udara , dan pipa pengeluaran. Pada dasarnya air dapat dipompakan karena adanya perubahan energi kinetis air jatuh, yang menimbulkan tenaga yang cukup tinggi dalam ruang udara, sehingga sanggup mengangkat dan mengalirkan air ke tempat yang lebih tinggi permukaannya. Desain katub limbah dan katub pemasukan dibuat sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi bergantian.

IX. Klasifikasi

Dalam pengembangan paragraf, kadang-kadang kita mengelompokkan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini biasanya dirinci lebih lanjut ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Berikut ini akan disajikan contoh pengembangan paragraf dengan cara mengklasifikasikan.

Dalam karang-mengarang atau tulis-menulis, dituntut beberapa kemampuan antara lain kemampuan yang berhubungan dengan kebahasaan dan kemampuan pengembangan atau penyajian. Yang termasuk kemampuan kebahasaan adalah kemampuan menerapkan ejaan, pungtuasi, kosa kata, diksi, dan kalimat. Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan pengembangan ialah kemampuan menata paragraf, kemampuan membedakan pokok bahasan, subpokok bahasan, dan kemampuan membagi pokok bahasan dalam urutan yang sistematik.


Pola urutan pengembangan paragraf

Secara umum ada 4 pola pengembangan paragraf,  yaitu sebagai berikut :

  1. Pola Umum-Khusus

Dalam pola ini gagasan umum atau pokok ditempatkan di awal paragraph, kemudian disusul gagasan-gagasan khusus sebagai rincian penjelas. Di awal paragraph, tidak berarti gagasan itu terkandung di kalimat pertama, karena sering sekali kalimat pertama berupa transisi. Bisa jadi gagasan utama terdapat di kalimat kedua. Metode pengembangan ini disebut juga pola deduktif dan secara prisinsip sama dengan pola piramida terbalik dalam penulisan berita keras.
Contoh :
Pulau Bali adalah salah satu pulau terindah di Indonesia. Obyek wisata yang tersedia sangat beraneka ragam. Salah satu obyek wisata yang terkenal adalah Pantai Kuta. Tanah Lot juga merupakan obyek wisata yang terfavorit karena keindahan akan pemandangan pada saat matahari terbenam.


  1. Pola Khusus-Umum

Dalam pola ini, gagasan umum atau pokok ditempatkan di akhir paragraph. Gagasan umum ini biasanya berisi sintesa atau kesimpulan atas sejumlah kalimat yang telah disampaikan terlebih dahulu. Metode pengembangan ini disebut juga pola induktif. Antara gagasan utama dan gagasan penjelas dapat terjalin sebab akibat (kausalitas). Maksudnya, gagasan rinician penjelas berisi sebab-sebab atau alas an sesuatu, sedangkan gagasan pokoknya berisi akibat yang ditimbulkannya.

Contoh :

Cari lokasi lahan yang tanahnya gembur dan mengandung banyak unsur hara. Pilih biji pisang kepok yang unggul untuk ditanam. Setelah di tanam, berikan pupuk nitrogen dan giberilin yang memacu perkembangan bunga dan buah. Lakukan interval waktu penyiraman yang tepat agar diperoleh hasil buah yang maksimal. Itulah langkah-langkah untuk mendapatkan buah pisang kepok yang manis dan besar.

  1. Pola Umum-Khusus-Umum

Dalam pola ini, gagasan umum atau pokok ditempatkan di awal paragraph, kemudian disusul gagasan-gagasan khusus sebagai rincian penjelas. Namun, sebelum paragraph ditutup, gagsan penting yang telah disebut di awal paragraph disebutkan lagi untuk memberi penegasan.

  1. Pola Deskriptif

Pola deskriptif dijumpai dalam karangan deskripsi dan narasi yang isinya menggambarkan secara mendetail suatu dimensi atau ciri-ciri suatu barang, suasana sebuah tempat, proses kejadian atau rentetan perisitiwa secara faktual atau apa adanya. Penulis tidak memberikan penilaian atau membuat kesimpulan atas apa yang digambarkan. Penulis hanya berusaha menghadirkan gambaran sekonkret-konkretnya dan berharap pembaca dapat membayangkan atau seakan-akan melihat langsung apa yang digambarkan. Kesimpulan atau penilaian diserahkan kepada pembaca.

Berbagai hubungan makna dalam sebuah paragraph, yaitu :
  1. klimaks-antiklimaks
  2. pertentangan-perbandingan
  3. persamaan sistematis
  4. proses
  5. contoh
  6. sebab-akibat atau akibat sebab (kausalitas)
  7. klasifikasi
  8. definisi luas
  9. umum-khusus atau khusus-umum

Tahap – Tahap yang harus dilalui dalam proses menulis karangan

I.                   Tahap Persiapan (Penetapan Gagasan dan Pola Pengembangannya)
1.      Memilih Topik
Topik merupakan persoalan yang akan dibahas dalam karangan
2.      Menentukan Tema
Perumusan topik yang menjadi pijakan dan pedoman dalam pengembangan gagasan
3.      Menentukan Tujuan dan Bentuk Karangan
Keduanya saling berhubungan dan sangat mempengaruhi pola pengembangan gagasan.
4.      Menentukan Pendekatan Tema
Ada 3 cara yaitu secara faktualm imajinatif, atau gabungan
5.      Membuat Kerangka Karangan
6.      Menentukan Urutan Jalan Pikiran

II.                Tahap Penulisan Karangan
1.      Menulis kalimat pertama sebagai pembuka karangan
2.      Menulis paragraph pertama (lead) sebagai pemicu dan pengendali laju karangan
3.      Menyusun dan menjalin kata dan kalimat menjadi paragraph yang padu (kohesi)
4.      Membangun dan menjalin kesinambungan antar paragraph

III.             Tahap Penyempurnaan Karangan
Sebelum dipublikasikan, karangan harus diperiksa, diedit dan diselaraskan dulu sehingga lebih sempurna.

Membuka Karangan ddengan Kalimat/Paragraf yang Memikat (5W+1H dan TOP KUAT)

Dalam penulisan berita keras di Koran, biasanya karangan dibuka dengan menyajikan informasi 5W+1H. sementara, dalam penulisan berita ringan, feature/karangan khas, opini atau esai pada umumnya menggunakan salah satu dari rumusan TOP KUAT berikut.
  1. T-Tesis
Karangan dibuka dengan kalimat berisi pernyataan atau opini umum penulis tentang sesuatu hal
  1. O-Obrolan/Dialog
Karangan dibuka dengan adegan dialig atau percakapan tokoh/pelaku
  1. P-Perbuatan (tindakan)
Karangan dimulai dengan mendeskripsikan gerak-gerik, tindakan atau rentetan perbuatan
  1. K-Kuriositas
Karangan dibuka dengan pernyataan yang dapat memancing rasa penasaran atau rasa ingin tahu pembaca.


  1. U-Ungkapan
Karangan dibuka dengan menyajikan ungkapan berupa peribahasa atau kata-kata kiasan
  1. A-Anekdot
Karangan dibukan dengan menyajikan sebuah ilustrasi cerita ringan atau anekdot
  1. T-Tanya
Karangan dibuat dengan melontarkan suatu pertanyaan yang dapat memancing pembaca untuk mikirkan sesuatu yang terkait topik.

Penyuntingan Karangan
Beberapa syarat untuk menjadi editor, diantaranya adalah :
  1. menguasai ejaan
  2. mengauasai tata bahasa
  3. mempunyai kepekaan bahasa
  4. akrab dan bersahabat dengan kamus
  5. berpengetahuan luas
  6. teliti, tekun dan sabar
  7. mampu menulis dengan baik
  8. menguasai bidang tertentu
  9. menguasai bahasa asing
  10. mempunyai kepekaan pada SARA dan pornografi

Proses penyuntingan naskah secara umum melalui beberapa tahap, yaitu sebagai berikut.
  1. Pra-Penyuntingan
Langkah pertama yang dilakukan adalah memeriksa secara keseluruhan bagian naskah yang disunting, apakah sudah lengkap atau belum.
  1. Penyuntingan Naskah
Mengolah naskah mentah menjadi naskah yang siap disajikan kepada pembaca
Jenis – jenis kesalahan yang sering dijumpai pada saat penyuntingan :
    1. Ketepatan Ejaan
    2. Efektifitas Struktur Kalimat
    3. Diksi atau Pilihan Kata
    4. Akurasi Data dan Fakta
    5. Legalitas
    6. Konsistensi dan Sistematika Penulisan
    7. Gaya Bahasa
  1. Pasca-Penyuntingan Naskah
Pada tahap ini berarti menulis ulang atau memperbaiki file/ berkas berdasarkan hasil penyuntingan.






Ada beberapa pbagan penyajian karangan yang lazim digunakan dalam membuat esai. Pola bagan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
  1. DAM-D (Duduk Perkara-Alasan-Misal-Duduk Perkara)
  2. Masa DSD (Masa Dahulu-Sekarang-Depan)
  3. 5W+1H (What, Who, When, Where, Why, How)
  4. PM-HT (Perhatian- Minat-Hasrat-Tindakan)
  5. TAS (Tesis-Antitesis-Sintesis)
  6. PIK (Pendahuluan-Isi-Kesimpulan)

Membahas Ciri-Ciri dan Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Gurindam

Gurindam (dari bahasa Tamil, kirandam) tampak seperti rangkaian kata mutiara, pemeo, bidal, tamsil, atau peribahasa.
Gurindam selalu terdiri atas 2 baris dan berbentuk kalimat majemuk bertingkat. Baris pertama merupakan klausa anak dan baris kedua klausa induk atau sebaliknya. Secara semantis, kedua baris itu, umumnya menyatakan hubungan sebab akibat (kausalitas). Berbeda dengan peribahasa yang tidak tentu jumlah kata dan barisnya, bentuk gurindam relaitf lebih terpola dan sangat memerhatikan persajakan.
Contoh Gurindam :

            Kalau banyak berkata-kata,
di sanalah boleh terjadi dusta.
           
            Kurang pikir kurang siasat,
            tentu dirimu kelak tersesat.

            Kalau ada uang di pura,
            orang lain pun menjadi saudara.











Memahami Buku Kumpulan Puisi Kontemporer dan Mengidentifikasi Karya Sastra yang Dianggap Penting pada Tiap Periode

Adanya karakteristik yang menandai karya sastra pada masa-masa tertentu itu mendorong beberapa ahli sastra untuk memetakan dan mengklasifikasikan tahap-tahap perkembangan sastra Indonesia, mulai dari masa pembentukannya hingga masa pertumbuhannya yang terakhir.

Berikut ini salah satu periodisasi perjalanan kesusastraan yang cakupannya paling luas.
I.                   Masa Kelahiran :
1.      Periode awal – 1920
2.      Periode 1920 – 1933 (angkatan Balai Pustaka)
-
3.      Periode 1933 – 1942 (angkatan Pujangga Baru)
-          Layar Terkembang
-          Belenggu
-          Buah Rindu
4.      Periode 1942 – 1945 (angkatan Pendudukan Jepang)
II.                Masa Perkembangan :
1.      Periode 1945-1953 (angkatan 45 / kemerdekaan)
2.      Periode 1953-1961
3.      Periode 1961-1966
4.      Periode 1966-sekarang

Karakteristik angkatan Balai Pustaka :
  1. Berisi kritikan terhadap adapt yang dinilai tidak relevan dengan zaman
  2. Bertema : kawin paksa , pertentangan pandangan antara kaum tua dan kaum muda
  3. Gaya bahasa dan komposisi cerita menyerupai hikayat lama
  4. Melalui tokoh utama, pengarang sering menyampaikan nasihat panjang-panjang
  5. Sebelum menuju akhir cerita, tokoh mengalami petualangan atau berkelana / merantau.

Karakteristik angkatan Pujangga Baru :
  1. Bentuk karya sastranya lebih beragam , bukan saja roman, tetapi juga banyak dalam bentuk puisi
  2. Persoalan / tema yang diangkat tentang emansipasi wanita, kehidupan masyarakat kota dengan berbagai problematikanya, pertarungan kebudayaan Barat dan Timur
  3. Karya sastranya bersifat tenedensius dan didaktis.




PIDATO
Pidato adalah sebuah kegiatan berbicara di depan umum atau ber-orasi guna menyatakan pendapatnya atau guna memberikan gambaran tentang suatu hal.Pidato biasanya dibawakan oleh 1 orang lalu memberikan orasi - orasi dan pernyataan tentang suatu hal/peristiwa yang penting dan patut dibincangkan.Pidato adalah salah satu teori dari pelajaran bahasa indonesia
Pidato biasanya digunakan oleh seorang pemimpin untuk memimpin dan berorasi di depan banyak anak buahnya

1. Fungsi Pidato

2. Pempraktekkan Pidato

3. Contoh Pidato

  1. Pidato Kenegaraan
  2. Pidato Wisuda
  3. Pidato Kepemimpinan
  4. Orasi
4. Macam-Macam Metode Berpidato
1.      Impromptu (spontan / serta merta)
- Pidato yang dilakukan tanpa persiapan apa-apa atau secara spontan
2.      Hafalan
- Pidato dengan metode ini memerlukan persiapan tertulis secara lengkap. Materi yang sudah ditulis tersebut dihafalkan untuk disampaikan dalam pidato
3.      Naskah
- Metode ini berupa pembacaan naskah pidato yang sudah disiapkan secara lengkap sebelumnya. Metode ini sering dipakai dalam pertemuan resmi tingkat tinggi. Sifatnya agak kaku.
4.      Ekstemporan
- Uraian yang akan disampaikan dengan metode ini disiapkan secara cermat dan ditulis dalam bentuk catatan pokok-pokok materinya. Penyampaian pidaot dilakukan dengan menguraikan pokok-pokok materi secara langsung saat berpidato, bukan dalam bentuk naskah. Catatan pokok materi dijadikan sebagai pedoman umum isi dan urutan.





Mengidentifikasi Ciri-Ciri Kritik dan Esai Sastra

Kritik sastra adalah susatu cabang ilmu sastra yang mengadakan analisis, penafsiran, serta penilaian terhadap sebuah teks sastra.

Ciri – Ciri kritik sastra adalah sebagai berikut :
    1. Bertujuan menilai karya sastra
    2. Penilaian didasarkan pada criteria tertentu
    3. Mengemukakan kelebihan karya sastra yang dikritik
    4. Mengemukakan kekurangan karya sastra yang dikritik
    5. Mengemukakan kesimpulan penilaian kritikus
    6. Hanya berisi penilaian kritikus, tidak memuat ide-idenya.

Esai sastra adalah tinjauan dalam bentuk prosa yang digunakan pengarang untuk menampilkan pendapat pribadinya mengenai suatu masalah dalam kesusastraan.

Ciri – Ciri kritik sastra adalah sebagai berikut :
    1. Berisi ide-ide penulisnya
    2. Ide – ide tersebut disertai argumen / alasan atau data
    3. Penulisan esai tidak terpengaruh oleh kualitas karya sastra yang ditinjau
    4. Permasalahan yang dikemukakan ditempatkan dalam konteks yang lebih luas
    5. Menggunakan pendekatan intelektual / ilmiah

Artikel adalah istilah yang dipakai untuk menyebut jenis tulisan yang berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti yang mendukung pendapatnya.

Beda artikel dan berita

Berita adalah hasil rekonstruksi tertulis dari realitas sosial yang terdapat dalam kehidupan. Itulah sebabnya ada orang yang beranggapan bahwa penulisan berita lebih merupakan pekerjaan merekonstruksikan realitas sosial ketimbang gambaran dari realitas itu sendiri.

Contoh artikel
Korupsi Sistemik
Indriyanto Seno Adji
Membuka tahun 2009, masalah laten bangsa ini adalah korupsi. Padahal, keberhasilan pemerintahan dan kekuasaan suatu negara, termasuk Indonesia, adalah bagaimana kebijakan negara mencegah dan memberantas korupsi secara optimal.

Masalah korupsi tidak bersandar pada limitasi kebijakan hukum, tetapi terkait dengan masalah ekonomi dan politik. Untuk itu, perlu dicermati kritik pengamat politik hukum negara berkembang, Prof SS Hueh, Rektor (saat itu) The University of East Asia, yang menyatakan, pertumbuhan hukum korupsi tidak dapat dipisahkan dari perubahan dalam kerangka sosial-ekonomi.
Prof Hueh memberi ilustrasi, pembentukan aturan hukum dalam rangka memberantas korupsi tidak begitu saja dapat dipisahkan dari soal ekonomi dan politik. Dalam implementasi di Indonesia, kebijakan hukum dalam pencegahan dan pemberantasan korupsi tidak dapat dipisahkan dengan political and socio-economic setting. Masalah kebijakan hukum korupsi tidak akan terlepas dengan kekuasaan ekonomi dan politik suatu negara sehingga stigma korupsi dapat menjadi simbol elastis mengakarnya korupsi ketatanegaraan sebagai korupsi sistemik atau korupsi kelembagaan.
Pandangan Prof Hueh ini sejalan dengan Kongres Ke-7 PBB tentang Prevention of Crime and the Treatment of Offenders di Milan, 1985, yang membicarakan tema yang tidak lagi klasik, yaitu ”Dimensi Baru Kejahatan dalam Konteks Pembangunan”. Salah satu sorotan hasil kongres ini adalah tentang terjadi dan meningkatnya ”penyalahgunaan kekuasaan” (abuse of power).
Penyalahgunaan kekuasaan
Penyalahgunaan kekuasaan di bidang ekonomi ini melibatkan upper economic class (konglomerat) maupun politik sebagai upper power class (pejabat tinggi negara) yang berkonspirasi dan bertujuan untuk kepentingan ekonomi kelompok. Maka, ada beberapa perspektif korupsi di tahun 2009 yang dapat menjadi perhatian penegak hukum ke depan, khususnya Kejaksaan Agung, Polri, atau KPK.
Pertama, korupsi sistemik atau korupsi kelembagaan merupakan bentuk kejahatan yang sulit pembuktiannya, tetapi tumbuh subur sejalan dengan kekuasaan ekonomi, hukum, dan politik. Korupsi ini dikategorikan sebagai penyakit misterius yang kadar penyembuhannya amat minim dan selalu menjadi uji coba untuk menanggulanginya. Hasilnya pun kadang diprediksi secara pesimistis, yaitu tidak searah kebijakan masyarakat untuk memberantas korupsi.
Secara konseptual, pada negara berkembang, pemikiran bahwa korupsi merupakan bagian dari kekuasaan, bahkan bagian dari sistem itu sendiri, menjadi tidak diragukan. Karena itu, ada yang berpendapat, penanggulangan yang terpadu adalah dengan memperbaiki sistem yang ada.
Artikulasi ”sistem” ini bermakna komprehensif, bahkan dapat dikatakan sebagai proses signifikan. ”Korupsi sudah menjadi bagian dari sistem” yang ada. Karena itu, usaha maksimal penegakan hukum, khususnya pemberantasan korupsi, harus dilakukan dengan pendekatan sistem atau systemic approach, apalagi bila pendekatan sistem ini dikaitkan dengan peran institusi peradilan yang amat menentukan sebagai sebuah institusi penegakan hukum dalam proses akhir pemberantasan korupsi. Sangat sulit menentukan awal dimulainya antisipasi pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia.
Sistem harus ditelaah sebagai kesatuan yang meliputi tindakan re-evaluasi, reposisi, dan pembaruan (reformasi) terhadap struktur, substansi hukum, khususnya budaya hukum (legal culture) sebagai cermin etika dan integritas penegakan hukum. Systemic approach sebagai bahan untuk memecahkan persoalan hukum (legal issue) atau penyelesaian hukum (legal solution) maupun pendapat hukum (legal opinion).
Legal culture (budaya hukum) merupakan aspek penting yang melihat bagaimana masyarakat menganggap ketentuan sebagai civic-minded sehingga masyarakat selalu taat dan menyadari pentingnya hukum sebagai regulasi umum. Masalah korupsi sebagai budaya hukum ini terkait dengan etika, moral masyarakat, khususnya penegak hukum. Pendekatan struktur dan substantif tidak akan berhasil jika tidak diikuti pendekatan budaya dan etika dari penegak hukum itu sendiri yang sering terkontaminasi suap.
Terintegrasi
Kedua, melakukan tindakan secara terintegrasi dari lembaga penegak hukum melalui integrated criminal justice system. Artinya, di antara penegak hukum harus memiliki balanced and equal of power, suatu kewenangan berimbang dan sama di antara penegak hukum. Hal ini untuk menghindari diskriminasi kewenangan lembaga yang justru akan melemahkan penegakan hukum terhadap korupsi. Selain itu, diskriminasi kewenangan akan menimbulkan disintegrasi penegakan hukum. Kewenangan diskriminatif antara KPK di satu sisi dan Kejaksaan Agung/Polri di sisi lain harus ditiadakan.
Ketiga, pendekatan sistem itu dilakukan secara simultan dan terintegrasi dengan pendekatan up-down, bukan bottom-up yang selama ini terjadi. Kejaksaan Agung dengan minimnya kewenangan telah memberi citra tersendiri dengan menetapkan pejabat eselon I departemen sebagai tersangka sekaligus memerhatikan hak tersangka. Ini merupakan status yang tidak pernah terjadi sejak era reformasi. Pendekatan up-down dalam pemberantasan korupsi merupakan karakter representasi keseriusan negara dalam pemberantasan korupsi. Selama ikon karakter korupsi masih berpijak pada pendekatan bottom-up, hasil yang dicapai adalah pesimisme penegakan hukum. Pemberantasan korupsi, sebagaimana Konvensi PBB 1985, harus dimulai dari upper power class dan upper economic class dengan memerhatikan prinsip praduga tidak bersalah.
Kampanye antikorupsi
Dari semua persoalan itu, amat berarti peran kebijakan kriminal (criminal policy) melalui pendekatan non-penal, yaitu dengan meningkatkan langkah kampanye antikorupsi misalnya. Kampanye semacam ini diperlukan dengan pendekatan antara masyarakat, pers (sebagai social power), dan institusi kenegaraan (sebagai political power).
Apalagi, masalah korupsi di Indonesia kini tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah eksekutif saja, tetapi juga sudah terkontaminasi institusi kenegaraan lainnya, entah itu legislatif, yudikatif, maupun institusi negara nondepartemen.
Indriyanto Seno Adji
Pengajar Program Pascasarjana UI Bidang Studi Ilmu Hukum

Contoh berita

JAKARTA, MINGGU - Ibu Negara Ani Yudhoyono di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Minggu pagi melakukan senam bersama dengan 15 ribu peserta Asuransi Kesehatan (Askes).
  
Acara "Senam Sehat Askes bersama Ibu Negara RI" itu dilaksanakan dalam rangka Ulang Tahun Indonesia Sejahtera yang merupakan salah satu unit kegiatan Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB).
  
Acara senam sehat tidak hanya dilakukan di Lapangan Silang Monas
Jakarta, namun juga serentak di seluruh ibukota Provinsi di Indonesia.
  
Senam sehat di ibukota provinsi selain Jakarta dipimpin oleh istri
gubernur masing-masing daerah. Pada acara tersebut, Ibu Ani juga mencanangkan program preventif PT Askes di seluruh Indonesia dan Sosialisasi Asuransi Kesehatan bagi
masyarakat menuju terwujudnya Jaminan Kesehatan Nasional.
  
Selain senam sehat, dilakukan pula pemeriksaan gratis yang dilakukan 20 rumah sakit melalui pelayanan tim medis mereka dan ambulans.


Gagasan utama

Setiap wacana atau bacaan mengandung informasi atau permasalahan. Informasi tersebut tersaji dalam suatu paragraf. Suatu paragraf terdiri atas satu gagasan utama yang dirangkai dengan beberapa kalimat penjelas. Gagasan utama atau kalimat utama dapat terletak di awal paragraf, tengah paragraf, di akhir paragraf, maupun di awal dan di akhir paragraf.

Gagasan utama adalah kalimat yang berisi suatu inti dari paragraph. Gagasan utama biasa juga disebut sebagai kalimat utama.

Sambil membaca cepat, kita dapat menemukan ide pokok dalam setiap paragraph. Jadi kita dapat mengingat hal-hal penting di dalam bacaan sebanyak mungkin. Dengan melakukan hal itu kita dapat terbantu dalam menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan wancana dan meringkas wancana dalam beberapa kalimat.

Biasanya untuk mengukur kecepatan membaca, kita dapat mengukurnya dengan stop watch atau alat bantu lainnya.

Mengidentifikasi ide pokok paragraph adalah kunci utama dalam memahami suatu wancana. Untuk itulah kita harus terus melatih kemampuan dalam hal ini.

Menemukan ide pokok paragraf merupakan sutau kewajiban bagi pembaca ketika mencoba menambah wawasan pengetahuannya melalui bacaan. Keterampilan menemukan ide pokok bisa dilatih dan dikembangkan secara teratur dan berkesinambungan sehingga menanggap inti bacaan atau informasi yang diterimanya menjadi tepat, akurat, dan cermat.

Inti atau ide pokok paragraf merupakan gagasan yang secara struktural maknawi membawahkan gagasan yang lain. Oleh sebab itu, inti atau ide pokok merupakan suatu konsep yang secara ordinatif mencakup konsep gagasan lain menyubordinasi gagasan lain). Gagasan-gagasan lain yang terwujud dalam kalimat-kalimat penjelas atau pendukung gagasan pokok itu berantai-berkesinambungan guna membentuk kesatuan paragraf.

Menemukan inti atau ide pokok bisa disiasati dengan mengenal tipe paragraf, berdasarkan pola penalaran dan pola pengembangannya. Bila dilihat dari segi pola penalarannya, paragraf bisa berbentuk tipe deduktif dan induktif. Lain halnya bila kita lihat dari pola pengembangannya, tipe paragraf dapat berupa paragraf definisi, paragraf contoh, paragraf sebab-akibat(kausalitas), parageaf perbandingan (persamaan-perbedaan), paragraf pertentangan, paragraf kronologi, dan sebagainya.

Pola penalaran deduktif merupakan cara berpikir yang dimulai dengan rumusan pernyataan umum. Biasanya ditempatkan di awal paragraf, sedangkan kalimat-kalimat berikutnya merupakan kalimat-kalimat penjelas. Pola penalaran induktif merupakan pola berpikir dengan menggunakan peristiwa atau hal-hal khusus untuk menarik kesimpulan umum. hal-hal atau peristiwa khusus yang dimaksud adalah peristiwa-peristiwa yang sejenis, seklasifikasi, paralel, dan digunakan sebagai data yang memperkuat gagasan kesimpulan. Secara logis, berdasarkan beberapa, banyak, atau semua data, pembaca digiring ke suatu kesimpulan umum atas peristiwa atau hal-hal tersebut.

Bila kita memenukan gagasan pokok berdasarkan pola penalarannya, ide pokok terdapat di kalimat awal atau di akhir paragraf. Perlu diketahui bahwa kalimat awal atau akhir paragraf bisa saja merupakan kalimat majemuk bertingkat, bahkan mungkin kompleks. Namun, inti gagasan terdapat pada induk kalimatnya, yakni unsur S-P (O)/(Pel.), sedangkan berdasarkan pola pengembangannya, ide pokok paragraf biasanya berada di awal paragraf.

Yang sering membuat pembaca bingung menentukan ide pokok adalah bila paragraf yang dibacanya bertipe naratif atau deskriptif. Ide pokok paragraf biasanya terjabarkan secara merata berkesinambungan dalam semua kalimat paragraf tersebut. Oleh sebab itu, pembaca harus pandai menemukan kata-kata kunci (key words) paragraf itu. Berdasarkan kata-kata kunci itulah kita dapat menentukan kalimat ide pokok.

Berbagai bentuk evaluasi, mulai dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah hingga perguruan tinggi, tipe soal menentukan ide pokok atai inti gagasan pasti kita temukan. Hal itu bisa kita temukan pula dalam ulangan harian, ulangan blok, ulangan umum, ulangan semseter, ulangan kenaikan, bahkan ujian nasional serta tes ke perguruan tinggi. Oleh karena iu, kepandaian menemukan ide pokok bisa ditingkatkan dan dilatih dengan cara membiasakan dan meningkatkan terus keamampuan membaca. Berlatih untuk terus berlatih demi kemajuan kita smeua. Sumber bacaan untuk berlatih kita dapat menemukannya dalam berbagai bentuk dan corak, asalkan bersifat edukatif, intelektual, dan rasional.



















Contoh menemukan gagasan utama

Bersahabat dengan Internet
Besok internet akan datang ke desa kita. Internet bisa mengajak kita melihat dunia. Internet juga akan menyampaikan surat kepada teman kita di seberang pulau, bahkan di seberang benua sana. Begitu kira-kira bunyi salah satu iklan layanan masyarakat yang bisa kita saksikan melalui televisi. Bayangkan, hanya dengan internet kita bisa mengetahui kabar terbaru dari seluruh dunia. Kita juga bisa tahu seperti apa keadaan roket yang sedang diuji coba di luar angkasa.
Dengan sebuah blog, kita bisa menjadi penulis dengan memajang karya kita. Bahkan, kita bisa bercakap-cakap sambil menatap sahabat pena di Afrika melalui web camera. Hanya dengan duduk di depan layar komputer, kita sudah dapat browsing, chatting, surfing, atau bermain games. Aturan main
Ya, tetapi jangan lupa bersahabat dengan internet ada aturannya. Kalau tidak tahu aturan dan cara bermainnya, bersahabat dengan internet bisa merugikan. Teman-teman tentu pernah mendengar kisah tentang seorang anak yang diculik saat pulang sekolah, lalu orang tuanya harus memberi sejumlah uang sebagai tebusan. Setelah ditelusuri, ternyata kasus penculikan itu berawal dari kesenangan anak tersebut pada internet yaitu chatting. Tanpa disadari anak tersebut memberikan data-data pribadinya kepada teman chatting yang ternyata seorang penjahat yang menyamar sebagai anak-anak. Agar kejadian seperti itu tidak menimpa kita, ikuti rambu-rambu berikut.
1. Tidak memberikan informasi pribadi
Di internet, setiap orang bisa menyamar sebagai siapa saja. Bisa saja teman chatting-mu mengaku berusia 10 tahun, padahal ia orang dewasa seusia ayah atau ibumu. Itu sebabnya, jangan pernah memberi informasi pribadi, seperti nomor telepon, alamat rumah, alamat/nomor telepon kantor orang tua, atau nama dan lokasi sekolah tanpa izin orang tua.
2. Tidak pergi sendiri
Ajak orang tua atau orang dewasa lain dalam keluarga untuk menemani jika kamu ingin bertemu seseorang yang dikenal melalui internet.
3. Jangan malu bertanya
Terutama kepada orang tua atau kakak mengenai internet, seperti cara melindungi informasi pribadi, cara menggunakan chat romms, news group, atau fasilitas lainnya dalam internet.
4. Tidak membuka sembarang situs
Lupakan keinginan dan rasa penasaranmu untuk membuka sembarang situs, apalagi situs untuk orang dewasa. Hal itu hanya akan merugikan dirimu sendiri. Beri tahu orang tua jika menemukan informasi yang membuatmu gelisah. Selain itu, segera hapus bila kamu mendapat e-mail yang isinya tak sopan.
5. Teliti dan hati-hati
Pastikan untuk tidak memberikan password-mu kepada siapa pun, termasuk teman akrab, kecuali kepada orang tua. Jangan lupa menekan tanda keluar atau sign out atau log out, jika selesai membuka e-mail atau situs lain, terutama di warung internet. Ini untuk menghindari orang lain mengetahui identitasmu dan memasuki situs tertentu dengan menggunakan identitasmu.
6. Awas virus
Sebelum men-download data atau meng-install software ke komputer rumah, konsultasi dulu dengan orang tua. Cara download atau install software yang kurang hati-hati bisa menyebabkan komputer terserang virus. Kamu nggak mau kan komputermu rusak dan semua arsip penting lenyap karena serangan virus?
7. Buat kesepakatan
Satu ini wajib hukumnya! Buatlah kesepakatan dengan orang tua, apa saja yang menjadi ketentuan dalam menggunakan internet. Misalnya kapan, di mana, dan berapa lama kamu boleh menggunakan internet. Pastikan juga situs apa saja yang boleh dibuka.

Gagasan Utama:
  1. Keuntungan memanfaatkan layanan internet.
  2. Jenis layanan atau fasilitas internet
  3. Kerugian bersahabat dengan internet
  4. Rambu-rambu menggunakan internet




Kamus adalah sejenis buku rujukan yang menerangkan makna kata-kata. Ia berfungsi untuk membantu seseorang mengenal perkataan baru. Selain menerangkan maksud kata, kamus juga mungkin mempunyai pedoman sebutan, asal-usul (etimologi) sesuatu perkataan dan juga contoh pengunaan bagi sesuatu perkataan. Untuk memperjelas kadang kala terdapat juga ilustrasi di dalam kamus.

Kata kamus diserap dari bahasa Arab qamus, dengan bentuk jamaknya qawamis. Kata Arab itu sendiri berasal dari kata Yunani okeanos yang berarti 'lautan'. Sejarah kata itu jelas memperlihatkan makna dasar yang terkandung dalam kata kamus, yaitu wadah pengetahuan, khususnya pengetahuan bahasa, yang tidak terhingga dalam dan luasnya. Dewasa ini kamus merupakan khazanah yang memuat perbendaharaan kata suatu bahasa, yang secara ideal tidak terbatas jumlahnya. Setiap kebudayaan besar di dunia bangga akan kamus bahasanya. Dalam kenyataannya kamus itu tidak hanya menjadi lambang kebanggaan suatu bangsa, tetapi juga mempunyai fungsi dan manfaat praktis

Jenis-jenis Kamus

Berdasarkan penggunaan bahasa

Kamus bisa ditulis dalam satu atau lebih dari satu bahasa. Dengan itu kamus bisa dibagi menjadi beberapa jenis yaitu:
  • Kamus Ekabahasa
    Kamus ini hanya menggunakan satu bahasa. Kata-kata(entri) yang dijelaskan dan penjelasannya adalah terdiri daripada bahasa yang sama. Kamus ini mempunyai perbedaan yang jelas dengan kamus dwibahasa kerana penyusunan dibuat berasaskan pembuktian data korpus. Ini bermaksud definisi makna ke atas kata-kata adalah berdasarkan makna yang diberikan dalam contoh kalimat yang mengandung kata-kata berhubungan. Contoh bagi kamus ekabahasa ialah Kamus Besar Bahasa Indonesia (di Indonesia) dan Kamus Dewan di (Malaysia).
  • Kamus Dwibahasa
    Kamus ini menggunakan dua bahasa, yakni kata masukan daripada bahasa yang dikamuskan diberi padanan atau pemerian takrifnya dengan menggunakan bahasa yang lain. Contohnya: Kamus Inggris-Indonesia, Kamus Dwibahasa Oxford Fajar (Inggris-Melayu;Melayu-Inggris)
  • Kamus Aneka Bahasa
    Kamus ini sekurang-kurangnya menggunakan tiga bahasa atau lebih. Misalnya, kata Bahasa Melayu Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin secara serentak. Contoh bagi kamus aneka bahasa ialah Kamus Melayu-Cina-Inggris Pelangi susunan Yuen Boon Chan pada tahun 2004

Berdasarkan isi

Kamus bisa muncul dalam berbagai isi. Ini adalah karena kamus diterbitkan dengan tujuan memenuhi keperluan gologan tertentu. Contohnya, golongan pelajar sekolah memerlukan kamus berukuran kecil untuk memudahkan mereka membawa kamus ke sekolah.Secara umumnya kamus dapat dibagi kepada 3 jenis ukuran:
  • Kamus Mini
    Pada zaman sekarang sebenarnya susah untuk menjumpai kamus ini.Ia juga dikenali sebagai kamus saku karena ia dapat disimpan dalam saku. Tebalnya kurang daripada 2 cm.
  • Kamus Kecil
    Kamus berukuran kecil yang biasa dijumpai. Ia merupakan kamus yang mudah dibawa.Kamus Dwibahasa Oxford Fajar (Inggris-Melayu;Melayu-Inggris)
  • Kamus Besar
    Kamus ini memuatkan segala leksikal yang terdapat dalam satu bahsaa. Setiap perkataannya dijelaskan maksud secara lengkap.Biasanya ukurannya besar dan tidak sesuai untuk dibawa ke sana sini.Contohnya Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Kamus Istimewa

Kamus istimewa merujuk kepada kamus yang mempunyai fungsi yang khusus. Contohnya:
  • Kamus Istilah
    Kamus ini berisi istilah-istilah khusus dalam bidang tertentu. Fungsinya adalah untuk kegunaan ilmiah. Contohnya ialah Kamus Istilah Fiqh
  • Kamus Etimologi
    Kamus yang menerangkan asal usul sesuatu perkataan dan maksud asalnya.
  • Kamus Tesaurus (perkataan searti)
    Kamus yang menerangkan maksud sesuatu perkataan dengan memberikan kata-kata searti (sinonim) dan dapat juga kata-kata yang berlawanan arti (antonim). Kamus ini adalah untuk membantu para penulis untuk meragamkan penggunaan diksi. Contohnya, Tesaurus Bahasa Indonesia
  • Kamus Peribahasa/Simpulan Bahasa
    Kamus yang menerangkan maksud sesuatu peribahasa/simpulan bahasa. Selain daripada digunakan sebagai rujukan, kamus ini juga sesuai untuk dibaca dengan tujuan keindahan.
  • Kamus Kata Nama Khas
    Kamus yang hanya menyimpan kata nama khas seperti nama tempat, nama tokoh, dan juga nama bagi institusi. Tujuannya adalah untuk menyediakan rujukan bagi nama-nama ini.
  • Kamus Terjemahan
    Kamus yang menyedia kata searti bahasa asing untuk satu bahasa sasaran. Kegunaannya adalah untuk membantu para penerjemah.
  • Kamus Kolokasi
    Kamus yang menerangkan tentang padanan kata, contohnya kata 'terdiri' yang selalu berpadanan dengan 'dari' atau 'atas'.



Pengertian dan perbedaan dari tanggapan, fakta dan pendapat.

Tanggapan adalah ulasan atau komentar atas berita, pidato, laporan, dan
sebagainya. Tanggapan terhadap berita dapat diberikan pada seluruh aspek
berita, seperti isi, unsur berita, bahasa, gaya penulisan berita, dan sebagainya.
Sebelum menanggapi berita, kita harus memahami berita tersebut. Setelah itu,
baru kita lakukan analisis secara mendalam terhadap seluruh aspeknya.
Dalam memberikan tanggapan terhadap suatu berita atau laporan
diperlukan pemahaman tiga aspek penting dari tulisan tersebut. Tiga aspek
dalam tulisan tersebut adalah aspek tulisan/ejaan, aspek substansi/isi, dan aspek
penyajian berita. Bahasa yang digunakan dalam penulisan berita hendaknya
menggunakan ragam bahasa standar. Bahasa standar mempunyai ciri-ciri:
cendekia, luwes, dinamis, efektif, dan enak dibaca, tetapi tetap berpedoman
pada kaidah bahasa yang berlaku.

Sedangkan

Fakta adalah keadaan, kejadian, atau peristiwa yang benar dan bisa
dibuktikan. Termasuk di dalamnya ucapan pendapat atau penilaian orang atas
sesuatu. Dalam kode etik jurnalistik, pasal 3 ayat (30) dijelaskan antara lain,
“…di dalam menyusun suatu berita, wartawan Indonesia harus membedakan
antara kejadian (fact) dan pendapat (opini) sehingga tidak mencampuradukkan
yang satu dengan yang lain untuk mencegah penyiaran berita-berita yang
diputarbalikkan atau dibubuhi secara tidak wajar.”

Pendapat juga disebut opini. Dikenal public opinion atau pendapat umum
dan general opinion atau anggapan umum. Opini merupakan persatuan (sintesis)
pendapat-pendapat yang banyak; sedikit banyak harus didukung orang banyak
baik setuju atau tidak setuju; ikatannya dalam bentuk perasaan/emosi; dapat
berubah; dan timbul melalui diskusi sosial











Contoh tanggapan

Sehubungan dengan pemberitaan Harian Kompas tanggal 4 Juli 2005 dengan headline "Lintas Kalimantan Hancur"  dapat kami sampaikan penjelaskan sebagai berikut :
·          
Lokasi Kerusakan 
 :
Didaerah Bukit Klekar (± 10 km sebelum Simpang Blusuh) Ruas Jalan Gusik - Simpang Blusuh (No.Ruas 502.2 N-K1) Lintas Kalimantan Poros Tengah Prov. Kalimantan Timur
·          
Status Jalan
 :
Nasional (sesuai Kepmen Kimpraswil No.375/KPTS/M/2004) Status sebelumnya adalah Jalan Provinsi
·          
Program Tahun 2005
 :
Pembangunan Jalan
·          
Sumber Pendanaan
 :
APBD Provinsi Kalimantan Timur
Sampai saat ini masih dalam tahap pembahasan di tingkat DPRD Prov. Kalimantan Timur. Sejak tahun 2003 Pemerintah Prov. Kalimantan Timur telah memprogramkan pembangunan jalan Gusik-Simpang Blusuh-Sendawar dengan cara multiyears contract untuk segera membuka hubungan jalan darat Ibukota Provinsi dengan Ibukota Kabupaten Kutai Barat di Sendawar.
·          
Penyebab Kerusakan
 :
- Sistim drainase kurang baik
- Kelambatan penanganan pada saat kerusakan dini
·          
Tanggap darurat
 :
Tanggal 5 Juli 2005 Dinas PU Provinsi Kalimantan Timur telah memerintahkan kontraktor setempat untuk segera memperbaiki kerusakan jalan dimaksud

Demikian kami laporkan, dan terimakasih atas perhatian Bapak Menteri Pekerjaan Umum.

                                                                                 DIREKTUR JENDERAL BINA MARGA           
 

                                                                                                   HENDRIANTO.N         
                                                                                                    NIP.110016212                   
 Proposal
Proposal, menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah rencana yang dituangkan dalam bentuk rancangan kerja.

Bagian-bagian proposal
Latar belakang
Latar belakang berisi tentang masalah atau keprihatinan apa yang ingin diangkat dan dijadikan tema dalam acara. Terdiri dari 2(dua) paragraf, paragraf pertama berisi tentang keprihatinan atau masalah yang menjadi tema, paragraf kedua  berisi tentang gambaran acara secara umum.
Nama Kegiatan
Berisi tentang nama kegiatan yang akan diadakan secara lengkap dan jelas dan dengan hruf capital semua. Jika ada singkatan, harap diberi keterangan untuk menjelasakan judul.
Tujuan Kegiatan
Berisi tentang tujuan kegiatan yang ingin dicapai. Tuuan diharapkan jelas dan tak membingungkan.
Dasar pelaksana
Berisi tentang yang mendasari pelaksanaan acara. Dapat berisi :
Surat Keputusan / Surat Edaran
Mandat
Program Kerja
Rapat ( dengan dicantumkan tanggal, tempat, peserta dan hasil rapat)
Bentuk kegiatan
Berisi tentang bentuk acara yang akan dilaksanakan. Dengan rincian secara jelas untuk setiap kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan
Berisi tentang rincian mengenai waktu pelaksanaan acara. Dilengkapi dengan segala keperluan pelaksanaan acara seperti, jadwal acara, dll.
Pelaksana
Berisi tentang informasi mengenai target peserta dan susunan kepanitiaan dari panitia yang bekerja.
Anggaran
Berisi tentang rancangan pemasukan dan pengeluaran untuk keseluruhan acara.
Penutup (Pengesahan)
Berisi tentang pengesahan dari pimpinan berupa tanda tangan, contoh (lihat lampiran)

Proposal biasanya disertakan dalam satu paket dengan susunan sebagai berikut :
-          Surat Pengantar ( undangan)
-          Proposal
-          Surat Pengantar (Penawaran)
-          Sponsorship
-          Form Keikusertaan Sponsorship
-          Surat Perjanjian

Untuk contoh dari setiap bagian dapat dilihat di bagian lampiran.


Rapat
Rapat adalah komunikasi timbal balik dengan sarana bahasa antara dua orang atau lebih untuk memperdalam permohonan suatu masalah, agar dapat mencapai kesepahaman dan memutuskan pengambilan langkah tertentu dalam rangka kerjasama yang tepat.

Persiapan Rapat
-          menciptakan suasana komunikatif
-          menemukan/ merumusakan kebutuhan atau masalah
-          menemukan tujuan yang hendak dicapai
-          mengumpulkan sumber informasi pengolahan
-          mempersiapkan startegi dan teknik rapat
-          mempersiapkan perencanaan rinci
-          persiapan evaluasi

Hal-hal yang mempengaruhi rapat
-          keterampilan pemimpin
-          agenda rapat
-          waktu rapat

Robert’s ruler of order
-          hanya membahas satu hal dalam satu rapat
-          setiap masalah atau persoalan dibicarakan dengan bebas, dengan prinsip pertukaran gagasan dan perasaan secara berarti
-          kebulatan pendapat mayoritas lebih diutamakan, tetapi kaum minoritas juga berhak berpendapat
-          setiap peserta mempunyai hak tanggung jawab yang sama
-          bertujuan untuk kebaikan seluruh kelompok  (walau kadang sering dibelokkan menjadi kebaikan individu)
-          menghadapkan pembicaraan pada forum (tak berbisik atau ngobrol sendiri)

Tata cara mengajukan pendapat
1.      Setiap mau mengajukan pendapat harus dengan seizing ketua (tak memotong pembicaraan orang lain)
2.      Mengankat tangan lebih dahulu sebelum berpendapat
3.      Berbicara sesuai topik
4.      Berimbang antara pro dan kontra
Ada dua cara penyampaian pendapat :
-          Bergantian ( pro kemudia kontra)
(+) : ide banyak keluar
(-) : - memakan waktu
       - saling mencari kelemahan masing-masing
-          Sistem blok (pro menyelesaikan seluruh pendapat dulu, lalu begitu juga dengan kontra)
(+) : - rapat tak terlalu konflik
        - ide medasar / detail
        - analisis tajam
               (-)  : rapat sepi

Pengambilan Keputusan
Jika dalam waktu rapat tak bias dihasilkan keputusan yang mutlak maka akan diadakan :
-          Buzz session (break)
-          Voting (pengambilan suara)
Terdiri dari  : - Mayoritas sederhana : ((1/2) + 1) suara keseluruhan
                                     - Mayoritas relatif : mayoritas menang
                                     - Sistem babak (ada banyak calon)
             Kalau hal sangat penting harus ⅔ suara keseluruhan setuju.

Peranan ketua dalam rapat
Tugas pokok : membantu peserta agar dapat berkomunikasi dan mencapai tujuan
Prinsip Ketua : Ketua harus adil dan berdiri di atas semua golongan, menguasai hal-hal teknis.
Tipe Ketua : - Otoriter (memaksakan kehendak, peserta hanya menerima saja)
                       - Partisipatif (semua keputusan adalah keputusan forum)




 Laporan Pertanggungjawaban (LPJ)
Terdiri dari 5 bagian :
a.      Pendahuluan
b.      Persiapan
c.       Pelaksanaan
d.      Laporan keuangan
e.       Penutup dan lampiran

Pendahuluan
Berisi tentang ucapan terima kasih kepada Tuhan dan seluruh pendukung acara seperti sponsor. Rangkuman secara singkat bagaimana acara berlangsung dan manfaat yang didapat dari acara juga kesimpulan yang menyatakan acara sukses atau tidak.

Persiapan
Berisi tentang segala persiapan menuju acara. Dijelaskan secara runtut dan jelas. Hal yang dibahas antara lain adalah rapat dan transaksi yang dilakukan, permohonan izin dan segala yang berhubungan dengan persiapan acara.

Pelaksanaan
Berisi tentang pelaksanaan acara secara keseluruhan. Dijelaskan secara kronologis dan jelas. Dijelaskan per hari atau per acara, serta mencantumkan kejadian apa yang terjadi, faktor pendukung dan penghambat acara, waktu.

Laporan keuangan
Berisi tentang laporan keuangan acara secara jelas dan runtut. Dibagi menjadi 3 bagian : - Pemasukan
             - Pengeluaran
             - Balance (jumlah pengeluaran dan pemasukan dalam satu tabel)
Ditulis dalam sistem tabel dan berisis tanggal transaksi, uraian transaksi, jumlah dan keterangan (kwitansi atau nota). (contoh lihat lampiran)
Penutup
Merupakan lembar pengesahan yang berisi tanda tangan.



Kata Penghubung

Kata hubung korelatif memiliki status sintaksis yang terdiri atas 2 bagian yang dipisahkan oleh satu kata / frase / klausa. Kalimat yang emnggunakan kata hubung korelatif disebut kalimat korelatif.

Kata penghubung yang sering digunakan :
-          Baik… maupun…
-          Tidak hanya… tetapi juga…
-          Bukan hanya… melainkan juga…
-          Demikian… hingga…
-          Sedemikian rupa… sehingga…
-          Apa(kah)… atau…
-          Entah… entah…
-          Jangankan… pun…


Fakta dan Opini
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
Fakta adalah hal (keadaan, peristiwa) yg merupakan kenyataan; sesuatu yg benar-benar ada atau terjadi.
Opini adalah pendapat; pikiran; pendirian.

a.  Ciri-ciri fakta :
-          Benda, peristiwa yang sungguh terjadi dan ada
-          Benda, peristiwa yang dapat ditangkap oleh pancaindra (dilihat, didengar, diraba)
-          Sesuatu yang dapat diobservasi atau diuji kebenarannya

b. Ciri-ciri opini :
-          Informasi berupa gagasn, pendapat dan harapan

Ikhtisar : Penyajian singkat dari suatu karangan asli tetapi tidak mempertahankan urutan isi dan sudut pandang pengarang asli



Fonem – Morfem – Kata – Frase – Klausa – Kalimat – Paragraf – Wacana

1. Fonem : Kesatuan bunyi terkecil yang membedakan arti.
Contoh :
Saya : 4 huruf, 4 fonem
Sangat : 6 huruf, 5 fonem
Pulau  : 5 huruf, 4 fonem
               Huruf yang dicetak tebal adalah fonem.
 Fonem homorgan : sedaerah artikulasi / sama dasar ucapannya
    yaitu :
-          m homorgan dengan  b, p
-          n homorgan dengan  s, t, d, l
-          ny homorgan dengan  c, j, s
-          ng homorgan dengan  k, g, kh

2. Morfem : Kesatuan yang ikut serta dalam pembentukan kata yang dapat dibedakan artian
 a. Morfem bebas : kata dasar / morfem yang dapat berdiri sendiri
contoh : lari, pergi, makan, dll.
 b. Morfem terikat : morfem yang tidak bias berdiri sendiri (imbuhan)
                 contoh :  
-    Prefiks / awalan : me-, ber-
-    Infiks / sisipan : -el-, -em-, -er-
-    Sufiks / akhiran : -kan, -an, -i
-    Konfiks / gabungan imbuhan : ke-an, per-kan, dll.

~ Alomorf : variasi bentuk imbuhan karena pengaruh kata yang diikuti
 Ber + sama : bersama à ber-
 Ber + rasa : berasa  à be-
 Ber + kerja : bekerja à be-
 Ber + ajar : belajar à bel-
Kata yang dicetak tebal adalah alomorf.

~ Nasalisasi : Proses memberi nasal pada fonem
“Bunyi nasal = bunyi sengau = bunyi yang keluar dari rongga hidung “
Me + Bantu à membantu, mem- adalah nasalisasi

~ Kata dasar = kata tunggal = kata dasar primer
   Kata kompleks = kata jadian = kata berimbuhan = kata turunan
   Bentuk dasar = kata dasar sekunder = kata sebelum bentukan terakhir

   Contoh :
     Berkekuatan :  
-          Kata dasar = kuat
-          Kata kompleks = kekuatan, berkekuatan
-          Bentuk dasar = kekuatan

3. Frase : kata tyang mengalami perluasan, tetapi perluasan tersebut tidak menimbulkan pola kalimat baru. (minimal 2 kata dan tidak berbeda fungsi)
Contoh : Guru itu
               Guru baru itu
               Guru matematika yang baru itu
   Ketiga contoh diatas adalah subjek suatu kalimat dan merupakan frase

Macam-macam Frase :

a.      Menurut jenis kata :
-          Frase nominal à inti nya kata benda à meja itu
-          Frase verbal à inti nya kata kerja à sudah pergi
-          Frase ajektival à inti nya kata sifat à sangat cantik
-          Frase adverbalà inti nya kata keterangan à baru saja
b.      Menurut kedudukannya :
-          Frase setara / sederajat / koordinatif à suami istri, kakak adik, ibu bapak
-                                                                               Frase bertingkat à Diterangkan-Menerangkan (D-M), Menerangkan-Diterangkan(M-D)
    Contoh : Sudah Pergi , sudah adalah M, pergi adalah inti / D

c.       Menurut sifatnya :
-          Frase endosentris :
a.                                                                                                                   Endosentris atributif berimbuhan : sama seperti system D-M, M-D, tetapi M diberi imbuhan
b.      Endosentris apositif
Contoh : Ani, teman sekelasku, sedang sakit
       Teman sekelasku adalah frase endosentris apositif
-          Frase Eksosentris (didahului eksposisi)
Contoh : ke pasar, di rumah











LAMPIRAN

Nomor     : 1256/OSISSMACC/X/07                                                         22 Oktober 2007
Hal           : Surat Undangan
Lampiran : 1(satu) berkas

Yth. Bpk. Direktur PT. Karya Bangun
Jalan Batu Hidup Raya 71 nomor 30
Jakarta Barat 15100

            Dengan hormat,

    Waktu berjalan cepat dan tak terduga. Pertambahan umur membuat kita menjadi lebih dewasa dan lebih matang dalam bersikap dan berperilaku serta tidak lupa untuk semakin memperbaiki diri agar menjadi lebih baik lagi. Bertepatan dalam rangkaian peringatan 80 tahun SMA Kolese Kanisius, kami selaku OSIS SMA Kolese Kanisius mengundang bapak untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam acara yang kami rencanakan yaitu “Canisius Fun Fair 2007”. Kegiatan akan kami adakan pada :

            hari, tanggal : Sabtu, 24 November 2007
            waktu           : Pukul 07.00 s.d. 17.30
            tempat          : SMA Kolese Kanisius
                                    Jalan Menteng Raya nomor 64
                                    Menteng, Jakarta Pusat
            acara             : terlampir dalam berkas

    Kami sangat mengaharapkan partisipasi dan kedatangan bapak dalam acara ini. Atas perhatian bapak, kami ucapkan terima kasih.



Henry Jonathan
Ketua OSIS SMA Kolese Kanisius












PROPOSAL

CANISIUS FUN FAIR 2007




Oleh :
Henry Jonathan     (XI-C / 18)


JURUSAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
SMA KANISIUS
JAKARTA
2007
CANISIUS FUN FAIR 2007






  1. Latar Belakang
        
           Dewasa ini pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi tiap manusia. Tetapi sekarang, pendidikan menjadi bukan lagi hanya tentang belajar mengajar di dalam kelas, dimana guru menerangkan pelajaran dan mengajak para murid untuk aktif terlibat. Tetapi apakah itu semua cukup untuk mendidik seseorang untuk menjadi yang berguna? Lebih dari sekadar membagikan ilmu, tetapi sekolah sebagai tempat menuntut ilmu juga harus dapat menjadi tempat pembentukkan karakter manusia yang berakhlak, berbudi, menjunjung tinggi kejujuran dan kepedulian terhadap sesama.
           Memang banyak sekolah bermunculan pada dewasa ini, tetapi belum tentu mereka menjadi temapt pembentukkan karakter bagi para murid. SMA Kolese Kanisius adalah salah satu sekolah yang dapat dipercaya bukan hanya dalam tempat menuntut ilmu tetapi juga mendidik para murid menjadi seseorang yang kompeten tetapi juga peduli sesame. Demi mengenalkan SMA Kolese Kanisius secara lebih luas ke masyarakat, maka kami selaku OSIS SMA Kolese Kanisius mengadakan acara “Canisius Fun Fair 2007”. Kami ingin agar masyarakat mengenal SMA Kanisius lebih mendalam bukan hanya sekedar dari nama saja.

  1. Nama Kegiatan

Adapun nama kegiatan ini adalah :
“CANISIUS FUN FAIR 2007”

  1. Tujuan Kegiatan

           Tujuan dari kegiatan ini antara lain adalah :
-          Pengenalan SMA Kanisius secara meluas kepada masyarakat
-          Pengenalan kepada masyarakat meliputi :
    1. Bidang akademik
~ Sistem pengajaran
~ Sistem kurikulum
~ Sistem penilaian
~ Prestasi dalam bidang akademik
    1. Bidang Non-akademik
~ Demo Ekskul
~ Acara-acara yang rutin dan pernah diadakan SMA Kanisius
~ Prestasi dan Penghargaan
-          Agar masyarakat lebih mengenal SMA Kanisius bukan hanya dari berita-berita saja tetapi benar-benar mengetahui apa saja yang diajarkan dan kehidupan di SMA Kanisius
-          Menghapus kabar miring tentang kekerasan yang ada di sekolah
-          Meningkatkan minat para calon siswa baru untuk tahun ajaran 2008/2009



  1. Dasar Pelaksanaan

           Kegiatan ini dapat berlangsung berdasarakan :
    1. Rapat Kerja OSIS (1 September 2007, Ruang OSIS SMA Kanisius, Pemgurus inti OSIS)
    2. Surat Keputusan Kepala SMA Kanisius (nomor 233 tentang Pelaksanaan acara intra sekolah)
    3. Program Kerja OSIS SMA Kanisius periode 2007/2008

  1. Bentuk Kegiatan

           Adapun bentuk dari kegiatan ini adalah Presentasi, demo ekskul dan bazaar.
- Presentasi meliputi :
  1. Presentasi tentang sisitem pendidikan yang berlangsung di SMA Kanisius
Presentasi ini akan menjelaskan tentang sistem pengajaran yang terdapat dalam SMA Kanisius dan menjelaskan keunggulan SMA Kanisius.
  1. Presentasi tentang kualitas dan kuantitas dari staf-staf pengajar SMA Kanisius
Presentasi ini akan menjelaskan tentang pengajar-pengajar di Kanisius lebih mendalam sehingga masyarakat luas mengetahui bagaimana kualitas pengajar-pengajar di SMA Kanisius

- Demo Ekskul meliputi :
  1. Demo setiap ekskul yang berada dalam naungan SMA Kanisius
  2. Demo akan berlangsung sesuai dengan tempat berlatih setiap ekskul, dimana setiap ekskul akan mempresentasikan kegiatan yang dalam ekskul dan prestasi apa yang pernah dicapai.
  3. Interaksi dengan pengunjung, seperti pengunjung ikut mencoba salah satu kegiatan ekskul yang ada

- Bazaar meliputi :
  1. Stand-stand dari pihak sponsorship
















  1. Pelaksanaan Kegiatan

           Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :

          hari, tanggal : Sabtu, 24 November 2007
          waktu           : Pukul 07.00 s.d. 17.30
          tempat          :  Komplek SMP-SMA Kolese Kanisius
          acara             :

No.
Waktu
Acara
Tempat
1
07.00-07.30
Pembukaan
-          Kata sambutan Kepala SMA Kanisius
-          Kata sambutan Ketua OSIS SMA Kanisius
-          Tampilan (3 lagu) dari CWE (Canisius Wind Ensemble)
-          Pembukaan secara simbolis oleh Kepala Sekolah SMA Kanisius
Panggung di miringan dekat lapangan sepakbola
2
07.30-09.00
Presentasi 1 : “Pendidikan Ilmu dan Karakter”
Aula lantai 4
3
08.00-09.00
Hiburan di panggung
Tempat demo setiap ekskul
4
09.00-09.30
Break
Hiburan di panggung :
-          Band ambur
-          Band ferang
Pengumuman dimulainya demo ekskul
Panggung
5
09.30-11.00
Presentasi 2 : “Mengajar dari hati : panggilan hidupku”
Aula lantai 4
6
12.00-13.30
Presentasi 3: “Canisius : to be man with and for others”
Aula lantai 4
7
09.30-15.40
Demo ekskul berlangsung
Tempat demo ekskul masing-masing
8
16.00-17.30
Penutupan
Panggung
                   






   
  1. Pelaksana Kegiatan

           Susunan Kepanitiaan Canisius Fun Fair 2007 :
Pelindung                : Dr. H. Ing. Fauzi Bowo
Penanggung Jawab : Pater Baskoro Poedji Noegroho,S.J.
Pembina                  : Pater Sigit Widisana,S.J.
Pembimbing           : Bpk. Petrus

Ketua           : Henry Jonathan
Wakil Ketua : Christopher Hades
Sekretaris     : Ricky Maulidin
Bendahara    : Paswera Kristanto

Koordinator Bidang :
  1. Sie Publikasi : Anton Pradera
             Anggota :
    1. Bambang Hayu
    2. Suganto Wijaya
    3. Wawan Sadeli
    4. Harun Permana
    5. Laksmo Yuda
    6. Bamung Tirto
    7. Saptojo Weddy
    8. Kares Hatur
    9. Rasya Darmo
    10. Lomang Buri

  1. Sie Acara : Felix Hanjaya
       Anggota :
    1. Desar Simajua
    2. Fateh Yahya
    3. Masar Sibuan
    4. Jajang Charis
    5. Yadi Lepo
    6. Rusty Sae
    7. Kimin Bustar
    8. Hadi Torung
    9. Padera Tjipto
    10. Fendy Aria

  1. Sie Konsumsi : Andreas Gani
                    Anggota :
1.      Bambang Harno
2.      Tema Murakim
3.      Kolader Ambari
4.      Hasan Sadi
5.      Lampard Robert
6.      Chris Deni
7.      Handy Sandjaja
8.      Uki Tulus
9.      Posan Haposan
10.  Gian Anung

  1. Sie Keamanan : Dema Rasing
               Anggota :
1.      Lopan Jujang
2.      Federer
3.      Kiki Matung
4.      Derry Awan
5.      Thomas Siap
6.      Amzar Hulab
7.      Wanto Kumar
8.      Ishadi Palacio
9.      Guntur Permana
10.  Hamer Hommer

  1. Sie Koordinator Ekskul : Poltak Sihombing
                              Anggota :
1.      Sastoro Wiguna
2.      Kaleb Dariawan
3.      Yosua Haman
4.      Juliman Tabur
5.      Sandajaya
                       
                    Kami juga telah mengundang sekolah-sekolah yang berada di wilayah    Jabodetabek. Target pesrta yang akan datang :
-          Orang tua dan siswa-siswi  SMP se-Jabodetabek
-          Orang tua dan siswa-siswi SMA se-Jabodetabek














  1. Anggaran

a. Pemasukan :
    1. Kas OSIS                                                                    =   Rp.  1.500.000,-
    2. Dana Yayasan                                                             =   Rp.  4.000.000,-
    3. Sponsorship                                                                =   Rp. 11.000.000,- +
                                                                                                            Rp. 16.500.000                            
      b. Pengeluaran :
             1. Sie Publikasi
                  1.1. Cetak poster  1000@Rp.3000,-                            =   Rp. 3.000.000,-
                  1.2. Transport                                                               =   Rp. 1.000.000,-
                        1.3. Spanduk 10@Rp.50.000,-                                    =   Rp.    500.000,-
                  1.4. Baju panitia 62@Rp.15.000,-                               =   Rp.    930.000,-
                  1.5. Name tag 62@Rp.5000,-                                       =   Rp.   310.000,-

             2. Sie Acara
                 2.1. Dekorasi                                                                 =  Rp.    500.000,-
                 2.2. Baterai 9V 5@Rp.10.000,-                                    =  Rp.      50.000,-
                 2.3. Sewa panggung                                                      =  Rp.  3.000.000,-
                 2.4. Sound system                                                        =   Rp. 4.000.000,-
             3. Sie Konsumsi
                 3.1. Snack Pagi  110@Rp.5.000,-                              =   Rp.      550.000,-
                 3.2. Makan Siang  110@Rp.10.000,-                         =  Rp.    1.100.000,-
                 3.3. Snack sore 110@Rp.5000,-                                 =   Rp.       550.000,-
                 3.4. Aqua gelas 10@Rp.24.000,-                               =   Rp.        240.000,-

             4. Sie Keamanan
                  4.1. Sewa HT 11@Rp.75.000,-                                 =  Rp.        825.000,-

             5. Biaya tak terduga                                                        =  Rp.        195.000,- +
                                                                                                         Rp.   16.500.000,-
















  1. Halaman Pengesahan

Acara ini telah disetujui dan disahkan oleh :
Jakarta, 22 September 2007




Henry Jonathan                                                                                  Christopher Hades
 Ketua                                                                                                 Wakil Ketua


                                                 Mengetahui,





                                                  Bpk. Petrus
                                                     Pembina

                                                 Menyetujui,





Pater Sigit Widisana,S.J                                               Pater Baskoro Poedji Noegroho,S.J.
Moderator SMA Kanisius                                                     Kepala SMA Kanisius















Nomor     : 1256/OSISSMACC/X/07                                                         22 Oktober 2007
Hal           : Surat Undangan
Lampiran : 1(satu) berkas

Yth. Bpk. Direktur PT. Karya Bangun
Jalan Batu Hidup Raya 71 nomor 30
Jakarta Barat 15100

            Dengan hormat,

   Setiap kegiatan membutuhkan biaya yang tak sedikit dan kami pun dalam pelaksanaan kegiatan ini, kami tidak menutup mata bahwa kami membutuhkan bantuan dari bapak untuk lancarnya  perjalanan kegiatan ini. Kegiatan ini sendiri akan diadakan pada :

            hari, tanggal : Sabtu, 24 November 2007
            waktu           : Pukul 07.00 s.d. 17.30
            tempat          : SMA Kolese Kanisius
                                    Jalan Menteng Raya nomor 64
                                    Menteng, Jakarta Pusat
            acara             : terlampir dalam berkas

    Kegiatan ini akan diikuti oleh siswa-siswa SMP-SMA se-Jabodetabek.
    Kami sangat mengaharapkan partisipasi dan kedatangan bapak dalam acara ini. Atas perhatian bapak, kami ucapkan terima kasih.




Henry Jonathan
Ketua OSIS SMA Kolese Kanisius
















CANISIUS FUN FAIR 2007
                                            SPONSORSHIP

No.
Sponsorship
Tipe
Harga
Fasilitas
1
-          Menjadi sponsor utama acara ini
-          Nama Perusahaan akan tercantum pada poster dan spanduk sebagai sponsor utama
-          Mendapat 5 stand (berukuran 2 meja) dan juga dapat memasang  7 spanduk untuk pemasaran produknya
-          Perusahaan menyiapkan dan membuat spanduk produk sendiri, panitia tak menyediakan
-          Tak ada produk sejenis Sponsor utama yang ikut menjadi sponsor
Utama
Rp.7.500.000,-
5 stand,7 spanduk
2
-          Nama Perusahaan akan tercantum pada poster dan spanduk
-          Mendapat 3 stand (berukuran 2 meja) dan juga dapat memasang  5 spanduk untuk pemasaran produknya
-          Perusahaan menyiapkan dan membuat spanduk produk sendiri, panitia tak menyediakan
-          Tak ada produk sejenis Sponsor Tipe A yang ikut menjadi sponsor
A
Rp.1.500.000,-
3 stand,5 spanduk
3
-          Nama Perusahaan akan tercantum pada poster dan spanduk
-          Mendapat 2 stand (berukuran 2 meja) dan juga dapat memasang  3 spanduk untuk pemasaran produknya
-          Perusahaan menyiapkan dan membuat spanduk produk sendiri, panitia tak menyediakan
-          Tak ada produk sejenis Sponsor Tipe B yang ikut menjadi sponsor
B
Rp.750.000,-
2 stand,3 spanduk
4
-          Nama Perusahaan akan tercantum pada poster dan spanduk
-          Mendapat 1 stand (berukuran 2 meja) dan juga dapat memasang  1 spanduk untuk pemasaran produknya
-          Perusahaan menyiapkan dan membuat spanduk produk sendiri, panitia tak menyediakan.
C
Rp.500.000,-
1 stand,1 spanduk

FORMULIR KESEDIAAN SPONSORSHIP
“CANISIUS FUN FAIR 2007”

             Nama (Perusahaan) : PT. Karya Bangun

             Pekerjaan (Jabatan ) : Direktur Utama

                         Alamat : Jalan Batu Hidup Raya 71 nomor 30
                                        Jakarta Barat 15100

                         Telepon : (021) 3456213
                          Contact Person : Bpk. David Yuli Setiawan,S.Si.,M.Si.

                          Menyatakan bersedia ikut serta menjadi sponsor pada :
                          Tanggal : 29 Oktober 2007
                          Tipe Sponsorship : Utama

Jakarta,29 Oktober 2007




David Yuli Setiawan,S.Si.,M.Si.
Direktur Utama P.T. Karya Bangun







Formulir yang telah diisi mohon diserahkan pada :
SMA Kanisius
Jalan Menteng Raya nomor 64  Menteng, Jakarta Pusat, telp. (021) 31936464
* Contact Person : Anton Pradera
* Telp : 0817-2345123
* Paling lambat tanggal 3 November 2007
SURAT PERJANJIAN
“CANISIUS FUN FAIR 2007”

Yang bertandatangan di bawah ini
Nama : Henry Jonathan
Pekerjaan : Ketua OSIS SMA Kanisius
Alamat :  Jalan Sunter Hijau II Blok V4 nomor 17, Jakarta Utara 14350

Dalam hal ini berlaku atas nama panitia “CANISIUS FUN FAIR 2007”
Selanjutnya disebut pihak I

Nama : David Yuli Setiawan,S.Si.,M.Si.
Pekerjaan : Direktur Utama P.T. Karya Bangun
Alamat :  Jalan Batu Hidup Raya 71 nomor 30
                                                     Jakarta Barat 15100

Dalam hal ini berlaku atas nama sponsorship “CANISIUS FUN FAIR 2007”
Selanjutnya disebut pihak II

Kedua pihak sepakat mengadakan perjanjian yang diatur dalam pasal-pasal berikut

Pasal I
Pihak II bersedia menyediakan uang tunai yang besarnya sesuai dengan pilihan sponsorship kepada Pihak I

Pasal II
Pihak I mencantumkan nama pihak II sesuai dengan perjanjian dalam tabel sponsorship


Pasal III
Kedua pihak, baik pihak I maupun pihak II harus saling menjaga nama baik masing-masing dan jangan terjadi penyalahgunaan nama dengan sembarangan

Pasal  IV
Apabila terjadi perselisihan, akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan terlebih dahulu sebelum dibawa ke jalur hukum

Surat Perjanjian ini dibuat rangkap 2, untuk pihak I dan II. Keduanya memiliki kekuatan hukum yang sama.

                                          Jakarta,29 Oktober 2007

        Pihak I                                                                                    Pihak II




Henry Jonathan                                                          David Yuli Setiawan,S.Si.,M.Si.
Ketua OSIS SMA Kanisius                                           Direktur Utama P.T. Karya Bangun





























LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN

CANISIUS FUN FAIR 2007




Oleh :
Henry Jonathan     (XI-C / 18)



JURUSAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
SMA KANISIUS
JAKARTA
2007







LAPORAN PERTANGGUNGJAWABAN
CANISIUS FUN FAIR 2007

1. Pendahuluan

            Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas perlindungan dan penyertaannya selama persiapan hingga terlaksananya acara “CANISIUS FUN FAIR 2007” ini. Banyak rintangan dan kendala yang datang dan menghadang kami tapi kami berhasil mengatasi semuanya hingga lancarnya pelaksanaan “CANISIUS FUN FAIR 2007”.
            Kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada setiap panitia yang telah bekerja keras dan memberikan yang terbaik sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik. Juga untuk setiap peserta, kami berterima kasih atas perhatian dan keikutsertaannya pada acara kali ini.
            Acara ini juga dapat berlangsung dengan lancar berkat bantuan dana dari para sponsorship dan para donatur yang telah membantu. Kami mengucapkan banyak terima kasih atas setiap bantuan yang diberikan.
            Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dan tak dapat kami sebutkan satu per satu.
Setiap bantuan yang diberikan sangat berharga bagi kami. Kami tak melihat seberapa besar bantuan tersebut, tetapi kami melihat kesediaan para panitia, peserta, sponsorship serta para donatur.
Kegiatan “CANISIUS FUN FAIR 2007” berjalan dengan lancar. Pelaksanaan acara diadakan Sabtu, 24 November 2004 pada pukul 07.00 s.d. 17.30. Semua acara berjalan dengan baik, mulai dari presentasi sampai dengan demo ekskul. Acara ini dikunjungi kurang lebih sebanyak 2500 orang, termasuk didalamnya para siswa-siswi SMP-SMA se-Jabodetabek beserta orangtua mereka.
Secara keseluruhan acara menuai sukses besar karena para peserta menyatakan kepuasannya pada acara kali ini, hal ini dapat kami lihat dari hasil angket yang kami sebarkan dan hasilnya menunjukan tingkat kepuasan yang tinggi dan mereka berharap acara “CANISIUS FUN FAIR 2007” ini dapat dilkasanakan kembali pada tahun berikutnya dan menjadi acara tahunan di SMA Kolese Kanisius.
Acara ini sendiri memberikan manfaat yang baik bagi para siswa-siswi SMP-SMA se-Jabodetabek beserta orangtua mereka untuk mengenal SMA Kolese Kanisius lebih mendalam lagi sehingga kabar miring tentang kekerasan dalam sekolah di SMA Kolese Kanisius pun telah terbukti hanya kabar burung belaka. Selain itu para orangtua lebih mengetahui mekanisme pengajaran dan pendidikan di SMA Kolese Kanisius ini, sehingga mereka dapat memilih sekolah yang terbaik bagi para putra mereka.
Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan semua pihak untuk terlaksananya acara ini dan dari hasil akhir dan manfaat yang dirasakan oleh para peserta, kami akan mengusahakan agar kegiatan ini dapat terlaksana kembali pada tahun depan.






2. Persiapan

            Kegiatan “CANISIUS FUN FAIR 2007”, kami mulai dari sebuah ide dan gagasan para pengurus OSIS SMA Kolese Kanisius periode 2007/2008 yang akhirnya kami rampungkan pada rapat yang terlaksana pada :
                        hari, tanggal : Sabtu, 1 September 2007
                        waktu           : pukul 14.00 s.d. 17.00
                        tempat          : ruang OSIS
                        peserta          : pengurus OSIS
            Rapat ini pun akhirnya merampungkan suatu keputusan bahwa acara “CANISIUS FUN FAIR 2007” ini akan dilaksanakan dalam tujuan untuk mengenalkan SMA Kolese Kanisius lebih luas ke dalam masyarakat dan memperjelas kabar-kabar miring tentang Kanisius.
            Setelah rapat awal penentuan acara ini juga diadakan rapat pleno per bidang yang terlaksana dengan baik dan lancar, setelah itu baru kami rampungkan semuanya kembali dalam rapat pleno pelaksanaan acara.
            Di dalam setiap rapat yang kami adakan, kami juga mengadakan evaluasi yang berguna untuk terus memperbaiki mutu dan kualitas dari rapat yang kami adakan. Kami merasa rapat-rapat yang telah kami melaksanakan berjalan dengan baik, tetapi kami merasakan kendala di waktu juga ketika sedikitnya ide atau gagasan yang keluar di rapat, tetapi segala sesuatu berjalan sesuai rencana dan terlaksana dengan baik.
            Persiapan terus kami lakukan dari hal-hal teknis maupun non-teknis. Mulai dari permohonan izin aula, lapangan dan seluruh kompleks SMP-SMA Kolese Kanisius, kami mendapatkan izin sesuai dengan yang kami harapkan.
            Lalu juga dengan dana, kami berhasil mendapatkan sesuai target yang kami lampirkan di proposal. Banyak perusahaan dan donatur yang membantu kami dalam hal pendanaan ini sehingga kami tak banyak menemui kesulitan dalam mencari dana.
            Dari setiap dana yang kami dapat, kami gunakan semaksimal mungkin. Dari setiap bidang mendapat jatah dana yang cukup dan sesuai kebutuhan. Dana kami keluarkan sesuai dengan apa yang telah kami rencanakan sebelumnya, dari pembuatan poster dan spanduk, pembuatan kaos panitia hingga konsumsi bagi para panitia.
            Semua persiapan yang kamimlakukan terbayar dengan lunas ketika kami melihat bahwa acara ini dapat dikatakan sukses dan memberikan banyak manfaat bagi para peserta dan panitia.


3. Pelaksanaan

            3. 1. Pagi ( pukul 07.00 s.d. pukul 11.00 )
                   3. 1. 1. Kegiatan utama :
                               a. Pembukaan “CANISIUS FUN FAIR 2007”
Acara pembukaan ini terlaksana dengan lancar. Antara lain penampilan yang luar biasa dari CWE dan pelepasan dua burung merpati sebagai simbol pembukaan acara.
                               b. Presentasi 1 : “Pendidikan Ilmu dan Karakter”
Para tamu datang tepat waktu dan acara berlangsung dengan tertib dan teratur.  Bapak Petrus memimpin presentasi pertama ini. Presentasi berisi tentang pendidikan di Kolese Kanisius, dari bagaimana kurikulumnya, staf pengajarnya dan prestasi yang dicapai. Juga diterangkan bahwa Kolese Kanisius tidak hanya membangun kecerdasan seorang anak tapi membangun karakter yang dibutuhkan bagi masa depan sang anak.
                               c. Persiapan terakhir demo ekskul
Para ekskul melakukan persiapan terakhir. Dari pengecekan alat samapai latihan terakhir sebelum para tamu dan undangan melakukan kunjungan dan melihat-lihat setiap kegiatan ekskul yang ada.
                               d. Hiburan di panggung
Setelah presentasi 1 diadakan rehat sebelum memulai presentasi 2 dan demo ekskul. Para band yang tampil mengisi acara tampil memukau dan mendapat sambutan yang meriah dari para tamu dan undangan.
                               e. Presentasi 2 : “Mengajar dari hati : panggilan hidupku”
Presentasi 2 dimoderatori oleh Ibu Indra. Presentasi lebih kepada pembagian pengalaman dari para staf pengajar Kolese Kanisius, bagaimana mereka mengajar siswa-siswa Kolese Kanisius dengan segala keunikannya. Para guru bercerita suks duka mereka selama menjadi guru di Kolese Kanisius.

                   3. 1. 2. Kejadian penting :
                               a. Pater Baskoro meminta CWE untuk mengiringinya menyanyikan
                                   sebuah lagu
                               b. Presentasi 1 dan 2 melebihi batas waktu karena banyak orang tua
                                   dan siswa yang bertanya
                   3. 1. 3. Faktor – faktor :
                               3. 1. 3. 1. Pendukung :
                                                a. Para peserta presentasi sangat aktif
                                                b. Cuaca baik (matahari cerah dan tak hujan)
                               3. 1. 3. 2. Penghambat :
                                                a. Mic saat hiburan di panggung  sempat mati beberapa saat

             3. 2. Siang ( pukul 12.00 s.d. pukul 15.40 )
                   3. 2. 1. Kegiatan utama :
                               a. Presentasi 3: “Canisius : to be man with and for others”   
Presentasi 3 dimoderatori oleh Pater Baskoro. Presentasi lebih sebagai lanjutan dari presentasi 1, karena pada presentasi ini menjelaskan apa visi dan misi dari Kolese Kanisius dan mengapa Kanisius ini didirikan. Para tamu dan undangan memenuhi aula lantai IV.     
                               b. Demo ekskul
Demo Ekskul berlangsung dengan lancar. Para tamu dan undangan pun mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Adanya eksebisi yang diadakan tiap ekskul membuat acara ini lebih interaktif.
                   3. 2. 2. Kejadian penting :
                               a. Ada persembahan lagu dari Persevera ketika presentasi 3
                               b. Para peserta acara bertanding basket dengan ekskul basket
                               c. Para peserta acara mencoba alat-alat musik tiup di ekskul CWE
                               d. Presentasi 1 dan 2 melebihi batas waktu karena banyak orang tua
                                   dan siswa yang bertanya

                   3. 2. 3. Faktor – faktor :
                               3. 2. 3. 1. Pendukung :
                                                a. Suplai mencukupi dan tidak terjadi mati listrik
                                                b. Para peserta acara baik para orangtua maupun siswa-
                                                    siswi yang datang sangat aktif dan mau terlibat dalam
                                                     acara
                               3. 2. 3. 2. Penghambat :
                                                a. Para panitia sulit mendapatkan konsumsi karena ada
                                                    perubahan informasi yang kurang tersebar

             3. 3. Sore ( pukul 16.00 s.d. pukul 17.30 )
                   3. 3. 1. Kegiatan utama :
                               a. Penutupan “CANISIUS FUN FAIR 2007”       
Penutupan berlangsung agak terlambat dari jadwal karena presentasi 3 yang berlangsung melebihi jadwal dan eksebisi demo ekskul. Penutupan dimeriahkan dengan pembacaan pengumuman door prize dan para guru bersama-sama bernyanyi untuk menghibur para tamu dan undangan.
                   3. 3. 2. Kejadian penting :
                               a. Acara penutupan agak terlambat karena waktu presentasi dan demo
                                   ekskul melebihi jadwal
                               b. Persembahan drama dari Cradha
                   3. 3. 3. Faktor – faktor :
                               3. 3. 3. 1. Pendukung :
                                                a. Cuaca cerah dan sedikit mendung
                               3. 3. 3. 2. Penghambat :
                                                a. Presentasi dan demo ekskul melebihi jadwal

4. Laporan Keuangan

            ( terlampir )









5. Penutup

Demikian Laporan Pertanggungjawaban “CANISIUS FUN FAIR 2007” ini, kami sampaikan.

                                         Jakarta, 12 Desember 2007
                                                  Hormat kami,




Henry Jonathan                                                                                     Ricky Maulidin
 Ketua                                                                                                 Sekretaris

                                                 Mengetahui,





                                                  Bpk. Petrus
                                                     Pembina

                                                 Menyetujui,





Pater A. Sigit Widisana,S.J                                      Pater E. Baskoro Poedji Noegroho,S.J.
Moderator SMA Kanisius                                                       Kepala SMA Kanisius















LAPORAN KEUANGAN
“CANISIUS FUN FAIR 2007”

1. Rekapitulasi Pemasukan

            1. 1. Dana Sekolah
No.
Tanggal
Uraian
Jumlah(Rp)
Ket.
1
22-10-2007
Kas Yayasan
4.000.000
Kuitansi 1
2
25-10-2007
Kas OSIS
1.500.000
Kuitansi 2


Total
5.500.000


            1. 2. Sponsorship
                       
No.
Tanggal
Uraian
Jumlah(Rp)
Ket.
1
26-10-2007
Sponsorship A : P.T. AYO
1.500.000
Kuitansi 3
2
29-10-2007
Sponsorship Utama : P.T. Karya Bangun
7.500.000
Kuitansi 4
3
30-10-2007
Sponsorship B : P.T. MAJU
750.000
Kuitansi 5
4
30-10-2007
Sponsorship C : P.T. OZONE
500.000
Kuitansi 6
5
31-10-2007
Sponsorship B : P.T. SUARA
750.000
Kuitansi 7
6
31-10-2007
Sponsorship C : P.T. BRAKE
500.000
Kuitansi 8



Total
11.500.000


2. Rekapitulasi Pengeluaran
           
            2. 1. Sie. Publikasi

No.
Tanggal
Uraian
Jumlah(Rp)
Ket.
1
11-11-2007
Transport Publikasi
800.000
Kuitansi 9
2
12-11-2007
Cetak Poster
3.000.000
Nota 1
3
13-11-2007
Spanduk
450.000
Nota 1
4
14-11-2007
Name Tag
310.000
Nota 1
5
15-11-2007
Baju Panitia
930.000
Nota 1


Total
5.490.000


            2. 2. Sie. Acara

No.
Tanggal
Uraian
Jumlah(Rp)
Ket.
1
17-11-2007
Baterai 9V
70.000
Nota 2
2
17-11-2007
Stryofoam
75.000
Nota 2
3
17-11-2007
Cat Poster
120.000
Nota 2
4
17-11-2007
Lampu 5 Watt
50.000
Nota 2
5
17-11-2007
Kabel 50 M
75.000
Nota 2
6
17-11-2007
Kertas Krep
50.000
Nota 2
7
20-11-2007
DP Sound System
1.000.000
Kuitansi 13
8
20-11-2007
DP Panggung
1.000.000
Kuitansi 14
9
24-11-2007
Pelunasan Sound System
3.000.000
Kuitansi 15
10
24-11-2007
Pelunasan Panggung
2.000.000
Kuitansi 16


Total
7.440.000


            2. 3. Sie. Konsumsi

No.
Tanggal
Uraian
Jumlah(Rp)
Ket.
1
18-11-2007
Aqua Gelas
250.000
Nota 3
2
19-11-2007
DP Snack Pagi
200.000
Kuitansi 10
3
19-11-2007
DP Makan Siang
300.000
Kuitansi 11
4
19-11-2007
DP Snack Sore
200.000
Kuitansi 12
5
24-11-2007
Pelunasan Snack Pagi
350.000
Kuitansi 17
6
24-11-2007
Pelunasan Makan Siang
800.000
Kuitansi 18
7
24-11-2007
Pelunasan Snack Sore
350.000
Kuitansi 19


Total
2.450.000


            2. 4. Sie. Keamanan

No.
Tanggal
Uraian
Jumlah(Rp)
Ket.
1
24-11-2007
Sewa HT
825.000
Kuitansi 20


Total
825.000


3. Laporan Keuangan (Balance)

No.
Pemasukan
Jumlah(Rp)
No.
Pengeluaran
Jumlah(Rp)
1
Dana Sekolah
5.500.000
1
Sie. Publikasi
5.490.000
2
Sponsorship
11.500.000
2
Sie. Acara
7.440.000



3
Sie. Konsumsi
2.450.000



4
Sie. Keamanan
825.000

Saldo



(+) 795.000


17.000.000


17.000.000

Terbilang : tujuh belas juta rupiah
                                      
  Jakarta, 10 Desember 2007





                                                                                          Paswera Kristanto
                                                                                          Bendahara


GAYA BAHASA
Pengertian gaya bahasa ialah pernyataan pikiran dan perasaan dalam bahasa dengan berbagai cara tertentu guna menarik perhatian pembaca / pendengar.
Macam-macam gaya bahasa :
1.      Gaya Bahasa Perbandingan
a.       Metonimia       : gaya dengan menggunakan kata atau nama yang berasosiasi dengan suatu benda untuk menggantikan benda yang dimaksud tadi.
Contoh                        : Mereka pergi ke Jepang untuk membeli Honda.

b.      Eufinisme        : berkaitan dengan penggunaan istilah yang lebih halus.
Contoh                        : Para pelaku kejahatan segera diamankan.

c.       Tautologi         : Gaya bahasa dengan mengatakan suatu hal dengan menggunakan kata-kata yang berbeda tetapi mempunyai persamaan arti.
Contoh                        : Semua orang sudah maklum dan tahu bahwa saya adalah seorang pendekar sakti.

d.      Alusio              : Gaya menyindir dengan menggunakan peribahasa atau pantun yang tidak diselesaikan. Pembaca dianggap sudah dapat menyelesaikannya.
Contoh                        : Jangan heran dengan janda tua ini. Dia tua-tua keladi….

e.       Metafora         : Gaya bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain. Kedua benda yang diperbandingkan mempunyai sifat yang sama. Gaya bahasa ini disebut juga gaya perbandingan secara langsung ( tanpa menggunakan kata seperti, bagai, umpama, dsb).
Contoh                        : Saya sangat menyetujui kalu orang-orang yang menjadi sampah masyarakat itu dikerjapaksakan untuk  membangun Pulau Buru.

f.       Tropen             : Gaya bahasa kiasan yang memakai kata-kata yang sejajar artinya dengan pengertian yang dimaksudkan.
Contoh                        : Minggu depan ayah akan terbang ke London.

g.      Asosiasi           : Gaya bahasa yang membandingkan sesuatu secara tidak langsung (menggunakan kata seperti, bagai, umpama, dsb).
Contoh                        : Badannya kecil seperti biola.

h.      Alegori            : Gaya bahasa yang memperlihatkan suatu perbandingan yang utuh.
Contoh                        : Saya harap Ananda berdua hati-hati dalam mendayung bahtera agar dalam mengarungi samudra kehidupan dapat bahagia. Senantiasa Ananda berdua sebagai juru mudi harus pandai-pandai menyibak topan dan badai yang akan menghancurkan bahtera rumah tanggamu.

i.        Hiperbola        : Menyatakan sesuatu secara berlebih-lebihan sehingga terlihat kurang masuk akal.
Contoh                        : Banjir darah yang meluap terjadi di wilayah Afganistan selama peperangan antara kaum Muslim Afganistan melawan pemerintahan Afganistan.

j.        Litotes             : Gaya bahasa yang maknanya berusaha merendah.
Contoh                        : Silakan masuk ke gubukku ini.

k.      Sinekdokhe     : Gaya bahasa ini terbagi menjadi :
                                                              i.      Pars pro toto                : Menyebutkan sebagian tetapi yang dimaksud adalah keseluruhannya.
Contoh                                    : Di sana, Mas Solar membeli tiga ekor burung.
                                                            ii.      Totem pro parte           : Menyebutkan keseluruhan tetapi yang dimaksud hanya sebagian.
Contoh                                    : Pertandingan itu berakhir dengan kemenangan Indonesia.

l.        Parabel                        : Gaya bahasa yang mengandung pedoman hidup dan tuntunan hidup itu terkandung dalam seluruh karangan
Contoh                        : Hikayat Mahabarata.

m.    Simbolik          : Gaya bahasa kiasan yang menggambarkan sesuatu dengan mempergunakan sesuatu benda sebagai symbol atau perlambangan.
Contoh                        : Dia termasuk lintah darat di daerahku.

n.      Perifrasis         : Gaya bahasa yang menggantikan suatu kata dengan sebuah frase yang mempunyai pengertian sama dengan kata yang digantikan.
Contoh                        : Pagi-pagi benar petani itu telah pergi ke sawah diubah menjadi Ketika matahari mulai bangun dari tidurnya petani itu telah berangakat ke sawah.

o.      Antonomasia   : Gaya bahasa yang menyebut sesuatu dengan menyatakn sifat atau ciri yang dimilikinya.
Contoh                        : Si Botak sudah datang.

p.      Personifikasi    : Gaya bahasa yang mengandaikan benda mati dapat hidup dan berperilaku sebagai manusia
Contoh                        : Rumput- rumput saling bercanda di pagi hari.

2.      Gaya Bahasa Perlawanan
a.       Okupasi           : Pengungkapan suatu hal yang sepintas lalu menimbulkan bantahan atau keraguan dan pembaca terpaksa berpikir dan bertanya-tanya tentang kebenaran pernyataan itu. Tetapi pada akhirnya penulis mencoba menghilangkan keraguan pembaca dengan menjelaskan dan memberi contoh.

b.      Paradoks         : Gaya bahasa mengemukakan dua pengertian yang bertentangan sehingga yang dikemukakan terkesan kurang masuk akal, sekalipun sebenarnya dapat diterima
Contoh                        : Aku merasa kesepian hidup di kota yang ramai ini.
c.       Antitesis          : Gaya bahasa pertentangan yang menggunakan kata-kata yang berlawanan arti
Contoh                        : Hidup matinya, susah senangnya, kaya miskinnya serahkanlah padaku.

d.      Kontradiksio in Terminis        : Gaya bahasa dengan menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang dikatakan semula. Apa yang sudah dikatakan disangkal lagi oleh ucapan kemudian.
Contoh                        : Semuanya sudah beres kecuali transportasi.

e.       Anakhronisme : Gaya bahasa yang menunjukkan bahwa dalam uraian ada sesuatu yang tidak sesuai dengan sejarah. Sesuatu yang disebutkan dalam cerita itu belum ada pada masa itu.
Contoh                        : Setelah orang itu mati lantas membuka selimutnya.

3.      Gaya Bahasa Penegasan
a.       Repetisi           : Gaya bahasa dengan menggunakan kata-kata yang sama berulang-ulang agar mendapat perhatian pembaca.
Contoh                        : Uang, uang, uang saja yang dicarinya.

b.      Elipsis              : Gaya bahasa dengan menggunakan kalimat yang hanya sebagian saja, kelanjutannya diserahkan kepada pembaca atau pendengar.
Contoh                        : Dari segi fisik anda tidak apa-apa, tetapi psikis….

c.       Inversi             : Penggunaan pola kalimat yang berbeda dengan yang biasa dengan membalikkan urutan subjek dan predikat
Contoh                        : Mengangislah dia setelah mendengar bahwa dia tidak lulus.

d.      Retoris             : Gaya bahasa penegasan dengan menggunakan kalimay tanya-tak bertanya, sering menyatakan kesangsian atau bersifat mengejek.
Contoh                        : Inikah yang kau namai bekerja?”

e.       Koreksio          : Gaya bahasa penegasan yang berusaha membetulkan kembali perkataan yang salah baik yang diucapkan sengaja atau pun tidak.
Contoh                        : Silakan keluar, eh maaf, silakan masuk.

f.       Enumerasio     : Gaya bahasa yang melukiskan beberapa peristiwa secara satu per satu sehingga membentuk satu-kesatuan yang jelas.
Contoh                        : Pagi cerah. Di ufuk timur sang bagaspati telah muncul dari peraduannya. Merah merona sinarnya, Burung-burung kecil Nampak riang mendendangkan lagu ‘selamat pagi’. Angin pun Nampak berhembus perlahan dari diam. Embun satu persatu mulai menetes dari dedaunan membasahi bumi. Semua berpadu membangun suatu panorama yang semarak. Itulah keindahan yang tiada tara.

g.      Prateriti           : Gaya bahasa yang sengaja menghilangkan sebagian dari seluruh kalimat dan pembaca dibiarkan melanjutkan sendiri mengenai apa yang dimaksudkan.
Contoh                        : Mengenai kecantikan cewek itu, tak usah kukatakan dulu. Biarlah engkau melihatnya. Apa gunanya kuceritakan lagi? Bukankah semua sudah tahu.

h.      Enklamasio      : Gaya bahasa penegasan yang mempergunakan sisipan berupa frase atau kata di tengah kalimat dengan tujuan menambah kejelasan.
Contoh                        : Dalam keadaan tidak sadar ia, anak malang itu, diculik penjahat.

i.        Polisindenton  : Gaya bahasa penegasan dengan menyebutkan beberapa hal keadaan atau benda secara berturut-turut dengan memakai kata penghubung.
Contoh                        : Buronan itu tetap tidak mengaku, maka polisi mengahajarnya lagi sehingga badannya babak belur.

j.        Asisdenton      : Gaya bahasa penegasan dengan menyatakan beberapa keadaan, hal atau benda secara berturut-turut tanpa kata penghubung.
Contoh                        : Buku, tas, pensil, penggaris berserakan di kamar.

k.      Klimaks           : Penyebutan beberapa benda, hal, keadaan, atau kerja secara berturut-turut makin lama makin meningkat kadarnya.
Contoh                        : Sepeda, motor, mobil, sampai pesawat pribadi pun dimilikinya.

l.        Antiklimaks     : Penyebutan beberapa benda, hal, atau kerja bermula dari yang berkadar tinggi makin lama makin rendah.
Contoh                        : Kakeknya, ayahnya, dia sendiri, dan kini adiknya semuanya tak ada yang luput dari penyakit keturunan itu.

m.    Pleonasme       : Pengungkapan suatu hal dua kali, tetapi kata atau frase yang kedua sebenarnya sudah tersirat.
Contoh                        : Ia naik ke atas.

4.      Gaya Bahasa Sindiran
a.       Ironi                : Gaya bahasa yang menyatakan kebalikan dari keadaan yang sesungguhnya dengan tujuan menyindir,
Contoh                        : Wah, masakannya sedap benar (Kenyataannya tidak enak).

b.      Sinisme            : Gaya menyindir yang lebih kasar dari ironi
Contoh                        : Muak aku melihat perangaimu yang tak juga pernah berubah.

c.       Saarkasme       : Gaya mengejek secara terus terang bahkan sampai merendahkan seseorang.
Contoh                        : Hai anjing keparat, enyahlah kau dari sini!
Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan dan dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan. Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b (tidak boleh a-a-a-a, a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.

Contoh:
Air dalam bertambah dalam
Hujan di hulu belum lagi teduh
Hati dendam bertambah dendam
Dendam dahulu belum lagi sembuh


Puisi adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan, atau selain arti semantiknya.

Penekanan pada segi estetik suatu bahasa dan penggunaan sengaja pengulangan, meter dan rima adalah yang membedakan puisi dari prosa. Namun perbedaan ini masih diperdebatkan. Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas.

Baris-baris pada prosa dapat berbentuk apa saja (melingkar, zigzag, dll). Hal tersebut merupakan salah satu cara penulis untuk menunjukkan pemikirannnya. Puisi terkadang juga hanya berisi satu kata/suku kata yang terus diulang-ulang. Bagi pembaca hal tersebut mungkin membuat puisi tersebut menjadi tidak dimengerti. Tapi penulis selalu memiliki alasan untuk segala 'keanehan' yang diciptakannya. Tak ada yang membatasi keinginan penulis dalam menciptakan sebuah puisi.

Contoh:
Aku

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Chairil Anwar


Cerita pendek atau sering disingkat sebagai cerpen adalah suatu bentuk prosa naratif fiktif. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan karya-karya fiksi yang lebih panjang, seperti novella (dalam pengertian modern) dan novel. Karena singkatnya, cerita-cerita pendek yang sukses mengandalkan teknik-teknik sastra seperti tokoh, plot, tema, bahasa dan insight secara lebih luas dibandingkan dengan fiksi yang lebih panjang. Ceritanya bisa dalam berbagai jenis.

Cerita pendek berasal dari anekdot, sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan. Dengan munculnya novel yang realistis, cerita pendek berkembang sebagai sebuah miniatur, dengan contoh-contoh dalam cerita-cerita karya E.T.A. Hoffmann dan Anton Chekhov.

Contoh:
Lelaki Tua dan Laut



NOVEL

Definisi
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis. Kata novel berasal dari bahasa Italia novella yang berarti "sebuah kisah, sepotong berita".
Novel lebih panjang (setidaknya 40.000 kata) dan lebih kompleks dari cerpen, dan tidak dibatasi keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitik beratkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut.
Novel dalam bahasa Indonesia dibedakan dari roman. Sebuah roman alur ceritanya lebih kompleks dan jumlah pemeran atau tokoh cerita juga lebih banyak.
Ciri-ciri
  1. Terdapat konflik yang mengakibatkan perubahan nasib pada pelakunya
  2. Menceritakan satu segi kehidupan pelaku.
  3. Jalan ceritanya singkat, hanya mengenai hal-hal yang pokok

Perbedaan Novel dengan Cerpen
  1. Novel memiliki lebih dari satu kejadian sedangkan cerpen hanya memiliki satu kejadian.
  2. Novel memiliki lebih dari satu alur, sedangkan novel hanya memiliki satu plot.
  3. Novel memiliki degresi (hal yang tidak berhubungan langsung dengan cerita tetapi dimasukkan dalam cerita) yang terbatas, sedangkan cerpen tidak memiliki degresi.

Roman adalah sejenis karya sastra dalam bentuk prosa atau gancaran yang isinya melukiskan perbuatan pelakunya menurut watak dan isi jiwa masing-masing. Bisa juga roman artinya adalah "kisah percintaan".

Contoh  novel terkenal yaitu karya Mira. W, diantaranya berjudul:
 Bukan Cinta Sesaat      
 Pintu Mulai Terbuka         

HIKAYAT
Definisi
Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama dalam Bahasa Melayu yang berisikan tentang kisah, cerita, dongeng, maupun sejarah. Umumnya mengisahkan tentang kehebatan maupun kepahlawanan seseorang lengkap dengan keanehan, kesaktian serta mukjizat tokoh utama.
Sebuah hikayat dibacakan sebagai hiburan, pelipur lara atau untuk membangkitkan semangat juang.
Ciri-ciri
  1. Menimba bahannya dari kehidupan raja-raja dan dewa-dewi
  2. Isinya dongeng yang serba indah yang membawa pikiran pembaca ke alam khayal
Melukiskan peperangan yang hebat, dahsyat, tempat para raja atau dewa mempertunjukkan kesaktiannya untuk merebut kerajaan atau seorang puteri

CONTOH  HIKAYAT
Hikayat Hang Tuah ialah sebuah epik kepahlawanan yang merentasi sepanjang zaman naik turun kerajaan Empayar Melaka. Hang Tuah merupakan seorang laksamana yang terutama serta pahlawan Melayu yang ganas semasa pemerintahan Sultan Mansur Shah di Melaka pada abad ke-15.
Pada masa mudanya, Hang Tuah dan empat orang temannya, iaitu Hang Jebat, Hang Kasturi, Hang Lekir, serta Hang Lekiu, membunuh segerombolan lanun dan dua orang lain yang mengamuk dan membuat kacau-bilau di dalam kampung. Si Bendahara (sama dengan Perdana Menteri dalam istilah moden) Melaka nampak bakat mereka dan mengambil mereka bertugas di dalam istana. Hang Tuah dibabadkan dalam Sejarah Melayu dan Hikayat Hang Tuah.
Semasa bertugas dengan istana Melaka, Hang Tuah membunuh seorang pahlawan Jawa yang dikenali sebagai Taming Sari. Taming Sari merupakan seorang anak buah Empayar Majapahit yang telah dihadiahkan dengan sebilah keris kuno yang dipercayai boleh menyebabkan pemiliknya tidak terkalahkan. Keris itu dinamai "Taming Sari" sempena pemiliknya yang asal.
Hang Tuah kemudian dituduh kerana berzina dengan pembantu Sultan, dan suatu keputusan serta merta dibuat untuk menghukum mati laksamana yang tidak bersalah itu. Bagaimanapun, hukuman mati itu tidak dilaksanakan, dan sebagai ganti, Hang Tuah dihantar ke suatu tempat yang terperinci oleh si Bendahara. Mempercayai bahawa Hang Tuah telah mati, Hang Jebat (menurut Hikayat Hang Tuah) atau Hang Kasturi (menurut Sejarah Melayu), melancarkan pemberontakan balas dendam terhadap Sultan Mansur Shah, dan menyebabkan keadaan kelam-kabut di kalangan penduduk. Sultan Mansur Shah berasa sesal tentang hukuman mati Hang Tuah, kerana Hang Tuah merupakan orang tunggal yang berupaya membunuh Hang Jebat (atau Hang Kasturi). Akhirnya, si Bendahara memanggil balik Hang Tuah daripada persembunyiannya, dan diampun oleh Sultan. Selepas berlawan selama tujuh hari, Hang Tuah berjaya membunuh Hang Jebat dan mendapat balik keris Taming Sarinya.
Hang Tuah meneruskan khidmatnya kepada Sultan Mansur Shah selepas kematian Hang Jebat. Pada lewat hidupnya, beliau diutuskan meminang seorang puteri yang tinggal di puncak Gunung Ledang. Beliau gagal dalam tugas itu, dan disebabkan perasaan malu, Hang Tuah terus hilang dan langsung tidak dinampak lagi. (Sila lihat rencana Puteri Gunung Ledang.)
Hang Tuah terkenal untuk pepatahnya, "Takkan Melayu Hilang di Dunia" Petikan itu merupakan sorakan yang termasyhur untuk nasionalisme Melayu.
UNSUR INTRINSIK DAN EKSTRINSIK
KARYA SASTRA


Pendahuluan
Unsur sastra meliputi dua aspek, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Adapun perincian unsur intrinsik adalah unsur yang membangun sebuah karya sastra dari dalam. Begitu pula unsur ekstrinsik yang membangun karya sastra dari luar. Kedua unsur ini selalu ada di dalam sebuah karya sastra.

Unsur Intrinsik
           Unsur intrinsik dapat berupa tema, alur, tokoh, sudut pandang, latar, dsb. Unsur intrinsik ini membangun satu kesatuan sebuah sastra, khususnya prosa. Unsur-unsur tersebut dapat dianalisis baik secara tersirat maupun tersurat tanpa harus melibatkan pihak pengarang.
Unsur intrinsik sebuah karya sastra meliputi:
  1. Tema
Tema adalah masalah yang menjiwai seluruh karangan.
  1. Alur / plot (jalan cerita)
Alur adalah jalinan peristiwa dalam karya sastra untuk mencapai efek tertentu.
Unsur-unsur alur terdiri dari:
            -. Awal cerita
               Awal cerita berisi tentang perkenalan tokoh-tokoh dalam cerita tersebut.
            -. Konflik
                     Konflik adalah ketegangan di dalam cerita rekaan atau drama, pertentangan antara dua kekuatan. Baik konflik batin maupun konflik fisik.
                  -. Perumitan
                     Pada perumitan, pertentangan semakin bertambah.
                  -. Klimaks
                     Klimaks merupakan puncak dari konflik.
                  -. Peleraian
                     Konflik mulai mereda dan akhirnya sampailah pada penyelesaian konflik.
            Jenis-jenis alur cerita:
                        -. Alur maju / alur progresif
                           Alur maju yaitu alur yang urutan ceritanya kronologis, beruntun dan menurut waktu kejadian.
                        -. Alur mundur / alur regresif
                           Alur mundur yaitu adanya tolehan kembali ke masa lampau (flash back).
                        -. Alur rapat
                           Pada alur rapat terdapat hubungan yang erat antara alur pokok dan alur pembantu.
                        -. Alur renggang
                           Pada alur renggang, hubungan alur pokok dan aur pembantu tidak erat.

  1. Perwatakan
Perwatakan adalah penyajian sifat tokoh dan penciptaan citra tokoh yang membedakan satu tokoh dengan tokoh yang lain.

  1. Penokohan
Penokohan yaitu cara pengenalan tokoh. Penokohan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
            -. Analitik
                     Analitik yaitu pengenalan tokoh secara langsung dengan mendeskripsikan watak tokoh tersebut.
                  -. Dramatik
                     Dramatik yaitu pengenalan tokoh secara tidak langsung. Tokoh diperkenalkan lewat cerita yang akan ditampilkan (bisa pula menggunakan dialog).
                  -. Campuran
   Cara pengenalan tokoh dengan menggunakan cara analitik dan dramatik
       Tokoh yang diperkenalkan memiliki empat sifat, diantaranya:
                  -. Protagonis
                  -. Antagonis
                  -. Pelerai (tritagonis).
                  -. Pembantu (figuran).

  1. Setting atau Latar
Latar adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang (tempat kejadian), dan suasana dalam karya sastra

  1. Sudut Pandang
Sudut pandang adalah posisi pencerita dalam membawa kisahan. Sudut pandang dibagi menjadi iga bagian, yaitu:
            -. Sudut pandang orang pertama
                Pencerita menjadi tokoh dalam ceritanya (pencerita akuan)
            -. Sudut pandang orang kedua
                Pencerita menjadi tokoh dalam cerita yang menceritakan tokoh lain 
                (pencerita kamuan).
            -. Sudut pandang orang ketiga
                Pencerita berada di luar cerita (pencerita diaan).

  1. Gaya Bahasa
Gaya bahasa adalah cara pengarang mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang digunakannya.






Unsur Ekstrinsik
Untuk mengetahui unsur intrinsik kita harus melakukan observasi perbandingan dan mempelajari riwayat hidup penulis inilah yang tergolong dalam unsur ekstinsik. Artinya, kalau kita mau menilai sebuah karya sastra, kita juga harus mempertimbangkan konteks penulis atas karya yang dibuatnya.
Unsur Ekstrinsk dalam karya sastra sangat banyak, diantaranya yaitu:
            -. Biografi pengarang
            -. Latar belakang pengarang
            -. Kondisi sosial
            -. Politik
            -. Filsafat



BIOGRAFI  DAN  OTOBIOGRAFI


Biografi
adalah suatu alat pengumpul data untuk mengetahui riwayat hidup seseorang yang ditulis
orang lain.
Otobiografi
adalah alat pengumpul data untuk mengetahui riwayat hidup seseorang yang ditulis sendiri oleh orang itu hingga akhir hidupnya.


Bentuk Biografi dan Otobiografi
Dilihat dari strukturnya dapat digolongkan menjadi :
1. Bentuk Berstruktur, yaitu apabila biografi atau otobiografi disusun atau ditulis dengan struktur seperti yang diminta oleh pengumpul data.
2. Bentuk Tak Berstruktur, yaitu apabila pengumpul data memberikan kebebasan atau keterbukaan pada individu dalam menuliskan biografi atau biografi, jadi tidak ada pengarahan tentang isinya.

PUISI LAMA
A.PENGERTIAN
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.Aturan- aturan itu antara lain :
1. Jumlah kata dalam 1 baris
2. Jumlah baris dalam 1 bait
3. Persajakan (rima)
4. Banyak suku kata tiap baris
5. Irama

B. MACAM-MACAM PUISI LAMA
MANTRA
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu

2.GURINDAM
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
CIRI-CIRI GURINDAM:
a. Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
b. Berasal dari Tamil (India)
c. Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.

Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)

Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )

Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )


3. SYAIR
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.

CIRI - CIRI SYAIR :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab
Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)

Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)


4.PANTUN
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.

CIRI – CIRI PANTUN :
1. Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Berasal dari Melayu (Indonesia)

Contoh :
Ada pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
MACAM-MACAM PANTUN

1. DILIHAT DARI BENTUKNYA

a. PANTUN BIASA
Pantun biasa sering juga disebut pantun saja.
Contoh :
Kalau ada jarum patah
Jangan dimasukkan ke dalam peti
Kalau ada kataku yang salah
Jangan dimasukan ke dalam hati


2. SELOKA (PANTUN BERKAIT)
Seloka adalah pantun berkait yang tidak cukup dengan satu bait saja sebab pantun berkait
merupakan jalinan atas beberapa bait.

CIRI-CIRI SELOKA:
a.    Baris kedua dan keempat pada bait pertama dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait
kedua.
b. Baris kedua dan keempat pada bait kedua dipakai sebagai baris pertama dan ketiga bait
ketiga

Contoh :
Lurus jalan ke Payakumbuh,
Kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati tak kan rusuh,
Ibu mati bapak berjalan
Kayu jati bertimbal jalan,
Turun angin patahlah dahan
Ibu mati bapak berjalan,
Ke mana untung diserahkan

3. TALIBUN
Talibun adalah pantun jumlah barisnya lebih dari empat baris, tetapi harus genap misalnya 6, 8, 10 dan seterusnya.
Jika satu bait berisi enam baris, susunannya tiga sampiran dan tiga isi.
Jika satiu bait berisi delapan baris, susunannya empat sampiran dan empat isi.
Jadi :
Apabila enam baris sajaknya a – b – c – a – b – c.
Bila terdiri dari delapan baris, sajaknya a – b – c – d – a – b – c – d



Contoh :
Kalau anak pergi ke pecan
Yu beli belanak pun beli sampiran
Ikan panjang beli dahulu
Kalau anak pergi berjalan
Ibu cari sanak pun cari isi
Induk semang cari dahulu

4. PANTUN KILAT ( KARMINA )
CIRI-CIRINYA :
a. Setiap bait terdiri dari 2 baris
b. Baris pertama merupakan sampiran
c. Baris kedua merupakan isi
d. Bersajak a – a
e. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata

Contoh :
Dahulu parang, sekarang besi (a)
Dahulu sayang sekarang benci (a)

2. DILIHAT DARI ISINYA
2.1. PANTUN ANAK-ANAK
Contoh :
Elok rupanya si kumbang jati
Dibawa itik pulang petang
Tidak terkata besar hati
Melihat ibu sudah datang

2.2. PANTUN ORANG MUDA
Contoh :
Tanam melati di rama-rama
Ubur-ubur sampingan dua
Sehidup semati kita bersama
Satu kubur kelak berdua

2.3. PANTUN ORANG TUA
Contoh :
Asam kandis asam gelugur
Kedua asam riang-riang
Menangis mayat di pintu kubur
Teringat badan tidak sembahyang
2.4. PANTUN JENAKA
Contoh :
Elok rupanya pohon belimbing
Tumbuh dekat pohon mangga
Elok rupanya berbini sumbing
Biar marah tertawa juga

2.5. PANTUN TEKA-TEKI
Contoh :
Kalau puan, puan cemara
Ambil gelas di dalam peti
Kalau tuan bijak laksana
Binatang apa tanduk di kaki

RAGAM DAN LARAS BAHASA
1.      Ragam Dan Laras Bahasa
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Bachman, 1990). Ragam bahasa yang oleh penuturnya dianggap sebagai ragam yang baik (mempunyai prestise tinggi), yang biasa digunakan di kalangan terdidik, di dalam karya ilmiah (karangan teknis, perundang-undangan), di dalam suasana resmi, atau di dalam surat menyurat resmi (seperti surat dinas) disebut ragam bahasa baku atau ragam bahasa resmi.
Ditinjau dari media atau sarana yang digunakan untuk menghasilkan bahasa, yaitu (1) ragam bahasa lisan, (2) ragam bahasa tulis. Bahasa yang dihasilkan melalui alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dinamakan ragam bahasa lisan, sedangkan bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya, dinamakan ragam bahasa tulis. Selain itu aspek tata bahasa dan kosa kata dalam kedua jenis ragam itu memiliki hubungan yang erat. Ragam bahasa tulis yang unsur dasarnya huruf, melambangkan ragam bahasa lisan. Oleh karena itu, sering timbul kesan bahwa ragam bahasa lisan dan tulis itu sama. Padahal, kedua jenis ragam bahasa itu berkembang menjdi sistem bahasa yang memiliki seperangkat kaidah yang tidak identik benar, meskipun ada pula kesamaannya. Meskipun ada keberimpitan aspek tata bahasa dan kosa kata, masing-masing memiliki seperangkat kaidah yang berbeda satu dari yang lain.

1.1  Ragam Bahasa
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang alih-alih disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baasa Indonesia ragam baku atau kosa kata bahasa Indonesia baku adalah kosa kata baku bahasa Indonesia, yang memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolok ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi di dalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak tertutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.
Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi anutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Dalam pada itu perlu yang perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara, dan topik pembicaraan (Fishman ed., 1968; Spradley, 1980).
Menurut Felicia (2001 : 8), ragam bahasa dibagi berdasarkan :
1.         Media pengantarnya atau sarananya, yang terdiri atas :
a.    Ragam lisan.
b.   Ragam tulis.
 Ragam lisan adalah bahasa yang diujarkan oleh pemakai bahasa. Kita dapat menemukan ragam lisan yang standar, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah; dan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antarteman, di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.
Ragam tulis adalah bahasa yang ditulis atau yang tercetak. Ragam tulis pun dapat berupa ragam tulis yang standar maupun nonstandar. Ragam tulis yang standar kita temukan dalam buku-buku pelajaran, teks, majalah, surat kabar, poster, iklan. Kita juga dapat menemukan ragam tulis nonstandar dalam majalah remaja, iklan, atau poster.

2. Berdasarkan situasi dan pemakaian
Ragam bahasa baku dapat berupa : (1) ragam bahasa baku tulis dan (2) ragam bahasa baku lisan. Dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis makna kalimat yang diungkapkannya tidak ditunjang oleh situasi pemakaian, sedangkan ragam bahasa baku lisan makna kalimat yang diungkapkannya ditunjang oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan unsur kalimat. Oleh karena itu, dalam penggunaan ragam bahasa baku tulis diperlukan kecermatan dan ketepatan di dalam pemilihan kata, penerapan kaidah ejaan, struktur bentuk kata dan struktur kalimat, serta kelengkapan unsur-unsur bahasa di dalam struktur kalimat.
Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian sehingga kemungkinan besar terjadi pelesapan kalimat. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan.
Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.  Kedua ragam itu masing-masing, ragam tulis dan ragam lisan memiliki ciri kebakuan yang berbeda.
Contoh perbedaan ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis (berdasarkan tata bahasa dan kosa kata) :
1.      Tata Bahasa
(Bentuk kata, Tata Bahasa, Struktur Kalimat, Kosa Kata)
a.       Ragam bahasa lisan :
-         Nia sedang baca surat kabar
-         Ari mau nulis surat
-         Tapi kau tak boleh nolak lamaran itu.
-         Mereka tinggal di Menteng.
-         Jalan layang itu untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-         Saya akan tanyakan soal itu
.
b.      Ragam bahasa Tulis :
-         Nia sedang membaca surat kabar
-         Ari mau menulis surat
-         Namun, engkau tidak boleh menolak lamaran itu.
-         Mereka bertempat tinggal di Menteng
-         Jalan layang itu dibangun untuk mengatasi kemacetan lalu lintas.
-         Akan saya tanyakan soal itu.





2.      Kosa kata
Contoh ragam lisan dan tulis berdasarkan kosa kata :
a.       Ragam Lisan
-         Ariani bilang kalau kita harus belajar
-         Kita harus bikin karya tulis
-         Rasanya masih terlalu pagi buat saya, Pak
b.      Ragam Tulis
-         Ariani mengatakan bahwa kita harus belajar
-         Kita harus membuat karya tulis.
-         Rasanya masih terlalu muda bagi saya, Pak.
Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar.
a.       ragam standar,
b.       ragam nonstandar,
c.        ragam semi standar.
Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modem (Alwi, 1998: 14).
Pembedaan antara ragam standar, nonstandar, dan semi standar dilakukan berdasarkan :
a.       topik yang sedang dibahas,
b.      hubungan antarpembicara,
c.       medium yang digunakan,
d.      lingkungan, atau
e.       situasi saat pembicaraan terjadi
Ciri yang membedakan antara ragam standar, semi standar dan nonstandar :
·     penggunaan kata sapaan dan kata ganti,
·     penggunaan kata tertentu,
·     penggunaan imbuhan,
·     penggunaan kata sambung (konjungsi), dan
·     penggunaan fungsi yang lengkap.
Penggunaan kata sapaan dan kata ganti merupakan ciri pembeda ragam standar dan ragam nonstandar yang sangat menonjol. Kepada orang yang kita hormati, kita akan cenderung menyapa dengan menggunakan kata Bapak, Ibu, Saudara, Anda. Jika kita menyebut diri kita, dalam ragam standar kita akan menggunakan kata saya atau aku. Dalam ragam nonstandar, kita akan menggunakan kata gue.
Penggunaan kata tertentu merupakan ciri lain yang sangat menandai perbedaan ragam standar dan ragam nonstandar. Dalam ragam standar, digunakan kata-kata yang merupakan bentuk baku atau istilah dan bidang ilmu tertentu. Penggunaan imbuhan adalah ciri lain. Dalam ragam standar kita harus menggunakan imbuhan secara jelas dan teliti.
Penggunaan kata sambung (konjungsi) dan kata depan (preposisi) merupakan ciri pembeda lain. Dalam ragam nonstandar, sering kali kata sambung dan kata depan dihilangkan. Kadang kala, kenyataan ini mengganggu kejelasan kalimat.
Contoh : (1) Ibu mengatakan, kita akan pergi besok
(1a) Ibu mengatakan bahwa kita akan pergi besok
Pada contoh (1) merupakan ragam semi standar dan diperbaiki contoh (1a) yang merupakan ragam standar.
Contoh : (2) Mereka bekerja keras menyelesaikan pekerjaan itu.
(2a)  Mereka bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaan itu.
 Kalimat (1) kehilangan kata sambung (bahwa), sedangkan kalimat (2) kehilangan kata depan (untuk). Dalam laras jurnalistik kedua kata ini sering dihilangkan. Hal ini menunjukkan bahwa laras jurnalistik termasuk ragam semi standar.
            Kelengkapan fungsi merupakan ciri terakhir yang membedakan ragam standar dan nonstandar. Artinya, ada bagian dalam kalimat yang dihilangkan karena situasi sudah dianggap cukup mendukung pengertian. Dalam kalimat-kalimat yang nonstandar itu, predikat kalimat dihilangkan. Seringkali pelesapan fungsi terjadi jika kita menjawab pertanyaan orang. Misalnya, Hai, Ida, mau ke mana?” “Pulang.” Sering kali juga kita menjawab “Tau.” untuk menyatakan ‘tidak tahu’. Sebenarnya, pëmbedaan lain, yang juga muncul, tetapi tidak disebutkan di atas adalah Intonasi. Masalahnya, pembeda intonasi ini hanya ditemukan dalam ragam lisan dan tidak terwujud dalam ragam tulis.

SASTRA
Pengertian
Ilmu sastra adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk sastra. Adapun yang dipelajari dalam sastra meliputi sejarah sastra, sastrawan dan hasil karyanya, aliran sastra.
Berdasarkan periodisasi sastranya, H. B. Yasin menyatakan bahwa sastra Indonesia modern lahir pada tahun 1920-an. Inilah pendapat yang diakui oleh para ahli sastra Indonesia.
Sejarah sastra Indonesia dimulai pada abad XX yang diwakili oleh karya pengarang-pengarang Balai Pustaka. Dengan demikian karya sastra yang dihasilkan sebelum abad ke-20 digolongkan dalam sastar Melayu.

Ciri Kesusastraan Lama
·         Bersifat Istanasentris
·         Bahasanya klise
·         Terikat oleh syarat-syarat yang telah mapan
·         Bentuk lebih dipentingkan daripada isi

Ciri-ciri Angkatan Balai Pustaka
·         Ciri umum yang paling menonjol ialah tujuan atau tendensinya. Hampir seluruh karya sastra Balai Pustaka jelas sekali tujuan atau tendensinya bersifat mengajar.
·         Genre sastranya meliputi roman, cerpen, drama, puisi.
·         Isinya meliputi pertentangan paham antara kaum tua dengan muda, soal kawin paksa, permaduan, kebangsawanan, pikiran kontara darah kebangsawanan, dsb.
·         Corak lukisannya bersifat romantic sentimental.
·         Bahasanya : kalimat-kalimatnya masih banyak menggunakan perbandingan, pepatah, serta ungkapan-ubgkapan klise.

Ciri-ciri Angkatan Pujangga Baru
·         Genre sastranya : roman, novel, cerpen, esai, kritik, drama, puisi.
·         Isinya meliputi : segala persoalan yang menjadi cita-cita sesuai dengan semangat kebangunanbangsa Indonesia pada waktu itu misalnya politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kebudayaan, dsb.
·         Corak lukisannya bersifat romantic idealis sebab pada umumnya melukiskan hal-hal yang diangan-angankan. Dan hal-hal yang diangan-angankan itu ialah cita-cita atau ide yang diperjuangkan untuk membentuk apa yang baru, yang dibayangkan sebagai hal yang indah gemilang.
·         Bahasanya : angkatan Pujangga Baru nenperjuangkan bahasa dari pergaulan modern, perbandingan-perbandingan dan kiasan-kiasan serba baru, sesuai dengan kepribadian pengarangnya masing-masing.
Dalam buku H. B. Yasin ada juga disebut Angkatan 42 atau “Angkatan di Masa Jepang” atau “Angkatan Perang Dunia II” yang dicatatnya mempunyai arti :
1.      Hasrat romantik pada Angkatan 42 lebih keras, lebih berbentuk dan berakar pada realitas. Jadi sifatnya romantik realistis.
2.      Hasrat kemerdekaannya bersifat terang dan tegas menginginkan tanah yang merdeka.

Ciri-ciri Angkatan 45
·         Bercorak realism dan ekspresionisme
·         Diilhami dan dipengaruhi pujangga dunia (Rusia, Italia)
·         Berpandangan universal
·         Isi lebih dipentingkan daripada bentuk
·         Hasil karya paling banyak muncul : cerpen, puisi, esai, dan drama

Ciri-ciri Angkatan 66
·         Bercorak realism
·         Bertema protes sosial dan politik
·         Hasil karya yang banyak muncul berbentuk puisi yang berisikan protes
Perbedaan Angkatan 45 dan Angkatan 66
Angkatan 45
Angkatan 66
Namanya mulai digunakan oleh Rosihan Anwar dalam majalah Siasat
Namanya mulai digunakan oleh H. B. Yasin dalam bukunya “Angkatan 66”
Isi lebih dipentingkan dan keindahan bahasa agak diabaikan
Isi dan keindahan bahasa sama-sama dipentingkan
Muncul untuk memerangi tata nilai sastra lama
Muncul untuk memerangi kezaliman orde lama
Kelahiran angkatan ditandai dengan munculnya puisi “Aku” karya Chairil Anwar
Kelahiran ditandai dengan munculnya puisi Taufik Ismail yang berjudul “Tirani dan Benteng”






Perbedaan Angkatan 30 dengan angkatan 45
Angkatan 30
Angkatan 45
Bercorak idealisme
Bercorak realisme
Karya sastra masih terikat
Karya sastra berbentuk bebas pada kaidahnya
Bentuk dan keindahan bahasa dipentingkan
Isi dan nilai estetis lebih dipentingkan
Setting kolonialisme
Setting kemerdekaan
Dipengaruhi Pujangga Belanda
Dipengaruhi Pujangga Dunia


Wawancara
Wawancara sangat penting dalam dunia jurnalistik. Wawancara merupakan proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik.

Wawancara vs reportase
Apakah wawancara sama dengan reportase? Jawabnya adalah tidak.
Reportase memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas dari wawancara, sedangkan wawancara adalah salah satu teknik reportase.

Jenis Wawancara
  1. Man in the street interview. Untuk mengetahui pendapat umum masyarakat terhadap isu/persoalan yang akan diangkat jadi bahan berita.
  2. Casual interview. Wawancara mendadak. Jenis wawancara yang dilakukan tanpa persiapan/perencanaan sebelumnya.
  3. Personality interview. Wawancara terhadap figure-figur public terkenal. Atau orang yang memiliki kebiasaan/prestasi/sifat unik, yang menarik untuk diangkat sebagai bahan berita.
  4. News interview. Wawancara untuk memperoleh informasi dari sumber yang mempunyai kredibilitas atau reputasi di bidangnya.

Wawancara yang Baik

Agar tugas wawancara kita dapat berhasil, maka hendaknya diperhatikan hal-hal - antara lain - sebagai berikut:
  1. Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara. Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya.
  2. Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku di tempat pelaksanaan wawancara tersebut. Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.
  3. Jangan mendebat nara sumber. Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah.
    Contoh yang baik: "Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?"
    Contoh yang lebih baik lagi: "Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?"
    Contoh yang tidak baik: "Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak."
  4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum, dan biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber.
  5. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin dan to the point. Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara.
  6. Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya. Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya.
  7. Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber. Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber "buka mulut". Sedangkan untuk nara sumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar nara sumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara.
  8. Pewawancara juga hendaknya bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber, dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang.
  9. Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, "Jangan bicara tentang kucing di depan seorang pecinta anjing".
  10. Bagi seorang reporter pers yang belum ternama, seperti pers kampus dan sebagainya, kendala terbesar dalam proses wawancara biasanya bukan wawancaranya itu sendiri, melainkan proses untuk menemui nara sumber. Agar kita dapat menemui nara sumber tertentu dengan sukses, diperlukan perjuangan dan kiat-kiat yang kreatif dan tanpa menyerah. Salah satu caranya adalah rajin bertanya kepada orang-orang yang dekat dengan nara sumber. Koreklah informasi sebanyak mungkin mengenai nara sumber tersebut, misalnya nomor teleponnya, alamat villanya, jam berapa saja dia ada di rumah dan di kantor, di mana dia bermain golf, dan sebagainya.


Jenis paragraf
Beberapa penulis seperti Sabarti Akhadiah dan kawan-kawan, Gorys Keraf, Soedjito, dan lain-lain membagi paragraf menjadi tiga jenis. Criteria yang mereka gunakan adalah sifat dan tujuan paragraf tersebut. Namun karena pebicaraan tentang letak kalimat utama juga memberikan nama tersendiri bagi setiap paragraf, penulis cenderung menjadikan topik letak kalimat utama sebagai salah satu penjenisan paragraf. Berdasarkan hal tersebut, jenis paragraf dibedakan sebagai berikut.
1. Jenis Paragraf Berdasarkan Sifat dan Tujuannya
Keraf (1980:63-66) memberikan penjelasan tentang jenis paragraf berdasarkan sifat dan tujuannya sebagai berikut.
(1) Paragraf Pembuka
Tiap jenis karangan akan mempunyai paragraf yang membuka atau menghantar karangan itu, atau menghantar pokok pikiran dalam bagian karangan itu. Sebab itu sifat dari paragraf semacam itu harus menarik minat dan perhatin pembaca, serta sanggup menyiapkan pikiran pembaca kepada apa yag sedang diuraikan. Paragraf yang pendek jauh lebih baik, karena paragraf-paragraf yang panjang hanya akan meimbulkan kebosanan pembaca.
(2) Paragraf Penghubung
Yang dimaksud dengan paragraf penghubung adalah semua paragraf yang terdapat di antara paragraf pembuka dan paragraf penutup.
Inti persoalan yang akan dikemukakan penulisan terdapat dalam paragraf-paragraf ini. Sebab itu dalam membentuk paragraf-paragraf prnghubung harus diperhatikan agar hubungan antara satu paragraf dengan paragraf yang lainnya itu teratur dan disusun secara logis.
Sifat paragraf-paragraf penghubung bergantung pola dari jenis karangannya. Dalam karangan-karangan yang bersifat deskriptif, naratif, eksposisis, paragraf-paragraf itu harus disusun berasarkan suatu perkembangan yang logis. Bila uraian itu mengandung perntagan pendapat, maka beberapa paragraf disiapkan sebagai dasar atau landasan untuk kemudian melangkah kepada paragraf-paragraf yang menekankan pendapat pengarang.
(3) Paragraf Penutup
Paragraf penutup adalah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan. Dengan kata lain paragraf ini mengandung kesimpulan pendapat dari apa yang telah diuraikan dalam paragraf-paragraf penghubung.
Apapun yang menjadi topik atau tema dari sebuah karangan haruslah teteap diperhatikan agar paragraf penutup tidak terlalu panjang, tetapi juga tidak berarti terlalu pendek. Hal yang paling esensial adalah bahwa paragraf itu harus merupakan suatu kesimpulan yang bulat atau betul-betul mengakhiri uraian itu serta dapat menimbulkan banyak kesan kepada pembacanya.
2. Jenis Paragraf Berdasarkan Letak Kalimat Utama
Letak kalimat utama juga turut menentukan jenis paragraf, dari dasar tersebut penulis menetapkan letak kalimat utama dalam paragraf sebagai salah satu criteria penjenisan paragraf. Penjenisan paragraf berdasarkan letak kalimat utama ini berpijak pada pendapat Sirai, dan kawan-kawan(1985:70-71) yang mengemukakan empat cara meletakkan kalimat utama dalam paragraf.
(1) Paragraf Deduktif
Paragraf dimulai dengan mengemukakan persoalan pokok atau kalimat utama. Kemudian diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas yang berfungsi menjelaskan kalimat utama. Paragraf ini biasanya dikembangkan dengan metode berpikir deduktif, dari yang umum ke yang khusus.
Dengan cara menempatkan gagasan pokok pada awal paragraf, ini akan memungkinkan gagasan pokok tersebut mendapatkan penekanan yang wajar. Paragraf semacam ini biasa disebut dengan paragraf deduktif, yaitu kalimat utama terletak di awal paragraf.
(2) Paragraf Induktif
Paragraf ini dimulai dengan mengemukakan penjelasan-enjelasan atau perincian-perincian, kemudian ditutup dengan kalimat utama. Paragraf ini dikembangkan dengan metode berpikir induktif, dari hal-hal yang khusus ke hal yang umum.
(3) Paragraf Gabungan atau Campuran
Pada paragraf ini kalimat topik ditempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf. Dalam hal ini kalimat terakhir berisi pengulangan dan penegasan kalimat pertama. Pengulangan ini dimaksudkan untuk lebih mempertegas ide pokok karena penulis merasa perlu untuk itu. Jadi pada dasarnya paragraf campuran ini tetap memiliki satu pikiran utama, bukan dua.. Contoh paragraf campuran seperti dikemukakan oleh Keraf (1989:73):
Sifat kodrati bahasa yang lain yang perlu dicatat di sini ialah bahwasanya tiap bahasa mempunyai sistem. Ungkapan yang khusus pula, masing-masing lepas terpisah dan tidak bergantung dari yang lain. Sistem ungkapan tiap bahasa dan sistem makna tiap bahasa dibatasi oleh kerangka alam pikiran bangsa yang memiliki bahasa itu kerangka pikiran yang saya sebut di atas. Oleh karena itu janganlah kecewa apabila bahasa Indonesia tidak membedakan jamak dan tunggal, tidak mengenal kata dalam sistem kata kerjanya, gugus fonem juga tertentu polanya, dan sebagainya. Bahasa Inggris tidak mengenal “unggah-ungguh”. Bahasa Zulu tidak mempunyai kata yang berarti “lembu”, tetapi ada kata yang berarti “lembu putih”, “lembu merah”, dan sebagainya. Secara teknis para linguis mengatakan bahwa tiap bahasa mempunyai sistem fonologi, sistem gramatikal, serta pola semantik yang khusus.
(4) Paragraf Tanpa Kalimat Utama
Paragraf ini tidak mempunyai kalimat utama, berarti pikiran utama tersebar di seluruh kalimat yang membangun paragraf tersebut. Bentuk ini biasa digunakan dalam karangan berbentuk narasi atau deskripsi. Contoh paragraf tanpa kalimat utama:
Enam puluh tahun yang lalu, pagi-pagi tanggal 30 Juni 1908, suatu benda cerah tidak dikenal melayang menyusur lengkungan langit sambil meninggalkan jejak kehitam-hitaman dengan disaksikan oleh paling sedikit seribu orang di pelbagai dusun Siberi Tengah. Jam menunjukkan pukul 7 waktu setempat. Penduduk desa Vanovara melihat benda itu menjadi bola api membentuk cendawan membubung tinggi ke angkasa, disusul ledakan dahsyat yang menggelegar bagaikan guntur dan terdengar sampai lebih dari 1000 km jauhnya.(Intisari, Feb.1996 dalam Keraf, 1980:74)
Sukar sekali untuk mencari sebuah kalimat topik dalam paragraf di atas, karena seluruh paragraf bersifat deskriptif atau naratif. Tidak ada kalimat yang lebih penting dari yang lain. Semuanya sama penting, dan bersama-sama membentuk kesatuan dari paragraf tersebut.
Paragraf tanpa kalimat utama disebut juga paragraf naratif atau paragraf deskriptif, yang merupakan salah satu jenis paragraf yang dibicarakan dalam penelitian in

Resensi
Berasal dari kata re dan esensi
Memiliki dua fungsi :
fungsi perkenalan dan fungsi iklan.

Terdiri atas lima bagian :
  1. Identitas
Berisi judul buku, penerbit, pengarang, tebal buku, harga buku, genre buku.
  1. Sinopsis buku
  2. Kepengarangan
Berisi gaya bahasa karya2 sebelumnya
  1. Kritik penulis resensi
  2. Bahasan Subjektif dari penulis

Surat

Pengertian: jenis karangan paparan yang wujudnya berupa percakapan tertulis dan digunakan sebagai alat komunikasi.

Fungsi :
1.      Alat komunikasi
2.      Alat bukti tertulis
3.      Alat pengingat
4.      Duta organisasi
5.      Pedoman kerja

Jenis-Jenis:
1.      Surat pribadi
Surat yang dikirimkan oleh keluarga ,kenalan, atau sahabat. Dalam surat pribadi struktur surat tidak begitu mengikuti aturan karena sifatny yang pribadi.
2.      Surat resmi
Surat yang dikirimkan oleh kantor pemerintah/swasta kepada kantor pemerintah / dikirimkan oleh seseorang kepada kantor pemerintah dan sebaliknya
3.      Surat niaga
Surat yang berhubungan dengan masalah perdangangan. Surat niaga/ perdagangan bersifat resmi juga.

Bagian-bagian Surat
1.      Kepala surat
Fungsi kepala surat sebagai indentitas diri bagi instansti bersangkutan. Hal yang ada dalam kepala surat adalah logo, nama instansi , alamat , kode pos, nomor telepon , nomor faksimile,dll.
2.      tanggal dan tempat surat
Sebagai petunjuk tempat dibuatnya surat dan petunjuk kapan surat itu dibuat. Tanggal surat harus ditulis sejajar dengan nomor surat. Apabila sudah tercantum dalam kepala surat, nama tempat tidak perlu ditulis lagi.
3.      nomor surat
memudahkan pengarsipan , memudahkan dalam mencari kembali surat , dan sebagai bahan rujukan dalam surat-menyurat berikutnya.
4.      lampiran surat
penunjuk bagi penerima surat tentang adanya keterangan-keterangan tambahan selain surat itu.
5.      Hal surat
Memberikan informasi awal isi surat. Hal surat dapat disamakan dengan judul karangan, sehinggal tata penulisannya pun mengikuti cara penulisan judul karangan.
6.      Alamat Surat
Penunjuk tujuan surat. Pada umumnya surat dinas dikirim dengan menggunakan amplop. Maka penulisan alamat surat ada 2, yaitu alamat luar dan alamat dalam.
7.      salam pembuka
penghormatan terhadapat pihak yang dituju. Salam pembuka tersebut misalnya: dengan hormat.
8.      isi surat
fungsi alinea pembuka sebagai pengantar surat. Alinea surat hendaknya membangkitkan niat pembaca untuk membaca.
9.      alinea penutup
alinea penutup harus disesuaikan dengan isi surat. Di dalamnya bias berupa simpulan , harapan, ucapan terima kasih, atau ucapan selamat.
10.  salam penutup
salam penutup yang biasa digunakan adalah hormat kami, hormat saya, dan wassalam. Dalam surat dinas biasanya tidak digunakan salam penutup
11.  pengirim surat
pengirim surat adalah pihak yang bertanggung jawab atas penulisan , penyampaian surat. Sebgai bukti pertanggungjawaban pada bagian akhir surat harus dibubuhi tanda tangan.
12.  Tembusan Surat
Tembusan surat dibuat jika isi surat tersebut perlu diketahui oleh pihak lain. Tembusan ditulis di sebelah kiri, lurus vertical dengan nomor surat, lampiran ,dan perihal surat.

Macam-macam surat:
  1. Surat kuasa
Surat yang diberikan sebagai limpahan kuasa pada seseorang dari seseorang yang memiliki kuasa.

Struktur:
a.       Judul surat
b.      Nomor surat
c.       Alinea pembuka(indentitas I dan II)
d.      Isi/ tujuan surat
e.       Penutup surat
f.       Nama& tanda tangan


SURAT KUASA
Yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : (isi nama anda)
Pekerjaan : (isi pekerjaan anda)
Alamat : (isi alamat anda)
Dalam hal ini memilih domisili hukum di kantor kuasa tersebut di bawah nii, menerangkan bahwa dengan ini meberi kuasa kepada :
(isi nama advokat)
Advokat/Asisten Advokat/Pembela Umum/Asisten Pembela Umum pada Kantor Hukum (isi nama kantor hukumnya) yang beralamat di (isi alamatnya) yang bertindak secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama
KHUSUS
Untuk dan atas nama pemberi kuasa mengajukan gugatan di (isi nama pengadilan) mengenai (isi dengan pokok masalah) terhadap Tn/Ny (isi nama pihak lain) pekerjaan, bertempat tinggal di
Untuk itu penerima kuasa diberi hak untuk menghadap di muka Pengadilan serta badan – badan kehakiman atau pembesar pembesar lainnya, mengajukan permohonan – permohonan yang perlu, menjalankan perbuatan-perbuatan, atau memberikan keterangan – keterangan yang menurut hukum harus dijalankan atau diberikan oleh seorang kuasa, menerima dan menandatangani kuitansi – kuitansi, menerima dan melakukan pembayaran dalam perkara ini, membalas segala perlawanan, mengadakan perdamaian dengan persetujuan pemberi kuasa dan pada umumnya melakukan hal-hal yang dianggap perlu oleh penerima kuasa
Surat kuasa ini diberikan dengan hak substitusi
Jakarta,_________2007
Penerima Kuasa Pemberi Kuasa
(______________) (_______________)

  1. surat lamaran kerja
surat yang berupa permintaan/lamaran kepada suatu instansti.

Contoh:
Jakarta, 16 Februari 2009
Hal : Lamaran Pekerjaan

Kepada Yth.,
Manajer Sumber Daya Manusia
PT. Gilland Ganesha

Jl. Raya Kebon Durian No. 11
Jakarta Timur


Dengan hormat,
Sesuai dengan penawaran lowongan pekerjaan dari PT. Gilland Ganesha, seperti yang termuat di harian Kompas tanggal 14 Februari 2009. Saya mengajukan diri untuk bergabung ke dalam Tim Marketing di PT. Gilland Ganesha.
Data singkat saya, seperti berikut ini.

Nama
Tempat & tgl. lahir
Pendidikan Akhir

Alamat
Telepon, HP, e-mail
Status Perkawinan
: Benny Kasmanto
: Bukit Tinggi, 19 Februari 1976
: Sarjana Manajemen Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) - Jakarta
  (Konsentrasi Manajemen Pemasaran)
: Perum Bumi Sentosa Blok A.5 Bekasi
: 021 - 87914990, 0815 965 5695, benny_kas07@yahoo.co.id
: Menikah
Saya memiliki kondisi kesehatan yang sangat baik, dan dapat berbahasa Inggris dengan baik secara lisan maupun tulisan. Latar belakang pendidikan saya sangat memuaskan serta memiliki kemampuan manajemen dan marketing yang baik. Saya telah terbiasa bekerja dengan menggunakan komputer. Terutama mengoperasikan aplikasi paket MS Office, seperti Excel, Word, Acces, PowerPoint, OutLook, juga internet, maupun surat-menyurat dalam Bahasa Inggris.
Saat ini saya bekerja sebagai staff Marketing di PT. Hilmy Finance. Saya senang untuk belajar, dan dapat bekerja secara mandiri maupun dalam tim dengan baik.



Sebagai bahan pertimbangan, saya lampirkan :
1.     Daftar Riwayat Hidup.
2.     Foto copy ijazah S-1 dan transkrip nilai.
3.     Foto copy sertifikat kursus/pelatihan.
4.     Pas foto terbaru.
Saya berharap Bapak/Ibu bersedia meluangkan waktu untuk memberikan kesempatan wawancara, sehingga saya dapat menjelaskan secara lebih terperinci tentang potensi diri saya.
Demikian surat lamaran ini, dan terima kasih atas perhatian Bapak/Ibu.

Hormat saya,



Benny Kasmanto



Florentina Putri


3.     surat tugas
surat yang diberikan oleh atasan kepada bawahan, untuk melakukan suatu tugas atau pekerjaan tertentu.

Contoh:

SURAT TUGAS
Nomor: /B.02/03/2008
Berdasarkan Surat Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Perencana Bappenas Nomor:
1216/P.01/03/2008, tanggal 3 Maret 2008, Perihal pemanggilan para Calon Peserta Program S2 Luar Negeri –
Pusbindiklatren Bappenas Tahun 2008, dengan ini kami perintahkan kepada:
Nama : Suroyo
NIP : 3500000932
Pangkat/Gol : Penata Tk.I/III/d
Jabatan : Kasubbid Pengembangan Wilayah dan Permukiman
Unit Kerja : BAPPEDA Provinsi Kalimantan Tengah
Instansi : Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah
Untuk segera melaksanakan tugas belajar pada program persiapan bahasa Inggris (EAP) pada :
Perguruan Tinggi : Akan di tentukan kemudiaan
Tingkat : S2
Terhitung Mulai : 21 April 2008 s.d. 20 September 2008
Lama studi : 5 Bulan
Demikian untuk dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Jakarta, 14 Maret 2008
Kepala BAPPEDA PROVINSI
KALIMANTAN TENGAH
Ttd + stempel
(............................)
NIP: ………………..
Tembusan Yth.:
1) Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Perencana, Bappenas;
2) PPK PPSDMA Bappenas;
3) Gubenur Kalimantan Tengah di Palangka Raya;
4) Kepala Kantor Kepegawaian Daerah Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya;
5) Pertinggal.

Diskusi
Dalam diskusi yang baik, setiap peserta diskusi hendaknya bersikap aktif selama diskusi berlangsung.

Cara merumuskan gagasan:
  1. Apa yang hendak disampaikan?
  2. Untuk tujuan apa kita menyampaikan hal tersebut?
  3. Bagaimana kita menyampaikan?
  4. Bagaimana pemilihan kata sehingga mempengaruhi struktur kalimat yang hendak digunakan?

Hal-hal yang harus kita lakukan sewaktu diskusi:
  1. mencatat pokok-pokok pembicaraan.
  2. mencatat hal-hal yan masih kita pertanyakan (hal-hal yang kurang jelas).
  3. mencatat masalah-masalah yang akan kita tanggapi dgn sanggahan

Untuk menyampaikan suatu sanggahan yang baik hendaknya:
  1. menggunakan alasan yang logis untuk memperkuat gagasan.
  2. didukung dengan fakta.
  3. menggunakan kalimat efektif.
  4. memperlihatkan santun berbahasa (tidak menyinggung lawan bicara.)

FORMAT LAPORAN HASIL PENELITIAN
· Jenis Kertas : HVS 70 gram ukuran A-4 (21,5cm x 29,7 cm)
· Jenis huruf : Time New Roman 12 point dengan spasi 1,5 (line spacing = 1,5 lines)
· Batas kiri : 4 cm
kanan : 3 cm
atas : 3 cm
bawah : 3 cm
1. Teras (diberi nomor halaman romawi kecil)
Ø Halaman Kulit (Cover)
Ø Halaman Judul
Ø Halaman Identitas dan Pengesahan
Ø Abstrak (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris)
Ø Kata Pengantar
Ø Ucapan Terimakasih
Ø Daftar Isi
Ø Daftar Tabel, Gambar, Grafik, Diagram, Notasi dan lain-lain (jika ada)
2. Tubuh/Isi (diberi nomor halaman angka arab)
Berikut adalah sebuah contoh isi dari tubuh laporan penelitian:
Bab I : Pendahuluan
Ø Latar Belakang
Ø Permasalahan
Ø Tujuan Penelitian
Ø Manfaat Penelitian
Ø Hipotesis (bila Ada)
Ø Ruang Lingkup Pembahasan
Ø Sistematika Penyusunan Laporan
Bab II : Tinjauan Pustaka
Bab III : Metode Penelitian
Ø Variabel Penelitian
Ø Teknik Pengambilan Sample
Ø Teknik Pengumpulan Data
Ø Pengkodean (Bila Ada)
Ø Teknik (Metode) Analisa Data
Bab IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Ø Pengumpulan, Pengolahan Dan Interpretasi Data
Ø Analisa Data
Bab V : Kesimpulan Dan Saran
Ø Kesimpulan (Merupakan Hasil Analisa, Bukan Ringkasan).
Ø Saran (Berisi Tindak Lanjut Nyata Atas Kesimpulan Yang Diperoleh).
3. Penutup (diberi nomor halaman angka arab)
Ø Daftar Pustaka
Ø Lampiran (jika ada)



Hal-hal yang harus dipersapkan ketika membuat laporan penelitian:
  1. Menentukan topik penelitian
  2. Membatasi topik dan menentukan judul penelitian
  3. Menentukan masalah dan tujuan penelitian
  4. Menulis teori yang digunakan dalam penelitian
  5. Menetapkan metode penelitian
  6. Menetapkan metode penelitian

Saat menggunakan penelitian deskriptif, hendaknya anda hendak menjelaskan:
  1. Sasaran penelitian
  2. Data yang dikumpulkan
  3. Cara mengumpulkan data
  4. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data



Hal-hal yang harus diperhatikan saat mengumpulkan data:
  1. Menyiapkan instrumen pengumpulan data. Dengan cara wawancara atau menyebar kuesioner.
  2. Mencatat data dokumenter yang relevan dan teliti
  3. Melakukan transkrip data yang berupa data lisan atau merangkum kuesioner.
  4. Melakukan identifikasi, penyeleksiab, pengklsifikasian, dan pengurutan data yang diperoleh dengan masalah penelitian yang aksn dipecahkan.
  5. Melakukan analisis data dengan cara menafsirkan maskan setiap kelompok data sesuai dengan kerangka teori yang digunakan.

Membaca Cepat

Membaca cepat adalah suatu teknik membaca (membaca diam) dengan proses melihat, memperhatikan, melacak meteri (selama setu menit), dan mendapat informasi.



Mengukur kecepatan membaca


Kecepatan membaca= Jumlah kata yang dibaca            x 60
                                    Jumlah detik untuk membaca

Misalnya jumlah kata yang dibaca 2000 kata dalam waktu 400 detik, maka kecepatan membaca adalah:
2000    x 60 = 300 kpm (kata per menit)
400

Menulis Ringkasan

Ringkasan merupakan penyajian singkat dari suatu karangan asli. Hal yang perlu diperhatikan dalam membuat ringkasan adalah tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang pengarangnya.Tujuan membuat ringkasan adalah untuk memahami dan mengetahui isi sebuah karangan atau buku. Latihan membuat ringkasan akan membimbing dan menuntun kamu agar dapat membaca karangan asli dengan cermat dan bagaimana harus menuliskannya kembali dengan tepat.
Beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat ringkasan yang baik dan teratur adalah sebagai berikut.
Membaca Naskah Asli
Penulis ringkasan harus membaca naskah asli secara keseluruhan untuk mengetahui kesan umum dan maksud pengarang.

Mencatat Gagasan Utama
Semua gagasan utama atau gagasan penting dicatat atau ditandai.



Menuliskan Kembali
Penulis menyusun kembali suatu karangan singkat berdasarkan gagasan utama yang telah dicatat.

Ketentuan tambahan:
-Sebaiknya menggunakan kalimat tunggal.
-Bila mungkin kalimat disingkat menjadi frasa, frasa disingkat menjadi kata
-Buang semua paragraf yang bersifat pelengkap
-Pertahankan gagasan asli
-Bila mengandung dialog, ubalah ke bahasa tak langsung
-perhatikan panjang ringkasan yang dibuat




































Rangkuman diskusi/Notulen

Format Notulen diskusi adalah sebagai berikut:


                                    NOTULEN DISKUSI

Judul diskusi                           :  ______________________________________________

Pembicara                                :  ______________________________________________

Moderator                               :  ______________________________________________

Notulis                                                :  ______________________________________________

Waktu dan Tempat                 :  ______________________________________________

Acara                                       :  ______________________________________________

a.       Pembukaan            :  ______________________________________________
(Pembukaan dilakukan oleh moderator. Isi pembukaan adalah pemjelasan singkat tentang tata cara diskusi yang dilaksanakan.)

b.      Penyajian               :  ______________________________________________
(Bagian ini berisi rangkuman isi makalah yang dibawakan oleh pembicara)

c.       Tanya Jawab         :  ______________________________________________
(Bagian ini berisi tanya jawab yang dilakukan antara pembicara dan pesrta diskusi  Jalannya tanya jawab diatur oleh moderator.)

Kesimpulan                             :  ______________________________________________



                                                                                                            Notulis







                                                                                                            (nama)


Paragraf deduktif

Paragraf dengan kalimat utama di awal, kemudian diikuti oleh kalimat penjelas.

Contoh :

Beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional. Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku.


Paragraf induktif:

Kalimat utama terletak di akhir paragraf setelah kalimat-kalimat penjelas.

Contoh :

Jangan pernah belajar “dadakan”. Artinya belajar sehari sebelum ujian. Belajarlah muai dari sekarang. Belajar akan efektif kalau belajar kumpulan soal. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menjawab soal-soal di buku kumpulan soal. Mencocokannya, lalu menilainya. Barulah materi yang tidak dikuasai dicari di buku. Itulah beberapa tips belajar menjelang Ujian Akhir Nasional

Analisis Artikel

Sekolah Gratis, Pepesan Kosong
Moving class
Pendidikan yang Curang
Pendidikan yang Menyesatkan